
Suara berisik dari luar mengalihkan perhatian keluarga. Semua orang sedang berkumpul di rumah Tuan Aji. Bahkan, Tuan Tirta mendatangi sang menantu yang baru pulang dari rumah sakit beberapa jam lalu.
Brugh!
“Om! Akh!” Angkasa kaget sekaligus kesakitan saat tubuhnya mendadak bangkit dari sofa. Gerakan itu tercipta secara refleks tanpa ingat kondisi yang saat ini dialami. Myria di sampingnya sampai khawatir dan segera membantu duduk.
Seseorang terjatuh ke lantai karena didorong secara kasar. Pria itu terlihat kesakitan tetapi tidak bisa melawan. Ada dua pria bertubuh gempal di belakang sehingga membuatnya makin takut untuk berdiri.
Dua pria berwajah menyeramkan itu membuka jalan bagi satu orang yang masih tertinggal kemunculannya. Ternyata orang yang diberi jalan itu adalah Daniel.
Langkah Daniel langsung menuju Tuan Tirta. Dia tak mengindahkan wajah-wajah syok orang yang ada di ruang tamu. Sebagai tangan kanan Tuan Tirta, Daniel memang hanya fokus pada perintah, sekalipun perintah itu kadang di luar nalar.
Tubuh Daniel membungkuk begitu tiba di samping sofa yang diduduki Tuan Tirta. Pria satu anak itu berbisik sebentar dan dapat respons anggukan dari sang bos.
Nyonya Caroline, Nyonya Nasita, Tuan Aji dan Myria dibuat kebingungan. Namun, satu pun dari mereka tidak ada yang menyela pembicaraan rahasia Tuan Tirta dan Daniel.
“Ayah.” Setelah Daniel menegakkan punggung, Myria baru meminta penjelasan. Melihat wajah pria yang dibawa Daniel terasa tak asing baginya.
“Dia pelakunya. Ayah dari mantan pacar suamimu, Myria.”
__ADS_1
Tenggorokan Myria seolah tercekik. Tatapannya langsung menoleh pada Angkasa sebagai tanda keheranan. Akan tetapi, bukan penjelasan yang wanita itu dapat, melainkan wajah memprihatinkan sang suami dalam menahan sakit.
“Kita ke kamar istirahat.” Tak tega melihat Angkasa meringis terus-menerus, Myria memilih pergi. Urusan di ruang tamu biar diselesaikan Tuan Tirta dan yang lain. Myria tak ingin mendengar apa pun saat ini.
“Biar Sakti yang ngejelasin sama kamu kalau penasaran,” kata Angkasa di sela perjalanan menuju kamar.
Myria membisu. Erika seperti momok baginya meski tahun-tahun telah berlalu. Ingatan wanita itu memang tajam, apalagi pada hal-hal menyakitkan.
“Bukannya dia masih di lapas?” Pertanyaan Myria terlontar begitu tiba di kamar. Dua mata indahnya tiba-tiba enggan menatap sang suami.
Angkasa menahan tangan sang istri yang sedang menyelimuti. Sikapnya itu berhasil membuat Myria menoleh. “Sorry,” kata Angkasa dengan suara lirih.
“Harusnya belum.” Helaan napas kuat-kuat keluar dari bibir Angkasa. “Masa hukuman dulu 12 tahun, tapi nggak tahu juga kalau dapat remisi banyak.”
“Duit ayahnya banyak, pasti banyak juga yang bisa dilakuin.”
“My ….” Menyadari perubahan sikap Myria, Angkasa berusaha menenangkan. Kebodohan di masa lalu, tidak pernah sekalipun terpikirkan akan sampai separah ini.
“Jangan banyak mikir. Istirahatlah.”
__ADS_1
“Kamu marah, kan? Ayah Erika cuma ngincer aku, bukan kamu. Nunggu Sakti kelamaan, biar aku jelasin sekarang.”
Myria membisu. Hanya tangannya saja yang kembali sibuk membenarkan selimut.
“Dua orang sengaja dibayar sama ayah Erika buat jadi penyusup di pabrik dan ngebakar gudang kemarin. Target utamanya cuma mancing aku keluar dari rumah biar bisa nyelakain. Kata Sakti, motif beliau karena nggak rela lihat aku bahagia ni ….”
“Ayah Erika nggak rela kamu nikah sama aku? Beliau masih ngarep kamu sama anaknya yang cantik dan seksi itu, kan?” Myria menyambung cerita sendiri saat Angkasa menggantung ucapan. Dari penjelasan suaminya, wanita itu tahu bahwa masa lalu terus meneror karena tidak ada sikap penerimaan dari pihak Erika.
Bibir Angkasa terkatup. Sebaik-baik perempuan, memang akan selalu dihiasi kecemburuan. Angkasa berusaha memaklumi itu dan hanya bisa mengalah.
“Sorry.” Permintaan maaf kembali dilakukan oleh Angkasa. Dia tatap istrinya dengan sorot mata sendu, tetapi terkesan percuma karena Myria abai. “Tapi kamu juga tahu kalau aku udah nggak ada rasa sama Erika dari dulu.”
“Separah apa kamu pacaran sama dia dulu sampek dia sulit banget lepasin kamu gini, Ka? Emangnya nggak ada pria lain yang lebih dari kamu? Udah berapa tahun kejadian itu berlalu? Tapi masih terus dikejar gini. Jangan-jangan kamu udah ngambil sesuatu yang berharga dari Erika waktu masih pacaran?”
Perkataan Myria menghadirkan tegang di seluruh otot. Dua mata hitam Angkasa mendelik bercampur ekspresi wajah terkejut. Pegangan tangan pria itu terlepas secara langsung.
Respons Angkasa membuat wajah Myria terangkat. Matanya memicing curiga. Beberapa detik dia amati ekspresi Angkasa, lalu timbul pikiran-pikiran buruk.
Bibir mungil yang ada di balik cadar itu bergetar saat ingin berucap. Mata Myria mengembun tiba-tiba. “Ja-jangan bilang ka-lau kamu waktu nakal itu sampek bablas tidur ama Erika, Kasa."
__ADS_1