Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 78


__ADS_3

Dua mata Myria melebar. Pelukannya merenggang dan menatap Faiza lekat-lekat, sedangkan mantan seniornya di kantor itu hanya menunduk sembari menangis pilu.


“Lepasin aku, My. Biarin aku dapet apa yang ibu mertuaku pengin.”


Myria menggeleng. “Nggak! Nggak bisa! Dia bisa nyakitin kamu.”


“Kalau dengan nyakitin aku beliau bisa tenang, aku nggak pa-pa.”


Omongan Faiza makin membuat Myria tercengang. Setelah hampir dua tahun tidak bertemu, mengapa Faiza terlihat berbeda?


Dahulu, meski tak lama bersama, Myria bisa menebak Faiza sosok yang pandai membawa diri. Faiza terlihat begitu tenang dan penyayang di mata Myria, tetapi sekarang justru terkesan telah putus asa.


“Za, Allah ngelarang makhluk buat nyakitin diri sendiri. Salah apa enggak, kamu berhak menyelamatkan diri.”


“Aku nggak pa-pa beneran.” Faiza menarik dirinya perlahan. Ada ngilu tertahan saat bergerak karena bekas operasi kemarin malam. Wanita itu belum pulih total, tetapi sang mertua sudah datang membawa keributan.


“Ma, aku minta maaf kalau semua salah aku. Aku juga sedih kehilangan Mas Ramdan, tapi aku nggak bisa lakuin apa pun.”


Wanita bergamis bunga-bunga yang tadi mengamuk itu menatap benci. Beliau nyaris mendekat pada Faiza, tetapi sudah ditahan lagi oleh orang-orang. “Ingat, ya, kamu itu tidak lebih dari perempuan pembawa sial!”


“Astaghfirullah, Nyonya.” Myria yang menyahut. “Faiza juga ciptaan Allah, tega sekalil Anda bicara seperti itu?”

__ADS_1


Dalam badai kesedihan dan kebencian yang menyatu di dada, memang tidak semua orang bisa terima nasihat, termasuk ibu mertua Faiza. Wanita itu tidak peduli sedikit pun atas ucapan Myria dan justru ikut mengarahkan tatap kebencian yang sama. “Kamu tidak tahu apa pun! Saya tidak butuh nasihat dari anak kecil sepertimu!”


Angkasa yang menahan diri sejak tadi akhirnya turun tangan. Pria itu menggulung lengan kemeja dan mendekati sang istri. Direngkuhnya bahu Myria, lalu menyela. “Maafkan istri saya, Nyonya.”


Mata Myria membulat mendengar ucapan Angkasa. Dia mendongak, tetapi diabaikan sang suami.


Angkasa lanjut berkata, “Istri saya memang tidak tahu apa pun. Tapi ucapan Nyonya dengan nada tinggi menyinggung hati saya sebagai suaminya. Tolong, apa pun itu masalah, bisa dibicarakan baik-baik. Saya tahu Anda sedang bersedih dan tidak terima dengan takdir putra Anda sehingga mencari pelampiasan. Tapi, perlu saya sarankan juga kalau semua ini sudah ketetapan Sang Pencipta. Mau seperti apa pun Anda marah, Anda memaki atau yang lain, putra Anda tidak akan kembali.”


Ruangan mendadak hening. Angkasa masih berusaha setenang mungkin. “Ada baiknya daripada memarahi menantu Anda, lebih baik berdoa untuk almarhum. Memang di dunia ini tidak akan ada yang siap ditinggalkan oleh orang tercinta, tapi Allah selaku pemilik segalanya tidak bisa kita tentang. Saya tahu ikhlas itu tidak mudah, tapi coba lampiaskan kesedihan Anda dengan hal yang lebih bermanfaat. Di sini bukan hanya Anda yang sedih, Faiza juga.”


Kaimat panjang lebar dari Angkasa mampu membungkam mulut siapa saja yang masih di sana. Ibu mertua Faiza akhirnya diam dan tidak berkomentar lagi. Wanita itu pergi tanpa pamit atau mengatakan yang lain.


Semua orang yang sempat berkerumun langsung diusir perawat, tersisa Sakti dan Nyonya Nasita yang masih ada di ambang pintu. Dua orang itu akhirnya ikut masuk agar bisa melihat kondisi Faiza.


“Za ….” Myria mendekati ranjang sembari menggeleng. “Apa yang sebenarnya terjadi sampek kamu gini?”


Faiza mengganjur napas setelah mendengar pertanyaan Myria. Dia kembali menitikkan air mata dan langsung diseka. “Kemarin malam, aku sama suami kecelakaan, My. Ada truk melaju kencang dari arah berlawanan dan menabrak secara brutal. Mas Ramdan nggak sempat ngehindar karena semua itu spontan terjadi. Sebenernya ada satu mobil di depan kami yang nyaris ketabrak lebih dulu, tapi Allah masih nyelamatin mobil itu. Pengemudinya belok kiri dan kami yang di belakang kaget. Abis itu, aku nggak bisa jelasin. Kejadian itu cepet banget rasanya.”


Kaki Myria terasa lemas mendadak dan tubuhnya nyaris terkulai di lantai. Namun, beruntung Angkasa sigap menangkap.


Tak hanya Myria, Angkasa dan Sakti sama-sama terperanjat mendengar kronologi pengalaman Faiza.

__ADS_1


Dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca, Myria bertanya, "Za, a-apa kamu ibu hamil yang digotong perawat ke ambulan itu?"


Faiza menoleh keheranan. "Kamu tahu aku? Apa kamu ada di sana waktu itu?"


"Kalau kecelakaanmu di jalan deket pintu tol dan waktunya tengah malam ... iya, aku di sana. Mobil yang di depanmu terus nabrak pembatas jalan itu mobil Sakti. Aku di dalamnya."


Penuturan Myria membuat dua mata Faiza membulat penuh. "Ya Allah, Myria. Kamu juga korban kecelakaan itu?"


"Iya." Jawaban Myria membuat Faiza makin menangis. Dua perempuan itu akhirnya berpelukan tanpa melanjutkan pembicaraan.


Angkasa berdiri tenang di belakang istrinya, sementara Sakti dan Nyonya Nasita diam sedari tadi.


Melihat kondisi tidak kondusif, perawat menengahi. "Nyonya, Tuan, mari kita keluar. Biarkan Nyonya Faiza istirahat."


"Ta-tapi ...."


"Ssstt ...." Angkasa memenjarakan Myria dalam rangkulan. "Sakti, kamu, Faiza dan juga Mama butuh istirahat. Jangan berpikir macam-macam."


Myria nyaris protes, tetapi Faiza lebih dahulu menyetujui perkataan perawat dan Angkasa. Wanita itu berjanji akan menghubungi Myria nanti setelah cukup istirahat.


Mau tak mau, Myria setuju. Seiba apa pun pada Faiza, dia harus tahu batasan.

__ADS_1


Ruangan kembali sepi setelah semua orang pergi. Faiza menerawang jauh dan masih meratapi kepergian sang suami. "Harusnya kamu lihat anakmu tumbuh, Mas. Sakit. Sakit banget hati aku, kamu tinggal gini. Aku nggak punya siapa-siapa lagi. Harus apa aku sekarang?"


__ADS_2