Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Monica merasa geram


__ADS_3

Aku mendengar ada suara yang mengetuk pintu dari luar. Aku pun segera berlari ke arah pintu dan membukanya. Setelah Aku membuka pintu, Aku terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang Aku lihat di depan mataku. Aku melihat anakku kembali dari dekat. Ya, Tuhan.. ini seperti mimpi bagiku. Ingin sekali rasanya Aku memeluk Binar anakku. Karena Aku sangat merindukannya. Namun, ini tidak bisa Aku lakukan. Karena sekarang posisiku bukan sebagai Monica disini. Posisiku sebagai Mona.


Aku merasa heran, mengapa Binar bisa datang ke sini dan ingin bertemu dengan Namira. Ingin sekali Aku bertanya kepadanya Namun, Aku tidak bisa untuk bertanya kepada Binar. Aku takut Binar curiga terhadapku. Aku pun hanya menurut saja apa permintaan Binar. Aku pun memanggil Namira dari kamarnya.


"Permisi non.." Ucapku.


"Ada apa Bu?" Tanya Namira kepadaku.


"Ada yang ingin bertemu dengan Non Namira.." Ucapku.


"Ada yang ingin bertemu Aku? Siapa Bu Mona?" Tanya Namira kepadaku.


"Ibu ga tau Non.. dia sudah menunggu di ruang tamu.." Jawabku.


"Baiklah bu Mona.. saya akan segera menemuinya.." Ucap Namira.


Aku melihat Namira segera turun dan menemui tamunya. Namira tampak terkejut melihat kedatangan anakku. Dan Namira pun akhirnya bertanya kepada Binar.


Aku tidak suka melihat Namira yang begitu ketus terhadap Binar. Dari kata-kata Namira yang menyinggung Binar, Aku merasa tidak Terima anakku diperlakukan tidak baik olehnya. Aku rasa tujuan Binar datang kesini adalah dengan cara baik-baik. Secara tidak langsung iya telah mengungkapkan siapa sebenarnya suaminya kepada Namira.


Dan menurutku Binar itu benar, bahkan dia sampai memberikan sebuah bukti kebejatan suaminya. Secara tidak langsung, suami Namira sudah melecehkan anak saya. Mungkin benar apa yang dikatakan Binar, mereka telah bermain gila dibelakang Namira.


Kalau tidak, ga mungkin juga Binar memberikan bukti segala kepada Namira. Mungkin Binar ingin meminta pertanggung jawaban kepada suami Namira. Hanya saja Namira tidak ingin berbagi suami dengan Binar.


Hatiku sangat sakit ketika Namira memaki anakku dan mengatakan anakku adalah perempuan gatel. Ingin rasanya Aku menampar wajah Namira. Tapi, untuk saat ini tidak bisa Aku lakukan. Ya, Tuhan.. kenapa Aku tidak dapat menolong anakku disaat anakku dihina?

__ADS_1


Tapi, ga apa-apa. Mungkin untuk saat ini Aku membiarkan Namira untuk bersikap semena-mena terhadap anakku. Tapi, suatu saat, Aku tidak akan membiarkan Namira semena-mena lagi terhadap anakku. Aku harus cepat-cepat membalas perbuatan Namira terhadap keluargaku. Gara-gara dia keluargaku jadi berantakan.


Ya, Tuhan.. hatiku sakit di saat anakku diusir dari rumah ini. Padahal kan rumah ini akan menjadi rumahnya juga suatu saat. Namira benar-benar keterlaluan.


Iya, Aku tau apa yang harus Aku lakukan sekarang. Aku harus segera menjalankan misi Aku. Agar dendam yang Aku pendam cepat terkabul.


...****************...


Sore hari, Aku melihat Namira sedang duduk termenung lagi. Aku yakin pasti dia sedang memikirkan suaminya. Dia pasti tidak rela jika suaminya diambil orang lain. Lebih baik Aku pun segera menghampirinya. Aku pun segera menghampiri Namira.


"Sore Non.." Sapa ku kepada Namira.


"Eh.. ibu Mona.. sore juga bu.." Jawabnya.


"Enggak, siapa yang melamun bu? Aku ga melamun.." Ucapnya mengelak. Dan Aku pun mulai memberikan diri bertanya kepada Namira.


"Oh iya non.. sebelumnya saya minta maaf non.. tadi saya sempat mendengar percakapan non Namira dengan tamu tadi itu.. emangnya benar ya non.. tuan Malik seperti itu?" Tanyaku berniat lancang.


"Oh.. maksud Ibu Mona, si Binar? Ga usah dipikirin lah Bu.. Dia itu pembohong besar.. Aku tau dia cuma memfitnah orang saja kerjaannya.. Aku tau kok tujuan dia kesini menyebarkan berita bohong kayak gitu.. supaya Aku dan suami Aku itu berantem.." Ujar Namira.


Kurang ajar. Berani sekali dia mengatakan anakku seorang pembohong besar. Sementara dirinya sendiri apa? Dia juga pembohong besar. Dia menutupi hubungan masa lalunya dengan Rival. Buktinya, pernikahan anakku gagal gara-gara perempuan ****** ini.


"Non.. maaf.. bukannya ibu mau ikut campur urusan non Namira.. kalau non Namira ada masalah apapun, non Namira jangan sungkan-sungkan untuk cerita kepada saya non.. saya siap mendengarkan kok.. daripada non Namira melamun sendirian, dan kesambet bagaimana?" Ucapku. Namira hanya tersenyum kepadaku. Lalu iya berkata.


"Iya bu.. Aku ga apa-apa kok.. ga ada yang mau dipikirkan juga.." Ucapnya.

__ADS_1


"Maaf non.. sekedar berbagi pengalaman saja.. Sebaiknya, non Namira jangan terlalu percaya sama laki-laki non.. meskipun itu suami sendiri.. karena laki-laki itu kadang sulit dipercaya. Apalagi, kalau laki-laki itu punya masa lalu, dan masih menyimpan kenangan masa lalunya itu berati dia tidak bisa melupakan masa lalunya itu.


Kalau pun iya memiliki pasangan yang sekarang, pasti iya hanya dijadikan pelampiasan. Dan ga benar-benar mencintai pasangannya itu non.. Dan dia pun pasti akan selingkuh non.." Ujar Monica.


"Maksud Ibu Mona apa? Maksudnya suami saya selingkuh gitu di belakang saya?" Tanya Namira.


"Saya ga mengatakan suami nona selingkuh.. tapi, lebih baik nona waspada aja.." Ujar Monica.


"Oh.. gitu ya.. ya, sudah terimakasih atas sarannya ya?" Ujar Namira. sambil mengulas senyum. Monica merasa jengkel dengan Namira karena Namira sama sekali tidak mempan untuk dihasut. Tapi, Monica akan berusaha terus untuk menghasut Namira sampai Namira percaya dengannya.


"Iya non.. Ibu cuma kasian sih.. sama non Namira.." Ujar Monica.


"Oh.. iya bu.. terimakasih sudah mau perhatian sama saya.." Ucap Namira. Daripada emosi, Monica pun langsung pergi ke belakang.


Di dapur, Monica merasa jengkel dengan kelakuan Namira. Iya merasa, bahwa Namira tidak pernah sopan dalam berkata-kata.


Ah sial.. kenapa sih Namira itu sangat sulit untuk di hasut? Kenapa dia lebih mudah percaya dengan laki-laki ketimbang perempuan? Awas aja kamu Namira.


Atau, Aku atur saja rencana ku.. Aku tidak akan menghasut Namira saja. Tapi, Aku juga akan menghasut suaminya. Aku pastikan akan mengadu domba mereka berdua. Sampai pada akhirnya mereka bertengkar dan rumah tangga mereka akan berantakan." Ujar Monica kepada dirinya sendiri.


...****************...


Setiap hari Monica melihat kemesraan Namira dengan Malik. Terlihat Malik sedang mengelus perut Namira. Namira pun tersenyum karena diperhatikan oleh suaminya. Monica semakin geram dengan keromantisan mereka.


"Alay banget mereka berdua. Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Aku harus bertindak sesuatu. Harusnya yang bahagia sekarang adalah anakku. Harusnya Aku yang merindukan kehadiran seorang cucu. Bukan malah si Namira. Atau Hanifah yang bahagia seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2