Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 82


__ADS_3

Pertanyaan Myria membekukan perhatian Angkasa. Pria berkaus putih oversize itu menatap sang istri tanpa berkedip. Dicarinya gelagat bercanda dari paras Myria, tetapi pria itu tidak menemukan sedikit pun.


Rangkulan melonggar, Angkasa membuang muka dan mengatupkan bibir. Pikirannya tak sampai kali ini untuk menafsir kemauan sang istri.


“Ka.”


“Aku nggak bakal turuti kemauanmu yang itu.” Angkasa menjawab cepat tanpa berpaling. Pandangannya masih lurus ke depan dengan sorot mata menajam. Dia tidak akan pernah lupa pesan Tuan Tirta saat menikahi Myria, mana mungkin akan membagi hati pada perempuan lain.


“Kenapa? Poligami, kan, nggak dosa?”


“Dosa kalau nggak bisa adil.” Aroma perdebatan mulai tercium. Hal itu terlihat dari cara bicara Angkasa dalam menyangkal pendapat istrinya, cepat dan tegas.


“Tapi aku yakin kamu bisa adil.”


Nyatanya, kata-kata Myria selanjutnya tidak menenangkan hati sama sekali. Wanita itu masih berusaha mengingatkan dan memberi dukungan keyakinan.


Kesabaran Angkasa diuji. Pria itu menarik tangan dari balik punggung  Myria, sehingga mencipta jarak. “Dosaku banyak, Myria. Kalau sama kamu aja aku belum bisa menjamin surga, buat apa aku nambah tanggungan lagi? Poligami bukan cuma soal keadilan harta atau cinta, tapi soal hisabku di akhirat. Aku ngerasa udah banyak banget hal yang perlu dihisab dariku.”


Suara Angkasa mulai hilang timbul. Dadanya naik turun mengatur napas dan emosi agar tidak meledak. “Semua hal, mulai dari posisi pimpinan di perusahaan, posisi anak di keluarga, dan posisi suami. Aku takut, Myria. Aku takut jadi suami zalim sekalipun kamu yang minta dimadu. Jangan katakan itu lagi. Apa kamu nggak cukup hidup denganku?”

__ADS_1


Pendapat panjang lebar dari Angkasa membungkam Myria. Ucapannya yang sempat menuntut, kini lenyap total sehingga mencipta keheningan. Myria menatap lekat-lekat dua mata sang suami yang terlihat sendu dan kehilangan pancaran kebahagiaan. Dia termangu beberapa detik, sebelum akhirnya sadar bahwa permintaannya menghadirkan luka.


“Ka … maafin aku.” Tubuh berbalut lingerie hitam itu maju dan mendekap Angkasa. Dua tangannya terselip di antara lengan sang suami.


Angkasa terdiam beberapa saat tanpa membalas pelukan. Dia masih berusaha mengontrol diri dan menormalkan detak jantung.


“Kasa, maaf.” Dirasa tak dapat tanggapan, Myria mengulang perkatan. Malam ini, dia tak akan bisa tidur jika sang suami memusuhi. “Aku cuma pengin kamu punya penerus keluarga, Ka. Sekalipun ada anak di keluarga kita yang bukan dari rahimku, aku tetep bakal sayang sama dia.”


Pening kepala Angkasa mendengar kemauan Myria. Dia memejam dan menarik napas dalam untuk tetap sabar. Diam lebih baik saat ini daripada terjadi pertengkaran malam-malam. Badannya juga letih, sehingga tak banyak daya untuk berdebat.


Angkasa menarik Myria dari pelukan. Tangan kirinya menyangga dagu sang istri agar mendongak. Dikecupnya bibir merah muda yang lembap itu penuh kelembutan. “Aku maafin kamu.”


“Apa aja yang kamu lakuin akhir-akhir ini sampek punya pikiran poligami? Kamu lupa sama Ayah? Aku nggak mau kita dipisahin lagi. Cukup dulu aja, Sayang. Aku nggak janji bisa kuat kalau pisah sama kamu lagi. Tolong, aku minta tolong sama kamu kali ini buat ngertiin perasaanku. Aku baru bisa tidur lebih nyaman sejak kita nikah, Habibati. Aku tetep pengin tinggal di rumah sama keluarga tanpa harus pindah rumah sakit jiwa. Cukup dulu, sekarang jangan.”


Myria mengubur angan-angannya sesaat. Kesehatan Angkasa memang sepertinya poin penting di sini. Terlalu sibuk dan terobsesi untuk segera memiliki anak, tanpa sadar melupakan bahwa suaminya pernah gangguan jiwa. Egois jika dirinya terus memaksa Angkasa untuk menikah lagi.


Malam itu berlalu dengan keadaan berbeda dari malam-malam biasa. Angkasa yang selalu terpejam setelah memastikan Myria lelap, kini justru langsung tidur dan meninggalkan Myria yang masih terjaga. Bahkan, ketika bangun dini hari dan usai menjalankan qiyamul lail bersama, pria itu tak banyak bicara.


Menyadari perubahan sang suami, selepas subuh ketika Angkasa baru pulang dari masjid, Myria menarik pria itu ke sofa. Diberikannya perhatian penuh dengan sorot mata mengiba kala bertanya, “Kamu marah sama aku?”

__ADS_1


Angkasa menggeleng. “Ngapain marah?”


“Soal kemarin malam.”


Bibir kembali rapat. Angkasa mengamati wajah sang istri cukup lama. Tatapannya begitu dalam seakan-akan mampu menenggalamkan bayang sang istri. “Jangan bahas lagi. Pergi sana ke dapur dan bikin sarapan.”


Tak ada penolakan. Meski tak puas dengan jawaban Angkasa, Myria lekas ke dapur dan menyiapkan sarapan, sementara suaminya pergi ke ruang kerja untuk mengecek ulang pekerjaan.


Jam di ponsel berada di angka delapan, dua insan itu ke luar dan siap beraktivitas. Namun, saat baru selesai mengunci pintu, ponsel Myria berdenting.


Wanita bergamis hitam itu memeriksa pesan masuk kala dirinya telah pindah duduk di mobil. Khawatir ada yang penting, tak ada salahnya membaca sebentar. Senyum terbit di bibir Myria begitu melihat isi pesan yang masuk ponselnya. “Alhamdulillah, masyaallah, baru kemarin malem diomongin, udah lahir beneran.”


Urung menyalakan mesin mobil, Angkasa menengok ke arah Myria. Pria itu mendekat sebelum memasang sabuk pengaman. “Friska lahiran?”


Myria mengangguk antusias, tak lupa pula menunjukkan foto bayi mungil dari ponselnya. “Ini! Lucu, ya. Aku mau ke sana.”


Satu tangan Angkasa menggenggam tangan sang istri. Pria berblazer hitam itu menggeleng.


Keceriaan Myria lenyap dan berganti tatap kebingungan. “Kenapa?”

__ADS_1


__ADS_2