Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 25


__ADS_3

“Halo, iya. Waalaikumussalam, Sayang. Kenapa? Maaf Mama tadi tidak pegang hape, lagi ngobrol bersama Papa. Kebetulan Papa pulang makan siang ini tadi. Jadi Mama menemai dan baru lihat panggilan dari kamu, Nak.”


Myria mengembuskan napas setelah dapat jawaban dari Nyonya Nasita. Sudah tiga kali dia lakukan panggilan sejak tadi, tetapi tidak ada jawaban. Saat menyerah, ternyata Nyonya Nasita ganti yang menghubungi.


Arah pandang Myria pindah menuju ke bunga tulip yang selalu menghiasi meja kerjanya. Jemari lentiknya mengetuk-ngetuk vas berbahan kaca tersebut.


“Bunda, Myria mau ngerepotin.” Empat kata terucap pelan. Myria menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Hati wanita itu berdoa semoga saja Nyonya Nasita bisa diajak berkompromi. Dia rela memakai jam istirahatnya untuk menelepon, padahal teman-teman lain sudah turun ke kantin.


“Myria mau ngerepotin apa? Mama tidak akan keberatan asal bisa bantu kamu.”


Lega mendengar jawaban Nyonya Nasita. Meski tidak tahu respons Angkasa, paling tidak sekarang ada sedikit celah untuk menjabarkan kesalahpahaman mengenai Andreas.


Dengan penuh kehati-hatian, Myria mulai menceritakan semua dari awal hingga akhir, sementara Nyonya Nasita terus mendengar.


“Kamu tidak sedang bercanda, Nak?” tanya Nyonya Nasita di ujung pembicaraan.


“Benar, Bunda. Myria enggak seperti yang dipikirkan Angkasa. Tapi dia malah marah-marah dan merasa benar sendiri. Myria kesel, Bun, sama dia.” Niat awal hanya bercerita, tetapi Myria justru terisak saking penuhnya dada akan beban sejak kemarin. Diabaikan Angkasa atas dasar kesalahpahaman memang menyesakkan hati, apalagi tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk melakukan pembelaan.


Meski sempat kaget dengan penuturan  Myria, Nyonya Nasita berusaha tenang. Beliau berkata dengan nada lembut, “Kamu sudah coba jelaskan lagi pada Kasa hari ini? Mungkin kemarin malam dia juga kelelahan, jadi emosinya tidak terkontrol.”


Satu tangan Myria menjauhi vas dan pindah menarik tisu. Kemudian, dia menyeka dua mata yang masih berair. “Myria nggak lihat Kasa hari ini, Bunda. Bukannya dia di rumah?”


“Lhoh, di rumah? Dari kemarin dia tidak pulang, Myria. Pagi tadi Mama telepon Kasa, dia memang menginap di rumah Sakti. Katanya kecapaian. Berhubung rumah Sakti jaraknya lebih dekat dengan kantor, dia ke sana. Tapi Kasa tidak bilang kalau hari ini meliburkan diri.”


Ganti Myria yang bingung. “Tapi Myria beneran nggak lihat Kasa dari pagi, Bunda. Sejarang-jarangnya dia keluar dari ruangan, Myria masih bisa lihat waktu dia dateng. Atau kalau nggak waktu salat tiba. Kalau waktu duha juga ke musala, kok. Hari ini belum lihat sama sekali.”


“Aneh.” Nyonya Nasita menggumam pelan. Dia mulai menarik kesimpulan ada sesuatu yang ditutupi. Putranya bilang menginap di rumah Sakti karena lelah. Lantas, selelah apa Angkasa sampai harus cuti mendadak tanpa bercerita sama sekali.

__ADS_1


“Bunda, masih dengar Myria?” Myria bertanya memastikan bahwa panggilan masih tersambung.


“Ya, Sayang. Mama dengar. Itu, kalau Sakti bagaimana? Apa dia ada?”


“Sakti ….” Ada keraguan pada Myria saat ingin menjawab. Pasalnya, dia juga belum melihat pria itu sejak pagi. “Myria juga nggak tahu, Bun. Tapi tadi Pak David sempat ke ruangan Sakti, pasti ada orangnya, kok.”


Tulang rahang Nyonya Nasita mengetat usai mendengar. Benar-benar Angkasa membuat kesabarannya sedikit tergerus. Apa yang diperbuat anaknya itu sampai harus berbohong seperti ini? Pasti ada yang tidak beres.


“Oh, ya, sudah, Nak. Nanti Mama bantu kamu buat masalah ini. Tapi Mama harus kasih pelajaran dulu pada anak bandel itu kenapa tiba-tiba menghilang begini. Kamu bisa kerja lagi sekarang, Mama yang akan bicara sendiri pada Kasa dan Sakti. Jangan terlalu dipikirkan, ya.”


Ada embusan napas lega keluar dari bibir Myria. Hati yang awalnya terasa sempit, kini perlahan meluas karena beban sedikit berkurang. Dia mengangguk setuju lantaran terima saran ibu mertua. “Baik, Bunda. Maafin Myria udah nyusahin cuma masalah begini. Tapi Myria bingung, Bun, mau minta tolong siapa.”


“Iya, iya. Mama paham, sudah tenang dulu, sabar. Tunggu kabar dari Mama lagi setelah Mama bicara pada Angkasa.”


Sekali lagi Myria megiyakan. Dia lantas memutus panggilan selepas mengucap terima kasih dan salam perpisahan. Teman-teman yang tadi beristirahat mulai memasuki ruangan pertanda pekerjaan harus segera dilanjut.


“Ah, sudahlah. Nanti saja tunggu kabar dari Bunda.” Pekerjaan lebih penting, Myria abaikan sejenak beban pikiran karena harus professional seperti apa yang dibilang Angkasa kemarin malam. Dia tidak mau penilaian mantan suaminya itu berubah lebih buruk lagi.


Jam pulang kantor, Nyonya Nasita sudah meminta Tuan Aji pulang lebih cepat dari biasanya. Sang suami sempat heran, tetapi mengalah karena kebetulan tidak ada lagi pekerjaan penting di Kalastra Group.


Masih dengan pakaian kerja, langkah Tuan Aji terpaksa berhenti saat melihat istrinya menenteng tas di ruang tamu. “Mama mau ke mana sebenarnya? Papa sampai meninggalkan pekerjaan pada Daniel karena khawatir.”


Tak sempat bercerita banyak, Nyonya Nasita memberi tawaran pada sang suami. “Mama ingin ke rumah Sakti. Apa Papa mau ikut? Tapi Mama sarankan Papa ikut biar anak kita yang tinggal satu itu tahu diri.”


“Mama bicara apa, Ma? Papa bingung.” Dapat tarikan dari sang istri, Tuan Aji tetaplah pasrah. Beliau melangkah ke luar lagi meski belum sempat duduk barang sejenak.


Mobil melaju dan ikut bergabung bersama padatnya kendaraan lain di jalan raya. Tuan Aji diam selama mengemudi, tetapi kadang melirik sang istri. Tenaga beliau belum pulih, nanti saja bertanya saat raut kecemasan dari wajah Nyonya Nasita telah memudar.

__ADS_1


Klakson dibunyikan Tuan Aji ketika sampai di Kediaman Pradana. Entah Sakti sudah pulang atau belum, beliau tetap izin masuk.


Gerbang tinggi itu akhirnya dibukakan sang penjaga. Tuan Aji menurunkan kaca sembari menyapa. “Tuan Pradana ada?”


Penjaga berkaus biru itu membungkuk. Dari luar jendela, pria itu berkata, “Tuan dan Nyonya sedang keluar negeri, Tuan. Hanya Tuan Muda yang ada.”


“Tapi kami boleh masuk, Pak? Saya ingin ketemu dengan Sakti.” Tubuh Nyonya Nasita ikut maju sedikit. Beliau menyela pembicaraan karena sudah tidak sabar menemukan keberadaan sang anak.


“Oh, iya, Nyonya. Tunggu saja di ruang tamu.”


Setelah memarkir kendaraan, Nyonya Nasita turun. Bersama Tuan Aji, wanita itu mengetuk pintu dan tanpa menunggu lama sudah dibukakan seseorang.


“Mama!” Angkasa berjingkat. Tangannya yang memegang handle pintu langsung luruh begitu saja. Dia refleks menyembunyikan tangan kirinya yang terbalut perban.


“Kasa! Apa yang terjadi denganmu?”


Angkasa menggeleng kuat. Bibirnya mengatup sempurna dengan dada naik turun. Habis sudah kesempatan hidupnya kali ini, apalagi ada sang ayah yang turut memberi tatapan intimidasi.


“Ma–Mama sama Papa ke–kenapa bisa kemari?”


“Jawaba pertanyaan Mama! Apa yang kamu sembunyikan?” Nyonya Nasita terlalu tangkas dalam bergerak. Wanita bertunik maroon dengan rok A-line itu menarik lengan Angkasa secara paksa hingga mengundang jeritan dari sang putra.


Saking kerasnya teriakan Angkasa, para pekerja yang ada di rumah belakang langsung berlarian mendatangi, sementara Sakti yang baru tiba ikut berlari ke dalam.


Lutut Sakti langsung lemas melihat kehadiran Tuan Aji dan Nyonya Nasita. Helm di tangan yang tidak seberapa, kini terasa begitu berat hingga tak mampu dibawa dan berakhir terjatuh ke lantai. “O–Om, Tante ….”


Dua orang tua itu berbalik dan langsung memberi tatapan tajam pada Sakti.

__ADS_1


Mampus gue!   


__ADS_2