
Sakti berjingkat dan langsung duduk. Dia hampir bangkit dari tempat tidur saat mendengar pecahan gelas. Baru saja kesadaran hilang dalam hitungan menit, tetapi sudah dikejutkan mendadak.
“Kasa, kamu tidak pa-pa, Nak?” Sama seperti Sakti, Nyonya Nasita ikut panik. Beliau tadi berniat mengantar potongan buah untuk Sakti dan Angkasa, sehingga tidak menyangka kedatangannya menimbulkan kekagetan. “Maafin Mama kalau bikin kamu kaget.”
“Enggak, Ma.” Angkasa berjongkok. Dia hendak memunguti pecahan gelas yang telah mengotori lantai. “Aku aja yang nggak waspada.”
“Biarkan di situ pecahannya, nanti Mama bereskan. Kamu bawa piring ini saja buat camilan.”
“Nggak perlu, Ma, ini udah selesai.” Angkasa berdiri, lantas memberi jalan pada ibunya agar masuk dan menaruh makanan ke meja. Setelah itu, dia turun ke dapur bersama Nyonya Nasita.
“Gimana perasaanmu? Sudah mendingan?” Di tengah perjalanan menuju dapur, Nyonya Nasita menanyakan kabar. Wanita itu berharap kehadiran Sakti sejak kemarin-kemarin, membawa pengaruh baik.
Angkasa mengangguk sebagai jawaban.
“Jangan tutupi apa pun dari Mama apalagi bohong hanya karena tidak ingin lihat Mama sedih, Kasa.”
Langkah terhenti, Angkasa menengok pada Nyonya Nasita. Kemudian, bibirnya mulai menyulam senyum tipis. “Enggak. Aku jujur. Udah mendingan, besok bisa kerja.”
“Biar Mama mengantarmu, jangan bawa motor dulu.”
Angkasa segera menolak. “Nggak perlu. Kalau Mama khawatir, ada Sakti yang jemput besok.”
Nyonya Nasita menghela napas pasrah, lalu ganti bicara lain. “Myria telepon Mama dari kemarin. Dia terus menanyakan kabarmu. Beri dia penjelasan sebaik mungkin saat bertemu agar tidak salah paham lagi. Soal pamanmu, Papa kemarin malam bilang kalau beliau ingin bicara empat mata malam ini. Jadi Papa pulang telat nanti.”
Wajah Angkasa menggelap. Senyumnya pudar seketika kala ibunya membahas Tuan Tirta. Ada sesak mendera hati kembali, tetapi tak bisa diungkapkan. Angkasa berusaha menyadarkan pikiran kala asumsi buruk mulai bermunculan.
Sampai dapur, Angkasa segera mengambil gelas dan minum air sebanyak mungkin. Nyonya Nasita yang menyadari perubahannya segera mendekat.
“Kasa, kamu butuh obat?”
Gelas diletakkan Angkasa dengan cukup kuat ke meja. Tiba-tiba napasnya tersengal seperti selesai olahraga. Meski sadar kondisinya mulai tidak stabil lagi, tetapi Angkasa menolak tawaran Nyonya Nasita. “Nggak, Ma. Bentar lagi membaik.”
__ADS_1
“Oke. Mama percaya, kalau sudah tenang, segera salat. Bangunkan Sakti buat ke masjid, azan udah berkumandang.”
***
Jam delapan malam, Tuan Tirta baru tiba di rumah. Semua orang sedang mengobrol di ruang tengah, kecuali Myria. Hubungan antara ayah dan anak itu sedikit keruh karena perkara kemarin. Myria enggan bicara pada orang rumah, sementara Tuan Tirta tidak mudah untuk menuruti kemauan Myria yang satu itu.
“Caroline, di mana Myria?”
Nyonya Caroline yang sedang berjalan menghampiri, menunjuk ke arah pintu kamar Myria tepat di bawah tangga. “Dia tidak keluar sama sekali.”
“Apa dia tidak makan?”
“Makanannya dibawa ke kamar.”
Demi memastikan ucapan sang istri, Tuan Tirta menengok Andreas yang duduk di sofa. Putra bungsunya itu mengangguk membenarkan.
“Myria masih marah pada Daddy,” kata Andreas tanpa takut meski wajah Tuan Tirta terlihat garang. “Dan aku maupun Mommy, ikut dimusuhi.”
Berbeda dari Myria yang sering lemah lembut penuh kasih sayang saat bicara pada Tuan Tirta, Andreas lebih berani. Pria pengangguran itu tidak takut pada Tuan Tirta sama sekali. Dia tumbuh dalam lingkungan berbeda sehingga sikap dan perilaku tidak akan sepaham.
“Aku bicara fakta. Apa sulitnya membiarkan Myria bersama mantan suaminya? Kulihat dia pria baik.”
“Andreas, shut up!” Nyonya Caroline memecah argument. Beliau tidak ingin putranya memperburuk keadaan, apalagi membuat Tuan Tirta yang baru pulang kerja tersulut emosi. “Daddy lelah, jaga ucapanmu.”
Wanita bergaun lilac itu berhasil menghentikan perdebatan kecil antara suami dan anak. Beliau lantas menarik jas yang sejak tadi di tangan Tuan Tirta. “Ayo ke kamar, aku bantu kamu membersihkan diri.”
Penat karena seharian bekerja, Tuan Tirta tidak menolak. Bersama sang istri, pria anak dua tersebut menaiki tangga untuk menuju kamar.
“Kamu tahu, Caroline.”
“Ya.” Pintu kamar baru tertutup sepenuhnya, Nyonya Caroline memutar badan dan mendekati sang suami yang hendak melepas kemeja. Tanpa diminta, wanita itu membantu secara sukarela karena sudah menjadi kebiasaan melayani Tuan Tirta.
__ADS_1
“Aku baru saja bertemu Aji.”
“Lalu, apa yang kamu dapat?”
“Sama seperti kemarin. Permintaan maaf atas nama ibunya. Setelah itu, dia katakan soal kondisi putranya.”
Pembicaraan Tuan Tirta mulai menarik perhatian Nyonya Caroline. Jari-jari lentik wanita itu tiba-tiba berhenti di kancing terakhir yang ada di bawah pusar. Dia mendongak untuk menatap sang suami. “Apa yang terjadi?”
“Putranya mengalami depresi setelah perceraian.”
Jantung Nyonya Caroline langsung berdetak kencang. Beliau bahkan sempat menjauhkan tangan dari Tuan Tirta karena refleks. “Berapa lama?”
“Kurang lebih satu tahun rutin obat dan konsultasi dengan psikiater.”
Makin tak menyangka Nyonya Caroline mendengar kalimat lanjutan dari mulut sang suami. Beliau ternanap tanpa bisa memberi pertanyaan lain.
Akan tetapi, Tuan Tirta tetap bercerita terus menerus. “Aji juga menceritakan semua yang terjadi setelah hari pertama pertemuanku dengannya. Tapi poin penting yang menjadi daya tarik pembicaraannya adalah soal anaknya yang terus berkeinginan menunggu Myria. Anak itu tidak menikah lagi sejak SMA.”
Kemeja yang sejak tadi membalut tubuh telah sepenuhnya terlepas. Tuan Tirta mundur dan ganti menuju kamar mandi yang ada di salah satu sudut ruangan, sementara istrinya masih terdiam mencerna semua cerita beliau.
“Tirta.” Melihat tubuh sang suami hendak memasuki kamar mandi, Nyonya Caroline memanggil. Pria yang menemaninya puluhan tahun itu menengok sehingga dirinya melanjutkan kalimat. “Kamu tidak ada pikiran mempertimbangkan ucapan Andreas?”
Satu kaki yang hendak memijak lantai kamar mandi kembali ditarik. Tuan Tirta menegakkan diri. “Aku justru semakin yakin kalau keputusanku sudah benar. Mana ada orang tua membiarkan anaknya menikah dengan pria gangguan jiwa?”
“Tapi, Tirta, mendengar ceritamu tentang perasaan pemuda itu dan perasaan Myria, tidak ada salahnya memberi kesempatan sekali lagi.”
Rahang Tuan Tirta mengeras. Urat-urat wajahnya langsung tegang. “Caroline, aku tahu Myria bukan terlahir dari rahimmu. Tapi aku tidak akan rela kalau kamu atau siapa pun ingin menyengsarakan hidupnya lagi!”
Jawaban Tuan Tirta di luar dugaan dan sukses membuat Nyonya Caroline menganga tanpa suara dalam beberapa detik. “Tirta, apa yang kamu pikirkan? Aku berusaha memahami perasaan dua anak manusia yang saling mencintai tapi tidak bisa bersatu.”
Pendapat hanya dianggap angin lewat. Nyatanya, Tuan Tirta tidak menanggapi. Beliau meninggalkan Nyonya Caroline begitu saja dan langsung menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Bagi Tuan Tirta, membiarkan Myria bersama pria pengidap gangguan jiwa adalah keputusan konyol. Selama ini, beliau telah melewatkan banyak waktu untuk membahagiakan Myria. Maka dari itu, Tuan Tirta tidak ingin mengulang kesalahan sekali lagi dengan merelakan sang putri menjalani pernikahan dengan pria yang belum tentu bisa memberi kebahagiaan lahir dan batin.
Mengontrol dirinya saja masih sering kuwalahan, lalu bagaimana akan mengurusi orang lain apalagi memberi kebahagiaan?