
Mendengar hal ini, Rival sangat syok. Dan Rival pun berkata
"Kenapa kamu ga ngangkat telfon kakak waktu itu dek?" Tanya Rival.
"Kak.. bukannya Aku tidak mau mengangkatnya.. tapi waktu itu papa langsung merampas HP ku. Dan papa bilang, jangan pernah mengganggu kakak.. karena kakak akan menyelesaikan masalah perusahaan papa di luar negeri. Papa ga ingin kakak jadi batal berangkat gara-gara berita ini.. Lalu papa juga menyita HP Aku sampai sekarang.." Ujar Nadia.
Mendengar cerita Nadia, Rival pun menggelengkan kepala. Iya tidak mengerti lagi dengan papanya. kenapa papanya bisa setega itu. Tapi itu ga penting bagi Rival. Rival pun menanyakan keadaan Namira.
"Terus, kamu tau sesuatu ga, tentang keadaan Namira sekarang?" Tanya Rival. Nadia pun menggelengkan kepala.
"Aku ga tau lagi kak.. bagaimana keadaan Namira sekarang.." Ucap Nadia.
"Apa kamu tau dimana rumah sakitnya?" Tanya Rival lagi. Nadia pun kembali mengingat rumah sakit itu. Kemudian, Nadia pun ingat nama rumah sakitnya. Nadia pun memberitahu nama rumah sakit itu.
"Ok.. kakak akan segera ke sana.." Ucap Rival. Rival pun segera bergegas untuk ke rumah sakit. Rival ingin melihat kondisi Namira.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Rival pun segera bergegas. Tiba-tiba saja Rival mendengar suatu berita dari seorang suster yang membuat Rival syok.
"Kasian ya.. korban kebakaran itu, mana masih muda lagi.. cantik pula.." Ujar suster itu.
"Iya.. kasian, dia meninggal dalam kondisi mengenaskan.." Ucap Suster satunya lagi.
"Apa? Korban kebakaran? Dan masih muda.. jangan-jangan.." Pikir Rival mulai tidak enak. Kemudian, Rival pun mengejar kedua suster itu.
"Tunggu Sus.. Korban yang meninggal kebakaran itu dimana ya, sekarang?" Tanya Rival.
"Wah.. itu dua minggu yang lalu mas.. dia sudah dimakamkan sama keluarganya.." Jawab suster itu.
Mendengar hal ini, Rival sangat merasa lemas. Dan Rival pun menjatuhkan lututnya. Iya berteriak memanggil nama Namira.
"Namira...." Teriak Rival.
Di rumah Namira, Namira merasa kaget karena mendengar suara Rival yang berteriak. Namira pun langsung terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Kak Rival.." Ucap Namira syok. Namira melihat sekelilingnya, ternyata cuma mimpi. Namira pun melihat di sampingnya ada suaminya yang tertidur. Namira segera mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullah.." Ucap Namira. Kemudian, Malik pun terbangun.
"Namira.. kamu kenapa?" Tanya Malik.
"Aku ga apa-apa kok kak.. Aku cuma mimpi buruk.." Ujar Namira.
"Ini mungkin efek kamu yang lagi sakit Namira.. Tidur lagi ya.. jangan mikirin apa-4 dulu.." Ujar Malik. Namira pun mengangguk.
"Iya kak.." Jawab Namira. Dan Namira pun tertidur kembali.
Sebenarnya Namira tidak dapat tidur. Iya masih memikirkan tentang mimpinya. Iya bermimpi mendengar Rival berteriak memanggil dirinya. Namira pun memikirkan Rival. Untung saja, Malik sudah tertidur pulas. Sehingga Malik tidak dapat mendengar Namira memanggil Rival.
...****************...
Sementara Rival, iya berjalan dengan lemas tanpa semangat menuju mobil. Rival masih tidak menyangka bahwa Namira telah tidak ada. Ternyata hari itu adalah hari terakhir iya melihat Namira.
Sesampainya di rumah, Rival pun juga tidak bersemangat. Nadia yang melihat kakaknya itu bertanya.
"Loh.. kakak kenapa? Kenapa kakak menangis..?" Tanya Nadia. Dan Rival pun menjawab.
"Namira.." Ucap Rival.
"Namira sudah ga ada Nadia.. Namira sudah meninggal.. iya tidak bisa selamat dari kecelakaan itu.." Ucap Rival. Nadia pun terkejut mendengar ucapan Rival.
"Apa? Kakak yakin?" Tanya Nadia.
"Iya.. kakak dengar sendiri ucapan dari suster..." Ucap Rival. Nadia pun tidak menyangka kalau Namira tidak ada.
Helsen yang melihat Rival menangis pun bertanya-tanya. Ada apa dengan putranya itu. Kemudian, Helsen pun menghampiri Rival.
"Rival, kamu kenapa?" Tanya Helsen. Rival tidak menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Rival?" Tanya Helsen sekali lagi. Dan Rival pun menatap Ayahnya dengan tatapan yang sulit di tebak. Helsen semakin heran dengan Rival.
"Rival kamu kenapa sih?" Tanya Helsen. Kemudian Rival pun menjawab.
"Papa kenapa sih pa.. terlalu jahat jadi orang.." Ucap Rival membuat Helsen semakin tidak mengerti.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Rival? Papa ga ngerti." Tanya Helsen.
"Pa.. kenapa papa melarang Nadia, untuk memberitahu Aku bahwa Namira dalam keadaan bahaya? Kenapa papa malah menyita HP Nadia?" Tanya Rival.
"Jadi kamu marah sama papa karena masalah ga jelas itu?" Tanya Helsen.
"pa.. ini menyangkut nyawa orang pa.. kenapa sih pa.. Dan gara-gara papa, Namira sekarang tidak bisa tertolong.." Ujar Rival.
"Apa? Jadi Namira sudah meninggal?" Tanya Helsen.
"Iya.. dan ini semua gara-gara papa.." Ucap Rival.
"Rival, kamu ga bisa menyalahkan papa seper itu.. Papa lakuin itu agar pekerjaan kamu tidak terganggu.. lagian Namira sudah ada keluarga dan suaminya.. itu bukan tugas kamu.." Ucap Helsen.
"Pa.. Rival, itu punya banyak kenalan pemadam kebakaran pa.. Dan Rival punya banyak kenalan tim penyelamat.. Rival bisa aja minta tolong mereka untuk menyelamatkan Namira.. Tanpa mengganggu pekerjaan.." Ujar Rival.
"Kenapa kamu malah menyalahkan papa? Ngaco kamu.." Ujar Helsen. Marta yang mendengar hal ini juga syok. Marta juga tidak menyangka kalau Namira sudah meninggal.
Malas berdebat, Rival pun pergi meninggalkan papanya. Dan Rival pun pergi ke kamarnya. Sementara Marta masih bertanya-tanya kebenarannya.
"Pa.. apa benar, yang dikatakan Rival?" Tanya Marta.
"Papa juga ga tau ma.. tapi semoga saja itu ga benar.. tapi, biarlah Rival mengira Namira sudah meninggal. Itu lebih baik untuknya.." Ucap Helsen.
"Loh.. kenapa bisa begitu pa?" Tanya Marta.
"Ya.. bagus kan.. kalau Rival mengira Namira meninggal.. biar dia bisa cepat melupakan Namira.. dan tidak berhubungan dengan Namira.. capek ma.. harus berdebat terus gara-gara perempuan itu.." Ucap Helsen.
Marta pun hanya menggelengkan kepala. Iya tidak habis pikir dengan suaminya yang aneh. Marta pun menegur.
"Papa ini keterlaluan ya.. itu sama aja papa itu mendoakan Namira meninggal beneran.. Harusnya.. papa itu mencarikan gadis lain untuk Rival.." Ucap Marta.
"Gadis yang seperti apa ma? Tetap saja Rival ga akan tertarik dengan gadis manapun.." Ucap Helsen.
"Pa.. ya kita cari gadis yang seperti Namira.. cuma seiman dengan kita.. kita carikan gadis yang sifatnya mirip dengan Namira.." Ujar Marta.
"Mama aja lah yang cari.. papa malas.." Ucap Helsen. Dan Helsen pun langsung pergi ke kamarnya. Karena capek menghadapi Rival.
Sementara Rival, Rival hanya bisa memandang foto Namira. Iya masih belum menyangka dengan apa yang terjadi kepada Namira.
__ADS_1
Nadia yang melihat kakaknya sedih seperti itu menjadi tidak tega. Nadia hanya bisa duduk di samping kakaknya dan menatapnya. Dan Nadia pun berkata.
"Kakak.. kakak yang sabar ya.. mungkin ini sudah takdir.." Ucap Nadia. Sembari mengelus pundak kakaknya.