Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 42


__ADS_3

Pria berkemeja hijau olive diikuti dua orang wanita bercadar masuk rumah sang ustaz. Angkasa yang melihatnya tiba-tiba berdebar. Belum tahu rupa perempuan yang ada di balik selembar kain hitam penutup wajah itu, tetapi perasaan takjub memang tak bisa ditampik.


Sang ustaz mempersilakan semua duduk. Beliau tak lupa meminta istrinya membuatkan minum untuk tamu yang baru datang. Terjadi obrolan basa-basi sebentar sebelum masuk ke pembicaraan inti.


“Lo nervous, nggak? Gue grogi, Cuy!” Sakti berulah. Dia berbisik singkat di telinga sahabatnya.


Akan tetapi, Angkasa tak acuh. Dia sendiri bingung menutupi kegugupan yang mendera.


Minuman baru telah tiba. Istri ustaz yang tadi di belakang, kini ikut bergabung. Beliau persilakan para tamunya mencicipi hidangan.


Selesai sesi perkenalan singkat, ustaz mulai pembahasan. “Nah, saya rasa sudah dibaca detail soal biodata kemarin. Kalau ada yang mau ditanyakan, silakan. Bisa sampaikan sekarang, nanti kalau tidak cukup waktu, kita bisa nadzor lagi.”


Semua terdiam mendengar ustaz bicara. Beliau arahkan pandangan pada keluarga Angkasa. “Ini, Nak Angkasa ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan?”


“Saya ….” Lidah Angkasa kelu untuk berkata. Dia tarik napas dalam-dalam agar lebih rileks.


“Kasa.” Nyonya Nasita mulai cemas. Beliau yang duduk bersebrangan berusaha memberi penyemangat.


“Tidak banyak yang ingin saya tanyakan,” kata Angkasa setelah mengumpulkan keberanian. “Hanya saja … Ukhti Syahira pasti sudah membaca riwayat penyakit yang saya alami. Bagaimana pendapatnya?”


Wanita berkulit putih dengan bulu mata lentik itu mengangkat kepala sebentar. Tidak lama, dia kembali menunduk. Bibirnya yang sejak tadi terkatup, mulai terbuka pelan hingga suara merdu menyapa pendengaran orang di sekitar.


“Manusia tidak ada yang sempurna, Akhi. Allah menciptakan semua di dunia ini memiliki tujuan masing-masing. Semua penyakit yang diberikan pada hamba-Nya, semata-mata karena kasih sayang agar seseorang sadar bahwa dia makhluk yang lemah atau sebagai penggugur dosa. Kalau apa-apa yang ada di dunia ini atas kehendak Allah, saya ikhlas menerima. Insyaallah, selagi Akhi terus berikhtiar menenangkan diri agar itu tidak kambuh.”


Jawaban wanita bernama Syahira itu mengundang senyum dari bibir Nyonya Nasita. Beliau refleks mengusap tangan sang suami yang ada di sebelah. Tatapan Syahira tidak kalah meneduhkan dibanding Myria, Nyonya Nasita yakin wanita itu sama baiknya.


Angkasa juga mulai lega karena tadi sempat timbul keraguan saat ingat dirinya pernah memiliki riwayat depresi. Dia berpikir realistis bahwa tidak semua orang mau hidup bersama manusia berpenyakit. Namun, jawaban Syahira seperti oase di tengah gurun, menyejukkan dahaga yang bergejolak di batin.


“Masyaallah.” Sang ustaz menengahi. “Sudah puas dengan jawaban Nak Syahira, ya, Nak Angkasa?”


Angkasa mengangguk sebagai respons. Saat ditanya ustaz apa ada pertanyaan lagi, dia menggeleng.


“Kalau begitu, Nak Syahira bisa ganti bertanya pada pihak laki-laki ini.”

__ADS_1


Syahira menoleh pada ayah dan ibunya. Dua orang tua yang duduk di sebelah kanan dan kiri itu mengangguk bersama. Wanita itu lantas melihat ke depan, di mana keluarga Angkasa duduk. “Kalau seandainya saya ingin melanjutkan pendidikan S3 setelah menikah. Apa ada keridhoan untuk menjalani hubungan jarak jauh? Mengingat dari data yang saya baca, Akhi Angkasa ini memiliki kesibukan pekerjaan yang sulit untuk di-handle secara daring sepenuhnya.”


Pertanyaan Syahira cukup membuat Angkasa tercengang. Ingatannya langsung mundur ke beberapa tahun lalu saat masih beristri Myria. Dia ingat ketika Myria mengajukan hubungan jarak jauh andai kuliah beda negara dan itu langsung ditolak. Angkasa memang tidak rela istrinya jauh dari pengawasannya.


“Nak Angkasa.” Lama tidak ada jawaban, sang ustaz memanggil.


Sakti langsung menepuk lengan hingga Angkasa tersadar.


“Oh, maaf,” kata Angkasa penuh kebimbangan. Namun, apa boleh buat, dia harus menjawab jujur. “Ini … memang sulit untuk saya jawab, Ustaz. Saya bingung karena tidak ada pikiran untuk menjalani hubungan jarak jauh. Saya sedikit kurang setuju kalau membiarkan istri safar sendiri meski dalam hal menuntut ilmu.” Jawaban Angkasa tidak berubah sama sekali.


Syahira menarik napas pelan atas jawaban Angkasa. Dia memang masih bermimpi untuk lanjut kuliah sekalipun sudah berumah tangga. Baginya, ilmu adalah bekal mendidik anak, maka selama masih bisa akan tetap berusaha.


Sang ustaz menunggu keputusan. Beliau tidak memberi saran apa pun karena tidak ingin terkesan membela salah satu pihak. Pernikahan adalah komitmen dua kepala dan dua keluarga, sementara beliau bukan bagian dari keluarga tersebut.


Setelah lama berpikir, akhirnya Syahira mengambil keputusan. “Mari beristikarah lagi, Akhi. Saya ingin nadzor ini tidak hanya sekali. Siapa tahu ada petunjuk dari Allah selesai dari sini.”


“Ya, saya terima usulannya.” Angkasa setuju. Dia tidak ingin gegabah dan akan menikmati proses menjemput jodoh.


“Alhamdulillah, kalau begitu dicukupkan saja dulu pembicaraan malam ini. Lagi pula hari sudah makin larut. Kalau saya boleh saran, mungkin ada baiknya nadzor berikutnya pagi atau siang saja biar bisa lebih panjang waktunya.”


“Tante Ayu sama Om Aji udah kasih restu kayaknya lihat perempuan tadi?” Di jalan, Sakti mulai mengungkapkan isi hati. Selama di rumah sang ustaz, dia diam penuh kewibawaan karena hanyut dalam perbincangan.


Tuan Aji dan Nyonya Nasita yang ada di belakang tertawa pelan. Salah satu dari mereka menjawab omongan Sakti, “Om setuju saja asal Kasa mau. Yang ngejalani dia.” Tuan Aji bicara sambil melirik putranya yang ada di samping Sakti.


Angkasa bergeming. Kepalanya mendadak penuh, entah apa yang masuk di otak sehingga malas untuk ikut mengobrol.


“Dia capek kayaknya, Om.” Sakti tidak berhenti menggoda.


Nyonya Nasita memajukan badan sedikit, lalu mengusap bahu putranya. “Kamu baik-baik saja, Kasa?”


Dapat sentuhan lembut, Angkasa baru menengok. Namun, tetap saja bibirnya enggan terbuka dan hanya memberi anggukan.


Mobil tiba di rumah tepat ketika jam di ponsel menunjuk angka 22. Sakti segera pamit karena besok harus bekerja. Nyonya Nasita memintanya menginap, tetapi pria itu menolak.

__ADS_1


Baru saja mobil Sakti berbelok ke jalanan komplek dan Angkasa hendak menutup pagar, tetapi sudah ada mobil lain berhenti tepat di depan. Gerakan Angkasa terhenti karena dia melihat seseorang turun dari kendaraan roda empat tersebut.


“Aji!” Suara seorang pria menyeru begitu lantang hingga membuat Tuan Aji yang baru memasuki teras kembali ke depan.


Tuan Aji menggeser Angkasa yang sejak tadi diam seperti patung “Kak Mandala.” Bibir Tuan Aji bergetar mengucap sapaan itu kala melihat wajah bengis Tuan Tirta. “A–ada apa, Kak? Ini ….”


Belum sempat selesai pertanyaan Tuan Aji, Tuan Tirta sudah berlari dan meninju wajah. Nyonya Nasita langsung berteriak dan menolong, sedangkan Angkasa ganti mendorong Tuan Tirta.


“Paman, apa yang Paman lakukan?” Angkasa ikut berteriak. Persetan dengan status hormat pada orang tua. Dia abaikan itu jika menyangkut keselamatan keluarga.


“Minggir, Bedebah Kecil! Aku ingin menghajar ayahmu. Berani-beraninya dia ingin menikahkan putranya dengan wanita selain putriku!”


“Paman! Menikah itu keputusanku, tidak ada urusan dengan Papa.”


“Aku tidak peduli! Urusanku dengan Aji. Minggir!”


Tubuh Angkasa terdorong, Tuan Tirta bersiap menarik Tuan Ajidari pelukan Nyonya Nasita. Pria itu seperti serigala yang siap mencabik-cabik mangsanya.


Angkasa ikut hilang kesabaran. Dia ganti menarik Tuan Tirta dari belakang dan hendak melayangkan tinjuan. Namun, saat kepalan tangan baru ada di atas kepala, otaknya mulai berfungsi. “Tadi Paman bilang apa?”


“Kenapa? Kamu ingin memukulku?”


Tangan Angkasa meluruh perlahan sembari menelaah perkataan Tuan Tirta.


“Aku jadi ingin memarahi putriku juga karena bisa-bisanya dia mencintai lelaki tidak sopan sepertimu.”


Emosi yang sempat meledak kini perlahan berubah menjadi kekehan kecil. Angkasa mulai menertawakan dirinya yang tidak cepat tanggap dalam menerima informasi sehingga nyaris menghajar orang. Pria itu langsung memeluk Tuan Tirta tanpa izin. “Maaf, Paman. Aku sedang tidak fokus.”


Tuan Tirta berdecak. Dia tidak menolak atau membalas pelukan Angkasa.


“Tidak perlu memarahi Myria. Meski dia salah, marahlah padaku. Biarkan dia tetap bahagia, aku tidak suka melihatnya menangis,” kata Angkasa dengan suara bergetar karena tiba-tiba menangis.


“Tidak tahu diri!” Tuan Tirta memarahi lagi, tetapi Angkasa tidak sakit hati. “Kamu pikir tindakanmu taaruf dengan wanita lain tidak membuatnya menangis? Aku jadi ingin mencekikmu sekarang.”

__ADS_1


Angkasa tertawa dan mengeratkan peluk. “Paman bisa mencekikku kalau aku menyakitinya lagi setelah ini.”


“Ck! Bedebah!”


__ADS_2