
Sudah satu tahun Namira berada di pesantren lagi. Umi Syarifah seorang istri dari pengasuh pondok pesantren menjadi tulus dan ikhlas merawat Namira. Sakit Namira bukanlah sakit di fisik. Tapi, Namira mengalami gangguan kejiwaan. Berkat usaha dan dukungan doa dari pesantren. Keadaan Namira semakin membaik. Umi Syarifah dan Kiyai sangat bersyukur kepada yang maha menyembuhkan. Usaha memanglah tidak akan mengkhianati hasil. Asal mau bersungguh-sungguh.
Semakin hari, keadaan Namira semakin membaik. Namira sudah mengenali siapa dirinya. Bahkan, Namira sudah bisa mengenali umi Syarifah dan kyai lagi.
"Namira.. apa kamu mengenal kami?" Namira mengangguk menjawab pertanyaan umi Syarifah.
"Kalau benar.. coba sebutkan siapa saya?" Umi Syarifah mengetes Namira.
"Umi Syarifah.. dan Kyai. Yang dulu juga mengasuhku selama 20 di pesantren ini.." Umi Syarifah dan Kyai mengucapkan syukur kepada tuhan.
"Namira.. apa kamu ingat dengan kejadian yang menimpa dirimu?" Namira mengangguk dan sedikit tersenyum.
"Iya.. saya ingat.. suami dan anak saya.. sudah tidak ada karena kecelakaan itu.." Jawabnya.
"Apa Namira ikhlas dengan apa yang sudah terjadi pada Namira.. sehingga peristiwa ini membuat Namira kehilangan orang yang disayang?"
"Insha Allah umi.. saya sudah ikhlas.. saya hanya bisa berdoa. Semoga mas Imam bisa tenang di alam sana.." Ujarnya sambil menunduk. Namira menahan air mata yang ingin jatuh. Umi Syarifah melarang Namira untuk menahan air mata yang ingin menetes.
"Namira.. ga usah ditahan! Kalau ingin keluar, keluarkan saja.. biar kamu lega.Jika ingin menangis, maka silahkan kamu menangis. Menangis bukan berati kita lemah. Air mata itu adalah obat. Obat hati yang terluka." Ucapnya. Namira mengerti apa yang diucapkan oleh umi Syarifah. Dan Namira pun menjatuhkan air matanya. Iya memejamkan mata dan mengangkat kepala. Semua ini Namira lakukan agar lebih tenang.
Setelah merasa tenang, Namira mengusap pipinya yang basah. Umi Syarifah pun tersenyum . Seraya bertanya.
"Namira, apa kamu tidak merindukan kedua orang tuamu? Mereka sangat merindukanmu. Mereka berharap akan kesembuhan kamu.." Ucap Umi Syarifah.
"Aku sangat merindukan mereka umi.. Bahkan, Aku sangat ingin bertemu dengan mereka. Aku ingin segera berkumpul kembali dengan mereka." Ucap Namira.
"Namira.. tunggu sehat dulu ya.. nanti, kalau sudah benar-benar siap bertemu dengan dunia luar lagi, maka kamu boleh pulang.. persiapkan dulu mental kamu Namira.." Ujar umi Syarifah.
****************
__ADS_1
Hari-hari telah berlalu. Namira semakin sembuh saja. Iya bisa kembali ceria seperti dulu. Umi Syarifah dan Kiyai sangat bersyukur dengan kesembuhan Namira. Dan mereka pun mengijinkan Namira untuk pulang.
Namira sangat bersyukur atas kesembuhan dirinya. Dan Namira pun pamit kepada Kiyai dan istrinya. Mereka melepaskan Namira untuk kembali kepada orang tua mereka.
Kiyai dan istrinya mengantar Namira pulang ke rumah orang tuanya. Namira tidak sabar ingin segera sampai ke rumah. Namira sudah sangat rindu dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya.
.
.
.
Sesampainya di sana, Namira langsung membuka pintu mobil dan langsung turun dari mobil. Namira segera berlari ke pintu rumahnya. Iya mengetuk pintu rumahnya. Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang yang membukakan pintu dari dalam.
Ternyata yang membukakan pintu adalah Kayla. Kayla begitu terkejut ketika melihat Namira ada di depannya.
"Kakak.." Tanpa basa-basi lagi, Namira segera memeluk erat adiknya itu. Kayla membalas pelukan kakaknya. Rasa rindu antara kakak beradik sudah terobati.
"Maafin kakak ya, Kayla.. kakak sudah lama meninggalkan kamu.. pasti kamu kangen ya?" Ujar Namira. Kayla mengangguk seraya berkata.
"Banget kak.." Kayla pun segera berlari memanggil ayah dan ibunya. Mereka segera menghampiri Kayla. Mereka juga terkejut. Namira sudah berdiri di hadapan mereka.
"Ini bukan mimpi kan? Kamu Namira kan?" Namira mengangguk dan langsung memeluk ibunya.
"Iya.. ini Namira bu.. maafkan Namira.. Namira sudah banyak salah sama ayah dan Ibu.." Ucapnya lirih.
Bagai mendapat durian jatuh. Ini adalah kejutan yang sangat luar biasa untuk mereka. Putri yang ditunggu-tunggu kepulangannya kini sudah berada di depan mereka. Mereka bersyukur karena tuhan telah mendengarkan doa mereka saat ini.
Kini Namira sudah sembuh dan sudah kembali normal seperti pada umumnya. Keluarga Namira sangat bahagia. Tak lupa rasa terimakasih telah mereka haturkan kepada umi Syarifah dan pak Kiyai. Mereka telah berhasil membuat Namira sembuh.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Namira dan keluarganya sudah kembali bahagia. Namun, ada saja yang tidak suka melihat Namira sembuh dari depresinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Monica. Iya merasa sangat kesal melihat kebahagiaan Namira.
"Sial! Kenapa Namira bisa sembuh segala sih? Kenapa dia tidak gila selamanya saja? Ok, kali ini keberuntungan berpihak sama kamu.. tapi, liat saja.. Aku akan membuat kamu dan keluargamu menderita. Tunggu saja pembalasanku.
.
.
Tengah malam yang sunyi. Suasana trrlihat gelap dan hanya diterangi oleh lampu-lampu jalan. Semua orang sudah terlelap tidur. Termasuk Namira dan keluarganya.
Seorang perempuan dengan berjaket hitam dan masker hitam diam-diam mendekati rumah Namira. Orang tersebut sambil membawa bahan bakar. Iya kemudian, menyiramkan bahan bakar tersebut ke sekeliling rumah Namira. Yah ulah siapa lagi kalau bukan Monica? Dengan nafsunya Monica menuangkan bensin itu. Tapi, berung sekali. Also Monica diketahui oleh salah satu warga.
"Hei! Mau ngapain itu?" Teriak mereka. Monica merasa kaget dan panik ketika aksinya diketahui oleh warga.Tanpa berfikir panjang, Monica langsung kabur dan salah satu warga teriak maling. Mereka mengejar Monica. Mereka terus mengejar Monica. Hingga Monica menemukan jalan buntu. Warga sudah semakin dekat. Dan Monica sudah tidak bisa berlari lagi. Karena di depannya terdapat jurang yang mematikan.
"Hayo..mau kemana kamu?"
"Aduh.. gawat.. kalau Aku tertangkap, bisa-bisa Aku berada di penjara lagi.." Gumamnya. Monica tidak ingin berada dalam penjara lagi. Iya pun terpaksa melompat ke dalam jurang tersebut. Para warga panik. Mereka ingin menolong Monica yang terjatuh ke jurang. Namun, siapa yang berani turun ke sana. Para warga pun akhirnya menghubungi polisi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Berita tentang kematian Monica yang terjatuh ke jurang telah tersebar kemana-mperfi Karena wartawan telah menyorot kameranya. Tak ketinggalan juga dengan Namira yang melihat berita tentang Monica.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un.. Tante Monica.. ga disangka.. dia pergi secepat ini.. dan dia meninggal dengan cara seperti ini.. Ya, Allah.." Namira sambil mengusap dada.
"Syukuri.. Habisnya jahat banget sih jadi orang.. gitu kan, kualat kan? Hem.. mampus lo.. selamat bertemu dengan malaikat mungkar dan nakir.." Kayla merasa bersyukur dengan berita tentang Monica.
"Dek.. jangan begitu.. ga baik loh mendoakan orang yang sudah meninggal seperti itu.." Tegur Namira.
__ADS_1
"Habisnya dia jahat kak.. dia sudah jahat sama kakak." Ucap Kayla kesal.
"Iya.. semua.. itu punya kesalahan Kayla.. dia sudah terkena balasannya.. dia sudah ga ada.. kita harus memaafkan.. ok adik cantik.." Ucap Namira mengingatkan. Kayla pun mengangguk paham.