Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 29


__ADS_3

Selepas pamit pada anggota keluarga yang masih ada di meja makan, Tuan Tirta bangkit dan menuju ruang tamu diikuti Daniel di belakangnya. Pria itu berjalan dengan tenang, tetapi tiba-tiba berhenti saat baru dapat beberapa langkah.


“Dan, bilang pada pegawai dapur untuk menghidangkan beberapa jamuan.”


“Baik, Tuan.” Daniel mengangguk patuh. Kemudian, pria itu memutar badannya menuju dapur untuk menyampaikan perintah.


Setibanya di dapur, Daniel mendatangi salah satu asisten rumah tangga yang jaraknya paling dekat. Dia sampaikan perintah Tuan Tirta, lalu segera kembali.


Belum sepenuhnya kaki Daniel terangkat dari dapur, Nyonya Caroline dan Myria datang membawa piring kotor. Dua wanita itu baru menuntaskan makan malam, sehingga harus bersih-bersih.


“Apa ada tamu penting, Dan?” Nyonya Caroline berhenti tepat di depan Daniel. Myria yang ada di belakang, otomatis ikut berhenti.


Kepala Daniel terangkat. Dia perhatikan sang nyonya beberapa detik dengan bibir terkatup. Tidak seperti biasa yang langsung menjawab, Daniel begitu enggan melakukannya lantaran ada Myria.


“Daniel!” Nyonya Caroline memanggil lagi.


Meski berat menyampaikan kabar, sebagai pekerja, Daniel harus patuh. “Bisa dikatakan seperti itu, Nyonya,” katanya dengan suara tenang.


Dahi Nyonya Caroline mengernyit sepintas. Kemudian, dia ganti menoleh pada Myria. Dua wanita itu akhirnya saling melempar pandang, tetapi tidak ada yang ditanyakan lagi.


Myria beranggapan mungkin sang ayah memang sering menerima tamu di rumah. Kolega kerja Tuan Tirta bejibun hingga tak bisa dihitung apalagi diingat. Myria tidak tahu apa-apa, lebih baik diam karena bukan urusannya.


“Mom, aku bantu Bibi bawa minum ke depan, ya,” kata Myria setelah mencuci tangan dengan bersih.


“Eh, tidak perlu, Nona.” Belum sempat Myria mengangkat nampan, asisten rumah tangga sudah mendahului. Dia yang dapat perintah, tidak seharusnya anak majikan yang menjalankan. “Saya takut dipecat, Non. Jangan!”


“Bi, tapi ini Mommy juga lihat aku mau bantu, kok.” Myria sampaikan pendapat. Tanpa dijelaskan seperti itu, pekerja itu sebenarnya tahu karena Myria bicara di depan mata.


“Tidak, Nona. Non Myria baru datang, sebaiknya istirahat saja.” Tak ingin berdebat atau berebut nampan, asisten rumah tangga itu segera mengangkat nampan dan membawanya ke depan.


Myria terdiam dengan tatapan mengarah pada sang bibi yang telah pergi. Dia hanya niat membantu, tetapi  tidak dapat kesempatan.


“Tidak apa-apa. Lebih baik kita mengobrol di ruang tengah bersama Andreas. Anak itu pasti sibuk main games. Nanti Daddy juga ikut bergabung kalau tamunya sudah pulang.”

__ADS_1


Myria setuju. Bersama Nyonya Caroline, wanita itu menuju ruang keluarga dan menyalakan televisi tanpa ingin tahu tentang urusan ayahnya.


Di ruang tamu, para pekerja kembali undur diri setelah tugas mereka selesai. Tersisa Daniel, Tuan Tirta dan tiga tamu yang ada.


“Kalian sudah makan?” Setelah tidak ada obrolan sama sekali beberapa menit lalu, Tuan Tirta baru membuka mulut. Pria itu tetap tenang tanpa menunjukkan emosi meski yang datang adalah Tuan Aji beserta anak dan istri.


“Sudah.” Sama seperti Tuan Tirta, Tuan Aji juga terlihat tenang tanpa ada kegugupan. Justru yang gugup adalah putranya.


Angkasa berulang kali membuang napas dari mulut meski tidak sampai didengar orang. Beberapa kali pula, dia meremas jemari sendiri tanpa sadar.


“Kalau begitu, minum teh ini biar tubuh kalian hangat,” kata Tuan Tirta lagi. Beliau tak hanya mempersilakan, tetapi ikut minum bersama sebagai rasa menghargai.


Dapat sambutan baik dari Tuan Tirta, Tuan Aji sekeluarga mulai mencicipi hidangan. Beliau menarik cangkir keramik yang terhidang di meja tepat di depannya, lalu menyeruput teh hijau itu perlahan sambil dinikmati.


“Apa gerangan yang membawa kalian kemari?” Cangkir teh telah kembali ke meja, Tuan Tirta mengangkat satu kaki dan menumpu kaki lainnya. Beliau lantas bersandar nyaman dengan Daniel berdiri di belakang kursi.


Basa-basi nyatanya tidak lama, Tuan Aji paham bahwa waktu memang begitu berharga bagi Tuan Tirta. Sesama pebisnis yang memiliki jam terbang tinggi, tidak ada acara namanya membuang waktu. Maka dari itu, Tuan Aji langsung menyampaikan maksud kedatangan.


“Aku rasa Kak Mandala sudah tahu tujuanku kemari dengan keluarga. Putraku ingin rujuk dengan putrimu.”


Jawaban tak lekas diberikan. Tuan Tirta justru memindah pandangan pada Angkasa. Beliau memberi tatapan tajam tanpa ekspresi sama sekali. Cukup lama itu dilakukan, hingga penglihatannya kembali mengarah pada Tuan AJi.


“Jangan jadi manusia tidak tahu diri dengan meminta hal lebih dari apa yang kuberikan, Aji. Kubiarkan kalian hidup bukan untuk mengusik keluargaku lagi. Tapi semata-mata karena aku masih punya nurani.”


Hati Angkasa mencelus. Keberaniannya mulai goyah mendengar jawaban Tuan Tirta. Sebenarnya, dia sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari sebelum datang andai dapat penolakan. Akan tetapi, bersikap tegar memang tidak semudah itu.


Bayangan beberapa tahun lalu saat Tuan Tirta memisahkannya dari Myria kembali berkelebat. Kepala Angkasa seolah dipenuhi teriakan memaki dan jerit tangis Myria di malam itu. Dia berusaha mengusir bayang semu yang hadir dengan menggeleng pelan, tetapi nyatanya tidak sanggup.


Tanpa sadar dan di luar kendali, Angkasa berteriak sembari memegangi kepala. “Argh!”


Nyonya Nasita yang ada di samping langsung menoleh. Sadar putranya tidak baik-baik saja, beliau segera memeluk. “Kasa!”


Tuan Aji ikut berdiri. “Kasa! Tenang!”

__ADS_1


“Argh! Ma!”


Tuan Tirta dan Daniel ikut syok. Dua pria itu sampai berdiri dan berteriak, “Ambilkan air putih! Cepat!”


Suara Daniel menggema di ruang tengah hingga mengusik keberadaan Myria, Andreas, dan Nyonya Caroline. Belum lagi, asisten rumah tangga yang  berlarian ke depan sambil membawa air membuat mereka segera bangkit dan ingin tahu.


Sampai di depan, alangkah kagetnya Myria melihat kegaduhan yang ada. Tanpa pikir panjang, wanita itu mendekat. Dia sampai menerobos hanya untuk melihat Angkasa lebih jelas. “Bunda, Kasa kenapa?”


Nyonya Nasita yang panik tak bisa menjawab. Wanita bergamis cokelat itu sibuk merogoh tas dan mencari obat yang telah dibawa untuk berjaga-jaga. Dia keluarkan dua buah kapsul dari wadah, lalu meminta Angkasa meminumnya.


“Kasa, tenang! Mama di sini!”


Angkasa masih panik. Sekujur tubuhnya mulai berkeringat, padahal AC ruang tamu menyala. Dibantu sang ibunda, dia berhasil menelan obat.


Nyonya Nasita tak berhenti bicara dan menarik Angkasa ke pelukan lagi. Demi ketenangan putranya, beliau sampai mengabaikan Myria yang ada di samping.


“Tenang, Nak. Tenang! Lupakan pembicaraan yang baru kamu dengar,” kata Nyonya Nasita dengan suara bergetar. Sejak tadi air mata tertahan di pelupuk. Namun, perlahan jatuh juga tanpa dikomando.


Semua orang yang ada tak bisa berbuat banyak lantaran tidak paham atas situasi yang terjadi. Myria mematung tepat di dekat Nyonya Nasita, sementara Tuan Aji baru duduk dan ikut memberi usapan di punggung Angkasa.


Tuan Tirta dan Daniel berdiri di tempat, sedangkan Andreas hanya bengong sembari memegangi ponsel. Di samping pria muda itu, Nyonya Caroline menangis tanpa sadar lantaran melihat kerepotan seorang ibu mengurus anaknya.


Myria merendahkan sedikit badan untuk mengusap lengan Nyonya Nasita. Dia tidak bertanya lagi perkara Angkasa. Dia hanya ingin sedikit andil dalam menyalurkan kekuatan.


Setelah beberapa menit kondisi Angkasa benar-benar tenang, Nyonya Nasita menatap Tuan Aji. Beliau menggeleng pelan tanpa bicara, tetapi sudah bisa dipahami sang suami.


Tak ingin memperburuk keadaan, Tuan Aji berdiri dan mendekati Tuan Tirta. Dengan perasaan sedih, Tuan Aji meminta maaf atas masa lalu mendiang ibunya dan meminta maaf pula sudah mengganggu kenyamanan semua orang di malam hari ini.


Tanggapan Tuan Tirta hanya sekadarnya. Pria itu tak bisa berkata-kata apalagi memaki karena bingung mendadak. Bahkan, saat Tuan Aji pamit, Tuan Tirta mempersilakan begitu saja dan sempat menawari agar diantar Daniel. Namun, tawaran itu ditolak Tuan Aji.


Semua orang keluar dengan segudang tanya. Myria menangis tersedu dan langsung masuk rumah saat mobil Tuan Aji mulai jauh. Dia mengunci diri di kamar tanpa ingin bicara pada siapa pun, padahal Tuan Tirta mengikuti.


“Myria, biarkan Ayah bicara denganmu.”

__ADS_1


“Jangan ganggu aku, Ayah! Asal Ayah tahu, Kasa kayak gitu gara-gara Ayah!”


__ADS_2