Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 37


__ADS_3

“Tidak berguna!” Tuang Tirta menggebrak meja. Tidak hanya itu, dia lantas membuang semua berkas dan alat-alat kantor yang sejak tadi bertengger. Laporan Daniel mengundang emosi karena sang asisten itu bilang belum juga menemukan Myria padahal pencarian sudah sepekan lebih.


“Berapa banyak orang yang kamu perlukan lagi, Dan? Atau berapa banyak uang harus keluar untuk menemukan putriku?” Suara Tuan Tirta menggelegar. Daniel yang ada di depannya hanya bisa menunduk tanpa berani menjawab.


“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuan. Tapi tolong bersabar.”


“Kurang sabar apa aku untuk bisa melihat Myria selama ini? Belasan tahun, Dan! Kamu ingat itu? Aku berpisah darinya sejak bayi.”


Daniel kembali membisu. Tak ada kalimat yang bisa dipakai untuk menenangkan sang bos. Pria itu sudah berusaha sebisa mungkin bahkan rela tidak tidur beberapa hari karena menuruti kemauan  Tuan Tirta untuk terus mencari Myria.


Akan tetapi, keberuntungan sama sekali tidak berpihak pada Daniel kali ini. Dia yang biasa gesit dan lancar dalam bekerja, tiba-tiba kehilangan daya. Entah di mana Myria bersembunyi, bahkan detektif sekalipun masih butuh waktu untuk menemukan.


“Maafkan saya, Tuan. Saya akan kerahkan lebih banyak orang lagi.”


“Jawabanmu dari kemarin seperti itu.”


Daniel menarik napas sebentar untuk melapangkan dada. Diam-diam dia juga lelah jika tenaga terus dikuras tanpa jeda. Namun, harus bagaimana lagi? Sebagai pekerja dan orang yang menemani Tuan Tirta puluhan tahun, dia tetap sabar. “Saya harap Tuan bisa memaklumi.”


Percuma marah-marah lebih jauh, Tuan Tirta akhirnya diam dan kembali duduk. Pria itu menengadah sehingga leluasa memandangi atap ruangan. Dia membuang dan menarik napas panjang berkalil-kali, lalu berucap pelan, “Apa aku keterlaluan, Dan? Apa Myria pergi karena aku tidak merestuinya? Tapi dia bilang tidak marah, kenapa harus pergi kalau seperti itu?”


Pertanyaan sulit bagi Daniel untuk menjawab. Dia tidak kenal Myria begitu jauh, mana tahu perasaan wanita itu.


Dengan penuh kehati-hatian, Daniel berusaha memberi jawaban. “Mungkin Nona hanya belum siap bertemu Anda, Tuan. Kalau boleh jujur, mungkin Nona kecewa karena Anda yang biasa memanjakan tiba-tiba kasar sampai menamparnya. Hati wanita begitu lembut. Kaum mereka bicara dengan perasaan dibanding logika. Jadi tidak heran, satu bentakan bisa membuat runtuh dunianya.”


Daniel berhenti menjabarkan dan menunggu respons Tuan Tirta sesaat.


“Itu yang sering saya dengar dari istri saya.” Daniel menambahkan lagi.


Tuan Tirta terdiam cukup lama. Banyak hal berkeliaran di kepala: tentang di mana putrinya saat ini; apa anak itu makan dengan baik; apa dia sehat; dan hal paling penting apa Myria bahagia dengan meninggalkan rumah seperti ini.


Azan zuhur membangkitkan kesadaran Tuan Tirta. Pria itu meraup wajah dengan satu tangan lalu membuang napas dalam. Dia bangkit dari kursi kebesaran. “Istirahatlah, Dan. Makanlah lebih tenang tanpa terburu-buru. Aku akan jamaah di masjid sendirian saja. Kamu tidak perlu menunggu.”


“Anda tidak makan, Tuan?” Tubuh Daniel berputar ketika Tuan Tirta melintasinya.


“Tidak. Aku ingin di masjid lebih lama. Kamu bisa tinggalkan aku.”

__ADS_1


Tak ingin membantah, Daniel mengiyakan kemauan Tuan Tirta. Lagipula, dia memang butuh istirahat meski sebentar.


***


“Nggak tidur lagi kemarin malam?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Sakti saat mendapati Angkasa sedang sibuk memijat tulang hidung. Sudah beberapa hari ini sahabatnya itu bersikap demikian karena kurang istirahat.


“Pusing banget kepala gue.” Angkasa mengeluh. Meski sering lembur hingga tengah malam, tetapi kali ini berbeda. Kepalanya terasa berat disertai pandangan kadang berkunang-kunang.


Sakti mendekat, lalu menempelkan punggung tangan ke dahi. “Panas badan lo. Pulang sana!”


“Gue pesenin taksi,” kata Sakti lagi.


Angkasa menggeleng. Dia hanya menyandarkan diri ke tempat duduk sembari memutar kanan dan kiri perlahan. “Nyokap malah khawatir kalau gini.”


“Terus gimana? Elo juga nggak tahu waktu kalau udah nyari Myria. Tunggu kabar dari kepolisian aja nggak mau. Masih maksa muterin kota tiap malam sampek pagi. Badan lo harus diurusin juga.” Sakti mulai merangkai kalimat menjadi kereta kata. Sudah dipastikan tidak akan berhenti bicara jika pria itu tidak diiyakan.


“Kelamaan, Bro, nunggu polisi. Mana bisa gue tenang.” Jawaban Angkasa begitu santai tanpa beban.


Andai Angkasa tidak sakit, Sakti pasti sudah memukul kepala sahabatnya karena jengkel.  “Lama-lama gue pecahin juga kepala lo yang keras kek batu itu.”


Tangan dan bahu Sakti terangkat bersamaan. “Dia pasti baik-baik aja. Mau kabur juga udah persiapan. Myria bukan balita. Udahlah, gue anter lo ke dokter dulu. Tekanan darah lo nggak normal kali gara-gara nggak pernah tidur. Bisa berdiri nggak?”


“Nggak usah. Gue bosen bau obat mulu.” Belum berangkat, Angkasa sudah terbayang situasi rumah sakit. Beberapa tahun konsumsi obat antidepresan dan penenang lainnya membuat pria itu mual, bahkan bosan sendiri melihat tempat seperti itu. “Gue tidur bentar udah cukup. Tolong lo tangani ini kerjaan yang belum beres.”


Dihirupnya oksigen di ruangan kuat-kuat oleh Sakti. Demi kewarasan, dia harus sabar menghadapi Angkasa. Pria itu berdiri lalu mengambil alih tempat duduk dan membiarkan sahabatnya merebahkan badan di sofa.


Lantaran sibuk dengan pekerjaan, Sakti sampai tak sadar sudah berapa lama menghadap layar laptop. Dia baru tersadar saat merasakan tubuhnya mulai kaku sehingga butuh peregangan.


Tubuh tinggi itu meninggalkan kursi. Kemudian, Sakti mengangkat tangan hingga melampaui atas kepala, sementara kaki melangkah ke arah jendela.


Pria itu menyibak tirai karena ternyata hari mulai petang dan dipastikan para karyawan sudah pulang. “Indah banget, ya, Rabbi ciptaan-Mu.”


Langit yang awalnya biru cerah, perlahan menguning dan sebagian gelap karena matahari mulai tenggelam. Sakti berdiri di tempat  beberapa detik sembari mengagumi pesona alam. Bertahun-tahun tinggal di gedung tersebut, jarang sekali pria itu menikmati waktunya.


“Gue bahkan nggak sadar bentar lagi kepala tiga,” gumam Sakti lagi.

__ADS_1


Membahas umur, Sakti menoleh ke belakang. Dia tutup tirai ruangan dan bergegas mendatangi Angkasa karena ingin mengajak pulang.


“Pules banget ni anak,” kata Sakti sembari berjalan mendekat.  Tiba di sofa, dia menggoyang lengan Angkasa yang sejak tadi menumpu kepala.


“Ka, bangun.”


Panggilan pertama tidak ada respons. Sakti mencoba lagi. “Kasa, kita balik.”


Lagi-lagi tidak ada respons membuat Sakti inisiatif memeriksa. Ketika meraba kening sahabatnya, dia langsung panik. “Anjir ni anak malah demam tinggi.”


“Kasa, bangun! Gue bantuin lo ke rumah sakit.”


Angkasa merintih pelan. Dia sulit membuka mata karena kepalanya seperti tertiban batu. Kesadaran yang dimiliki tidak utuh karena menurutnya hanya kegelapan yang tampak.


Khawatir Angkasa kenapa-kenapa, Sakti segera memesan taksi online. Dia juga menelepon sekuriti untuk membantunya memapah Angkasa agar segera sampai di lantai bawah.


Tidak menunggu lama, taksi tiba. Dengan kesadaran yang ada, Angkasa pasrah dan tetap ke rumah sakit.


IGD menjadi tempat tujuan pertama. Sudah berapa kali Angkasa masuk tempat tersebut setelah pertemuannya dengan Myria? Sakti sampai lelah sendiri, tetapi tidak bisa mencegah sahabatnya.


“Tunggu infus ini habis. Nanti baru bisa pulang,” kata dokter yang baru saja menangani.


Sakti mengangguk lalu membiarkan sang dokter beserta perawat pergi. Dia akan memanggil petugas kesehatan itu lagi jika diperlukan. Namun, selama Angkasa menurut, pasti tidak ada hal membahayakan.


Lelah berdiri, Sakti kembali menghampiri brankar dan berakhir duduk di dekat kaki sang sahabat. Dia keluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.


Angkasa yang sudah sadar sejak tadi menengok Sakti. “Jangan ngehubungi nyokap gue.”


Tanpa mengalihkan perhatian, Sakti menimpali, “Enggak. Gue kirim pesen sama Friska buat tanya Myria. Tunggu dia bales.”


Perkataan Sakti cukup membuat Angkasa bernapas lega. Tidak terbayang, seperti apa omelan sang ibunda jika tahu dirinya masuk rumah sakit lagi. Bisa-bisa, Nyoya Nasita memberi larangan mutlak tanpa kelonggaran sedikit pun nanti.


Berbeda dari Angkasa yang selalu ditemani Sakti, Myria kini seorang diri. Dia tengah merenung sembari menikmati sinar rembulan.


“Kamu tidak ingin pulang, Nak? Orang tuamu pasti khawatir.”

__ADS_1


Myria menoleh, lalu menguntai senyum di balik cadarnya. “Tidak sekarang, Bunda. Saya harap Bunda tidak keberatan atas kehadiran saya di sini.”


__ADS_2