
“Duduk.”
Telinga mendengar perintah. Myria merendahkan tubuhnya hingga mendarat di ranjang. Pandangannya terus menunduk karena tak berani menatap Angkasa.
Ada kepingan hati sang suami yang memanas saat menuju kamar. Myria bisa merasakan itu tiap entakan kaki memijak anak tangga. Alhasil, wanita yang masih berpakaian tertutup lengkap dengan cadar itu tak berani berucap sedikit pun daripada menyulut emosi.
Angkasa pasti penat setelah bekerja seharian, tetapi Myria justru menunjukkan wajah sendu beserta mata sembab. Meski sebenarnya bukan keinginan Myria, tetapi apa boleh buat? Wanita itu sudah berusaha mengompres mata dengan kantung es tadi setelah menangis, tetapi tetap saja tak bisa hilang dalam sekejap.
Angkasa ikut duduk di samping Myria. Mata hitamnya menatap tajam penuh ketegasan, sementara bibir masih terkunci rapat. Akan tetapi, dari deru napas yang terembus, terasa begitu nyata bahwa pria itu menahan sesuatu.
Sepuluh menit berlangsung dalam kebisuan, bibir Angkasa mulai bergerak. “Ceritain apa aja yang kamu lakuin begitu sampek di rumah ini.”
Tangan yang ada di pangkuan meremas roknya sendiri. Tundukkan kepala Myria ternyata makin mengundang ketidakpuasan Angkasa. Pria itu pasti akan terus mencerca sebelum dapat jawaban.
“Myria!”
“A–aku cuma ngobrol bentar sama Bunda sebelum kamu dateng.” Suara Myria hilang timbul. Antara takut dan menahan kesedihan melebur hingga lidahnya kesulitan bergerak. Dia makin menunduk saat jawabannya tak membuat Angkasa bicara lagi.
__ADS_1
Tubuh tinggi 182 sentimeter itu berdiri. Angkasa melepas blazer lalu menggulung lengan kemeja. Namun, saat melakukan itu, dua matanya terus menatap lekat pada sang istri.
“Obrolan apa yang kamu bahas sama Mama?” Lagi, pertanyaan Angkasa makin membuat Myria tersudut. Istri cantiknya itu tak bisa berkutik.
“Aku lagi capek, Myria. Jangan bikin orang ngomong berkali-kali!”
Dengan keberanian yang berceceran, Myria mulai mengangkat kepala dan membalas tatapan. Sekalipun akan ada kemarahan lebih dahsyat lagi dari pria di sampingnya kini, Myria tetap berusaha jujur. “Kasa ….”
Angkasa bergeming. Tidak sedikitpun dia berkedip atau bergerak. Dua matanya makin serius memandang.
“Aku ngobrol sama Bunda soal masalah kita.”
“Ma–maaf, Ka—”
“Kamu mau membangkang, Myria?” Intonasi tak lagi rendah. Angkasa menaikkannya beberapa oktaf dan sukses membuat tumpukan air mata di pelupuk mata Myria berjatuhan.
“Apa tujuanmu? Aku udah bilang, kita nggak perlu ngomong apa-apa dulu. Usaha terapi masih berjalan, kan? Kenapa gegabah? Kamu bisa ngerti tujuanku ngelarang buat apa?”
__ADS_1
Bukannya menjawab, tangis Myria makin tak terkendali. Biasanya, saat seperti itu selalu ada yang memeluk, entah itu Angkasa atau Friska, tetapi sekarang tidak. Hati Myria makin perih dan teraduk-aduk.
“Myria, pasangan nutup masalah di rumah tangga itu kebaikan. Cukup sampai dinding rumah kita aja itu dibawa. Kalau kita keluar, lupakan bentar dan jangan bahas lagi. Aku tahu Mama keluarga kita, tapi selama kita bisa ngadepin ini, udah kubilang nggak perlu dulu ngomong apa-apa.”
Entah khilaf atau pengaruh rasa letih hingga membuat Angkasa marah-marah seperti itu. Padahal, dia paling tidak bisa saat mendapati Myria menangis. Akan tetapi, untuk kali ini, rasa ibanya tersingkir beberapa saat sehingga tega membiarkan sang istri sesenggukan.
Tak ada tanggapan dari Myria kecuali kata maaf.
Angkasa bangkit. Mandi mungkin menjadi pilihan terbaik untuk pria itu agar sejuknya air bisa mendinginkan kepala dan hati.
“Kasa.” Panggilan mengudara saat Angkasa meninggalkan tempat. Myria menyahut sapu lidi yang biasa terletak di dekat ranjang karena selalu dipakai sebelum tidur. Saat mendapati langkah suaminya berhenti, dia melanjutkan ucapan, “Kamu bisa pukul aku kalau ngerasa aku udah durhaka karena lalai ngejalani amanah suami.”
Respons tak ditunjukkan Angkasa beberapa detik. Saat detik kesepuluh, pria itu berbalik. “Bawa kemari!”
Sakit! Hati Myria mendengar jawaban Angkasa. Dia kira, pria itu tak akan melakukan apa pun, tetapi kenyataan sepertinya berbeda. Menaati perintah dan menjaga amanah adalah kewajiban, Myria menurut. Kakinya mengayun maju, lalu menyerahkan sapu lidi pada Angkasa.
“Berbalik dan berlutut!”
__ADS_1
Myria lekas berbalik dan berlutut membelakangi. Wajahnya yang belum kering, kembali basah karena air mata terus menetes. Siapa mengira kecerobohannya mengundang kemarahan Angkasa sampai di titik seperti ini.
“Buka jilbabmu dan jadikan ini pelajaran!”