Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 21


__ADS_3

Langkah Angkasa terhenti seiring tatapan mengarah ke pelataran, di mana ada Myria yang baru turun dari mobil. Rasa penasaran tumbuh di hati sekaligus heran karena tumben sekali sang mantan istri tidak diantar Friska seperti biasa.


Angkasa sengaja berangkat lebih pagi dari jam kerja biasanya karena kesibukan. Setiap awal produksi item baru, semua orang memang sibuk dan serius. Pria itu tanpa sadar bergeming di tempat dan tidak segera masuk. Beberapa karyawan menyapa, tetapi seolah tidak mendengar karena fokusnya ada pada Myria. Bukan tanpa alasan dia melihat Myria sampai seperti itu, melainkan karena sosok yang mengantar adalah pria.


Lipatan halus muncul di kening Angkasa. Dua alis hitam yang dimiliki nyaris saling bertautan karena ekspresi herannya tidak bisa ditutupi lagi. Tidak hanya itu, rasa panas mendadak menjalar di dada tanpa mau mengaku.


“Pagi, Pak.” Sama seperti karyawan lain, Myria menyapa sopan saat hendak melewati Angkasa. Mata indahnya menyipit saat melempar senyum yang tertutup.


Bukannya membalas, Angkasa justru menatap sebentar dengan tatapan sulit dipahami. Tubuh berbalut blazer hitam itu berputar lalu meneruskan langkah dan bersikap abai tanpa peduli.


Meski agak aneh, Myria berusaha tak acuh karena tidak paham mengapa sikap Angkasa demikian. Dia tidak merasa bersalah dan beranggapan mungkin memang mood mantan suaminya itu sedang buruk akibat pekerjaan. Bahu wanita itu mengedik, lantas berjalan di belakang Angkasa dengan jarak cukup jauh karena langkah pria itu begitu lebar.


Ibarat peribahasa malang tak bisa ditolak, mujur tidak dapat diraih, Myria memasuki lift yang sama dengan Angkasa. Dia tidak tahu apa mantan suaminya itu memang sering memakai lift karyawan padahal ada lift khusus para pimpinan. Akan tetapi, apa pun itu, suka-suka Angkasa saja, Myria pikir itu urusan Angkasa sebagai pemilik.


Tak cukup hanya satu lift bersama Angkasa yang cuek pagi ini, ternyata Myira juga hanya berdua dengan pria itu. Andai tahu dan tidak dikejar waktu, Myria akan memilih mundur dan urung masuk.


Pintu lift memantulkan bayang dua sosok yang ada di dalam. Myria enggan menoleh ke belakang saat aura si bos terasa mencekam. Bisa-bisa dia kena semburan kata-kata pedas andai ada sesuatu hal yang tidak benar menurut Angkasa.

__ADS_1


Lantai lima terasa sangat jauh dalam keadaan seperti itu. Berulang kali Myria mengetuk-ngetuk ujung sepatu ke lantai lift untuk membuang kecanggungan. Kepala sengaja menunduk karena dia menghindari tatapan Angkasa yang ada di pintu.


“Jadi itu alasanmu kemarin nggak mau jawab soal tawaranku?”


Ketukan kaki Myria berhenti. Tangan yang sejak tadi bertengger di tali tas, kini berubah meremas. Kepala Myria terangkat karena ingin membalas tatapan Angkasa. Hanya sepintas dia melihat pria di belakangnya itu lalu kembali menunduk. “Apa maksudnya?”


“Kamu masuk dalam golongan cewek pinter di sekolah dulu, omonganku apa perlu dijelaskan?”


“Hah?” Myria mendadak tidak nyambung. Entah dirinya yang belum sadar dari tidur atau memang Angkasa yang rumit pagi ini karena menyuruh orang berpikir untuk menemukan jawaban dari kalimatnya barusan.


“Ngomong apa, sih, Ka … sa.” Baru hendak protes, pintu lift terbuka sehingga memaksa Myria menelan kembali semua kosakata. Angkasa meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan dan membuat Myria berpikir keras.


Pekerjaan banyak, sejenak membuat Myria lupa atas sikap Angkasa pagi tadi. Namun, tidak bagi pria itu. Angkasa justru marah-marah di ruangan dan yang terkena imbas adalah Sakti.


Pria yang memiliki hobi sama seperti Angkasa itu hanya bisa pasrah. Sakti berulang kali membuang napas berat untuk tetap mengontrol diri. Andai bukan karena rasa sayang, mungkin sudah terjadi pertempuran di ruang pimpinan perusahaan tersebut.


“Gue panggil Myria kemari kalau lo masih kayak orang kerasukan gini.” Sakti mulai bicara serius tanpa peduli tatapan nyalang diberikan Angkasa setelah mendengar kalimatnya itu.

__ADS_1


“Cuma perkara model yang mengatur ulang jadwal pemotretan aja, lo ngamuk sampai kayak gini? Sumpah, lama-lama gue ubanan ngadepin lo, Ka!” Tablet yang ada di tangan ingin sekali dibanting lantaran geram. Sakti manusia normal yang juga memiliki emosi sendiri.


Akan tetapi, semua tidak terjadi karena Sakti memilih duduk dan meneguk minuman dingin dari kulkas. Pria itu bukan hanya sekali dua kali, tetapi sudah bertahun-tahun menghadapi sikap Angkasa yang sering lupa diri karena suatu hal. Sakti mulai terbiasa itu sejak sahabatnya keluar dari rumah sakit kejiwaan.


“Tenangin diri lo sebelum kita bahas hal lain.” Ungkapan kesabaran terucap lagi, Sakti malas melihat Angkasa dan dia tetap duduk tenang di sofa sambil menghabiskan minum.


Hampir satu jam tidak ada obrolan. Sakti membisu karena sengaja memberi waktu untuk sahabatnya mengontrol emosi. Dia juga tidak beranjak dari ruangan Angkasa lantaran ingin menemani.


Jam di ponsel menunjuk waktu istirahat. Sakti baru berdiri dan menghampiri meja Angkasa. “Jam istirahat. Kita keluar aja sekalian cari angin. Absen dulu dari jamaah di kantor, kita jamaah di masjid biasanya.”


“Nggak usah nolak. Gue males debat.” Angkasa baru hendak menyanggah, Sakti lebih dahulu memberi peringatan. Harapan pria itu, sedikit suasana di luar, semoga bisa mengembalikan perasaan baik di hati sahabatnya.


Dua pria meninggalkan gedung perusahaan. Sesuai omongan Sakti, mereka salat di masjid lalu dilanjut makan di restoran terdekat. Selama perjalanan, Sakti tidak bertanya penyebab Angkasa mengamuk hari ini karena malas melihat sahabatnya itu kembali seperti tadi.


Ketika sampai di restoran dan baru selesai memesan, Sakti tidak sengaja mendapat pemandangan yang mengejutkan.  Dia melihat Myria bersama Friska juga tengah makan di restoran tersebut. Namun, dua wanita itu tidak hanya berdua, tetapi ada satu pria berkulit putih dengan paras khas orang luar negeri ikut bergabung.


“Sekarang gue tahu apa yang bikin lo ngamuk seharian ini.” Sakti bicara, tetapi fokus matanya mengarah lurus ke depan sehingga Angkasa yang duduk di depannya ikut memutar badan.

__ADS_1


Pemandangan menyakitkan hati pagi tadi kembali terulang. Tangan Angkasa sudah mengepal tanpa sadar dan dia ingin bangkit dari kursi.


Satu tangan Sakti buru-buru menahan lengan Angkasa yang hendak berdiri. “Nggak usah pergi karena itu. Makan dulu, gue bantu lo cari tahu siapa pria itu habis ini.”


__ADS_2