Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Marta mengajak Rita


__ADS_3

Setelah melihat semuanya, Marta pun yakin kalau Rita merupakan gadis baik-baik. Dan Marta juga menelusuri keluarga temannya itu. Iya berasal dari keluarga yang baik. Dan sikap Rita juga sama seperti sikap Namira yang baik dan sopan.


"Aku suka dengan anak ini.. ini sangat sesuai dengan sikap Namira. Saya yakin Rival pasti suka dengan gadis ini.." Ucap Marta.


.


.


.


Marta melihat suaminya masih terlihat geram dengan Rival. Karena Rival sungguh sangat tempramen saat ini gara-gara Namira. Marta melihat Helsen yang mondar-mandir ga karuan karena kesal dengan Rival. Kemudian, Marta pun menghampiri Helsen dan berkata.


"Papa ini kenapa sih? Dari tadi papa terus mondar-mandir mama perhatikan.." Tanya Marta.


"Bagaimana papa ga kesal ma.. kalau Melihat Rival selalu begitu.. memangnya ga ada perempuan lain selain Namira?" Ujar Helsen. Dan Helsen pun berkata lagi.


"Namira itu ga hidup, ga mati.. masih saja menyusahkan orang lain.." Ucap Helsen lagi. Marta hanya bisa menggelengkan kepala. Kemudian Marta pun berkata.


"Sabar dong pa.. ga perlu marah-marah seperti itu.. Lagian ini juga salah papa.." Ucap Marta.


"Apa? Salah papa? Kenapa bisa mama berbicara seperti itu?" Tanya Helsen.


"Ya, iyalah salah papa.. papa yang selalu menekan Rival, ikut campur masalah Rival.. dan berfikiran negatif tentang Namira.. apa papa tidak sadar dengan perbuatan papa?" Ucap Marta.


"Tapi, kan ma.."


"Stop! Papa tetap salah.. untuk menghadapi Rival, bukan seperti itu caranya.. bukan dengan cara dipaksa.." Ujar Marta. Helsen pun tidak mengerti apa maksud Marta.


"Maksud mama bagaimana?" Tanya Helsen.


"Pa.. maksud mama itu, kita harus mencarikan Rival dengan gadis lain.. ya, meskipun ga sama dengan Namira.. seenggaknya sikapnya sama dengan Namira.." Ujar Marta.


"Tapi, apakah ada gadis jaman sekarang yang sama dengan Namira?" Tanya Helsen.


"Ada dong pa.. mama punya teman, dia punya anak gadis.. Dan mama sudah selidiki ini anak, beserta keluarganya juga.. dan anak ini, sama sikapnya dengan Namira.. iya juga cantik seperti Namira.. dan dia juga seiman dengan kita.." Ucap Marta. Helsen masih tidak yakin dengan Rival.


"Lalu, bagaimana dengan Rival ma? Apa dia mau?" Tanya Helsen tidak yakin.


"Ya, kita jangan terlalu memaksa pa.. kita coba dekatkan mereka dulu.. tanpa memberitahu Rival.. kita coba aja dulu.. bukan kita yang merubah Rival, tapi gadis itu sendiri.." Ucap Marta.

__ADS_1


"Mama yakin ini bisa?" Tanya Helsen lagi.


"Iya pa.. kita coba aja dulu.. lagian anak itu sopan kok.. lambat laun, Rival pasti suka sama dia.." Ujar Marta.


"Baiklah papa setuju.. semuanya papa serahkan sama mama.." ujar Helsen.


"Tapi ingat.. papa ga boleh menekan Rival lagi.." Ujar Marta. Helsen pun mengangguk.


"Iya ma.." Jawab Helsen.


...****************...


Marta pun mendatangi rumah temannya itu. Marta mulai mengetuk pintu rumah Rita. Tak lama, mama Rita pun membukakan pintu untuk Marta.


"Eh.. jeng Marta.. tumben kesini.. ayo masuk.." Ajak temannya itu. Mereka pun langsung masuk ke rumahnya. Dan temannya itu menyuruh Marta untuk duduk. Iya pun menyuruh Marta hidangan kue dan minuman.


"Ada perlu apa kesini jeng?" Tanya temannya itu.


"Saya kesini.. ada hal penting yang ingin saya bicarakan.." Ucap Marta. Teman Marta pun merasa penasaran.


"Hal penting apa jeng?" Tanya temannya itu.


"Maksud jeng Marta.. Rita?" Tanyanya.


"Iya jeng.. Begini jeng.. anak saya Rival, itu tidak bisa move on dari kekasihnya yang sudah meninggal. Dia terus saja mengingat kekasihnya itu.. Dia menjadi tempramen.. dan ketika kami menegurnya, dia malah marah-marah dan selalu menyalahkan kami.. kami bingung.. iya terus saja menyalahkan dirinya karena tidak bisa menyelamatkan kekasihnya itu.." Ujar Marta memberi alasan.


"Memang kekasihnya itu meninggal karena apa jeng?" Tanya temannya itu.


"Dia meninggal karena terbakar.. Dia terjebak dalam kebakaran di suatu ruangan.. dan tidak ada satupun orang yang mampu menyelamatkannya.. karena api sudah berkobar dan merambat kemana-mana.." Ujar Marta.


"Ya ampun.. tragis sekali nasibnya.. terus, apa yang bisa anak saya lakukan?" Tanya temannya itu.


"Yang perlu Rita lakukan adalah, membuat iya melupakan kekasihnya itu.. agar dia bisa lembut dan tidak tempramen lagi.." Ucap Marta.


"Memangnya.. Rita bisa melakukan itu?" Tanya temannya itu tidak yakin.


"Saya yakin pasti bisa.. karena sikap Rita itu persis seperti kekasihnya Rival anak saya.. dan saya yakin, lambat laun Rita pasti bisa membuat Rival melupakan kekasihnya itu.. saya mohon jeng.. saya butuh bantuan Rita.. saya ga tega liat anak saya terus tersiksa.. Berapa pun akan saya bayar Rita.. asal anak saya bisa sembuh.." Ujar Marta.


"Aduh.. gimana ya jeng.. kalau saya sih.. ga apa-apa.. saya malah senang bisa membantu jeng Marta.. tapi, bagaimana dengan Rita.." Ujar temannya itu.

__ADS_1


"Saya mohon jeng.." Ucap Marta memohon.


"Baiklah.. saya coba bicara dulu sama Rita ya jeng.. tapi saya ga janji.." Ucap temannya itu. Marta pun mengangguk senang mendengar ucapan temannya itu.


Kemudian temannya itu memanggil anaknya Rita. Dan Rita pun segera turun untuk memenuhi panggilan mamanya.


"Ada apa ma?" Tanya Rita.


"Rita.. duduk dulu nak.." Ujar mamanya. Rita pun duduk di samping mamanya.


"Ada apa ma?" Tanya Rita.


"Rita.. ada hal penting yang ingin mama bicarakan sama kamu.." Ujar mamanya.


"Hal penting apa ma?" Tanya Rita.


Kemudian, Marta pun berbicara sendiri kepada Rita. Iya menceritakan bagaimana Rival kepada Rita. Dan Marta sangat membutuhkan bantuan Rita. Mendengar cerita Marta, Rita merasa kasian dengan Marta. Tapi, Rita ga yakin bisa melakukan itu.


"Tapi, Rita ga yakin.. bisa melakukan itu tante.." Ujar Rita.


"Tante yakin.. kamu bisa Rita.. berapa pun akan tante bayar.. asal anak saya bisa sembuh.." Ujar Marta.


"Ya, sudah.. Aku coba ya tante.. tapi Aku ga janji ya.. Aku bisa berhasil atau enggak.." Ucap Rita. Marta pun mengangguk paham.


...****************...


Marta pun mulai mengajak Rita ke rumahnya. Melihat rumah Marta, Rita sangat terkejut. Karena rumah Marta sangatlah besar.


Nadia yang melihat mereka berdua pun heran dan bertanya-tanya. Kemudian Nadia pun menghampiri mereka. Dan Nadia bertanya kepada mamanya tentang gadis yang dibawanya itu.


"Ma.. siapa perempuan ini?" Tanya Nadia. Kemudian, Marta pun menyeret Nadia untuk sedikit menjauh dari Rita. iya berbicara sesuatu kepada Nadia agar tidak di dengar oleh Rita.


"Apa ma? Jadi.. gadis itu?" Tanya Nadia.


"Nadia.. kamu jangan jadi pengacau ya.. ini semua demi kebaikan kakak kamu.. kamu mau kakak kamu terus tersiksa?" Ujar Marta. Nadia pun menggelengkan kepala.


"Enggak ma.. Nadia pengen kak Rival kembali ceria seperti dulu.." Ujar Nadia.


"Ya, makanya.. kamu diam.. paham!" Ucap Marta. Nadia pun mengangguk paham.

__ADS_1


__ADS_2