Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 64


__ADS_3

“Pembangunan rumah kalian sampai mana?”


Akhir pekan digunakan Angkasa mengunjungi sang ibunda. Bersama Myria, pria itu tiba beberapa jam lalu. Saat ini, dia sedang menikmati waktu bersantai dengan kedua orang tua sembari mengobrol.


Angkasa meneguk jus melon yang baru saja dibawa Nyonya Nasita dari dapur. “Udah, Ma. Dari bulan-bulan kemarin sebenarnya. Tinggal nempati aja. Tapi, kan, Myria sibuk terus buat persiapan resepsi Friska kemarin-kemarin, jadi kami belum sempet pindahan.”


“Jangan lupa kabari Mama kalau butuh apa-apa. Lebih seringlah kemari, rumah rasanya sepi tanpa kalian.”


Myria mendekat, lalu memeluk ibu mertua. Ada perasaan sedih saat Nyonya Nasita mengungkapkan kata hati. Bagaimanapun juga, Nyonya Nasita pasti masih menganggap Angkasa bayi kecil yang dahulu selalu dimanjakan.


“Bunda, jangan sedih. Myria bakal sering-sering ke sini kalau pulang dari butik. Sekalian nunggu Kasa pulang dar kantor, biar bisa nemenin Bunda meski nggak lama. Gimana?”


Tawaran Myria ada bagusnya. Selain pada Angkasa, perasaan Nyonya Nasita terhadap menantu satu-satunya itu tak kalah sayang. Beliau tentu setuju karena merasa ada teman mengobrol sore hari. “Iya. Sekalian kalau Kasa ke luar kota, kamu menginap di sini.”


“Ya, Bunda.”


Angkasa menghela napas melihat sikap ibunya, sementara Tuan Aji hanya bisa geleng kepala. Tidak ada yang bisa mengganggu obrolan para wanita jika sudah asyik seperti itu.


“Ma, biarkan anak-anak istirahat. Mama lepaskan Myria.”


Tawa Nyonya Nasita dan Myria langsung terhenti mendengar perintah Tuan Aji. Dua wanita itu saling pandang, lalu Nyonya Nasita berujar, “Iya, Papa benar. Mama sampai lupa kalau kalian baru sampai. Istirahatlah. Kamar sudah dibersihkan.”

__ADS_1


“Myria masih mau ngobrol sama Bunda, kok.”


“Sayang ….” Wajah Angkasa berubah masam. Ketika sang istri bersama sang ibunda atau Friska, sudah pasti dia dikacangi. “Besok, kan, bisa ngobrol lagi. Ayo, ke kamar.”


Myria hendak protes, tetapi Nyonya Nasita mengingatkan bahwa Angkasa lebih berhak dapat perhatian. Maka dari itu, sudah seharusnya Myria patuh.


“Tidur yang nyenyak kalian.” Perkataan Nyonya Nasita menjadi penutup obrolan malam itu. Sehingga tersisa beliau yang masih berada di ruang tengah hanya dengan sang suami.


“Anak-anak kenapa tidak ada yang membahas kehamilan, ya, Pa? Tapi Mama tidak enak mau nanya seperti itu pada Myria.”


Tuan Aji menarik sang istri ke pelukan. “Mungkin belum. Nanti juga cerita sendiri, Ma, kalau memang sudah ada tanda-tanda. Mama sabar aja.”


“Tapi mereka nikah hampir setahun, lho, Pa.”


Keturunan dari Angkasa adalah satu-satunya yang akan menjadi penerus keluarga. Pikiran Nyonya Nasita tidak sepenuhnya salah karena hanya pada sang putra beliau bisa berharap. Sementara keluarga Myria, masih ada Andreas yang bisa memberikan cucu.


Ada saat Nyonya Nasita khawatir perkara penerus, tetapi beliau lebih mementingkan kenyamanan sang menantu daripada timbul perang batin.


Sudah terlalu banyak perselisihan antara menantu dan mertua yang tidak akur di luaran sana. Maka dari itu, Nyonya Nasita tidak ingin hubungannya dengan Myria berubah seperti demikian.


Pagi hari, selepas sarapan, semua orang yang ada di rumah Tuan Aji bersiap melihat rumah baru Angkasa dan Myria. Dengan menggunakan satu mobil, empat orang itu mulai melakukan perjalanan.

__ADS_1


Perjalanan ditempuh tidak lama karena jarak rumah tidak terlalu jauh. Tiba di cluster perumahan yang menjadi tujuan, semua orang segera turun begitu mobil berhenti.


Rumah dengan cat tembok dominan abu-abu dan putih itu terbuka. Angkasa mengajak semua orang masuk.


Dari ruang tamu sampai dapur, tidak terlalu banyak barang karena belum diisi sepenuhnya. Baik Angkasa maupun Myria, mereka memang cukup sibuk.


“Belum ada rencana pindah ke sini, Nak?” Langkah Nyonya Nasita menyusuri ruang demi ruang. Tatapannya mengamati setiap detail bangunan dua lantai tersebut.


“Pindah, Ma. Habis ngisi semua furniture yang dibutuhin. Ini baru dua kamar dan dapur aja yang sempet. Sisanya biar ditentuin mantu Mama mau gimana.”


"Myria sibuk sekali, ya? Apa kamu tidak pernah memintanya untuk lebih banyak istirahat?"


Pertanyaan Nyonya Nasita membuat alis Angkasa naik satu sisi. Ada asumsi mendatangi di kepala pria itu. Antara mengungkap bahwa Angkasa yang tidak tegas sebagai suami atau Nyonya Nasita yang terlalu menyayangi Myria dan tidak setuju saat si menantu terlalu sibuk.


"Apa maksud Mama?" Beruntungnya, Myria sedang melihat-lihat area belakang rumah sehingga Angkasa berani bertanya demikian.


Nyonya Nasita menghela napas berat. Wanita itu mendekati sang anak. Wajah teduhnya berubah tegas dengan tatap intimidasi. "Jangan terlalu membiarkan Myria sibuk apalagi sampai kelelahan. Mama juga ingin cucu darimu."


.


......................

__ADS_1


Kak, masih adakah orang? Sepi amat yang baca, aku lihat dari bab 59 kemarin like dah mulai turun drastis. Pada meninggalkan Kasa, kah? 😆


Yuk, yg masih stay, bisa komen "hai" di kolom komentar biar aku tahu kalau masih ada orang baca sampai di bab ini. Hehe


__ADS_2