Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 40


__ADS_3

“Tirta, tinggalkan pekerjaanmu sebentar. Myria baru saja pulang.”


Dua mata Tuan Tirta membeliak mendengar kabar yang disampaikan sang istri. Tanpa pikir panjang, pria itu menyahut jas dari kursi dan segera keluar.


Daniel yang hendak masuk ruangan kaget karena hampir bertabrakan dengan Tuan Tirta. Beruntung, bosnya tidak marah.


“Antar aku pulang, Dan,” kata Tuan Tirta semakin mempercepat langkah.


Merasa situasi genting, Daniel bergegas. Dia urungkan penyampaian laporan para anak buahnya yang sejak kemarin-kemarin mencari Myria.


Mobil melaju meninggalkan perusahaan milik keluarga Nyonya Caroline. Tuan Tirta yang ada di belakang tidak bisa duduk tenang. Berulang kali beliau meminta Daniel mempercepat laju kendaraan dan sukses membuat sang asisten kuwalahan.


Perjalanan hanya setengah jam dari kantor, tetapi terasa begitu lama bagi Tuan Tirta. Pria itu tentu tidak sabar melihat putrinya yang pulang sendiri tanpa dipaksa.


Mesin mobil baru mati, Tuan Tirta langsung turun tanpa menunggu dibukakan oleh Daniel. Dia setengah berlari saat menaiki anak tangga teras rumah dan segera menuju ruang tengah di mana Nyonya Caroline memberi tahu keberadaan.


“Caroline, di mana Myria?” Suara Tuan Tirta menggema di ruang tengah dan bisa didengar semua orang yang ada di sana.


Semua orang berdiri. Ada Nyonya Caroline bersama Andreas dan juga Myria. Mereka kompak menoleh, tetapi Myria yang langsung mendatangi. “A—”


Belum selesai panggilan dari Myria, Tuan Tirta sudah menarik ke pelukan. Pria tua itu memeluk erat sembari menangis. Kecupan bertubi-tubi bahkan diberikan di puncak kepala sang putri. “Kamu sehat, Myria? Ya, Allah, Nak. Kenapa harus menyiksa Ayah sampai seperti ini?”


Hati Myria seperti tersayat belati. Dia ikut menangis tersedu di pelukan. Segala sakit hatinya ditumpahkan begitu saja tanpa peduli mengotori pakaian Tuan Tirta. “Maafin aku, Yah. Maaf ….”


“Kamu tidak salah. Ayah yang salah sampai berbuat kasar padamu. Maafkan Ayah yang tidak memahamimu. Maafkan Ayah kalau belum bisa sebaik ibumu.”


Membahas mendiang  ibunya, tangis Myria makin tak terkendali. Dia berangan-angan, andai Nyonya Kinara masih hidup, mungkin kemarin saat dipukul Tuan Tirta, wanita itulah yang akan membela.


Cukup lama Myria merasakan hangatnya pelukan Tuan Tirta. Tak hanya dari pria itu, tertanya Nyonya Caroline ikut melakukan hal yang sama dari belakang. Ibu sambung itu memang tak kalah baik, kehidupan Myria memang banyak keberuntungan andai dia selalu bersyukur.


“Caroline, makan siang sudah disiapkan?” Tuan Tirta bertanya setelah melepas pelukan pada anggota keluarga.


Wanita bertunik motif bunga daisy itu mengangguk. Dia menggiring Myria ke meja makan. “Daddy sudah datang. Kita makan bersama, lalu istirahatlah.”


Myria setuju. Dia membuka cadar sepanjang kaki melangkah ke meja makan. Aroma masakan yang menggugah selera, berhasil mengusir kesedihan sementara. Myria makan dengan lahap tanpa banyak bicara.


Tuan Tirta sendiri melakukan hal yang sama. Dia sempatkan telepon Daniel sebentar agar asistennya itu melanjutkan pekerjaan yang tadi ditinggal.


Makan siang yang biasanya jarang terjadi karena semua orang sibuk, hari ini justru terasa begitu hangat. Impitan batu di dada Tuan Tirta seolah lenyap hingga mencipta perasaan lega saat melihat lagi paras putrinya. Hampir sebulan ditinggalkan, sudah cukup membuat beliau bersedih tiada henti.

__ADS_1


Setelah makan, Myria memilih istirahat. Dia hidupkan ponsel sejenak dan ternyata timbunan pesan dan panggilan tak terjawab datang bertubi-tubi.


Satu notifikasi membuat Myria teringat seseorang. Friska, sahabatnya itu pasti ikut panik seperti yang lain.


Kalimat singkat diketik Myria lalu dikirimkan pada Friska agar sahabatnya itu tenang sekarang. Myria katakan bahwa telah di rumah dan akan berkunjung nanti malam. Namun, tidak menunggu lama, telepon dari Friska masuk dan wanita itu mengatakan dirinya saja yang akan ke rumah.


“Nggak pa-pa, kamu tidur aja dulu. Habis asar aku otewe, My.” Setelah bertanya panjang lebar, kalimat itu menjadi penutup pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.


“Hati-hati.”


“Iya, kamu juga istirahat. Aku matiin, ya. Assalamualaikum.”


Ponsel kembali ke meja dekat ranjang setelah menjawab salam. Myria bertolak ke kamar mandi membersihkan diri dan baru tidur. Meski hati masih sedikit resah atas pilihannya menyerah, dia tetap bisa tidur nyenyak.


Kesadaran Myria hilang beberapa jam. Dia terbangun kala azan di ponsel berbunyi. Salat dan mandi segera dia laksanakan dan baru keluar kamar. Ternyata, di ruang tengah sudah ada Friska dan Nyonya Caroline sedang mengobrol.


“Fris, dari tadi?”


Wanita berjilbab sage itu mendongak. Dia berdiri dan menghampiri Myria. Seperti Tuan Tirta, Friska memeluk sambil menangis. “Ya, Allah, My …  bisa-bisanya kamu nggak kasih kabar aku sama sekali. Masih nganggep aku temenmu bukan?”


Helaan napas keluar dari mulut Myria. Tepukan-tepukan ringan dia berikan pada punggung Friska. “Maaf udah bikin semua orang bingung. Ayo, duduk lagi.”


Friska mengiyakan dan kembali duduk. Dia tatap lamat-lamat sahabatnya sampai membuat Myria paham apa yang diinginkan.


Tanpa basa-basi, Myria ceritakan semua yang telah berlalu: tentang pertengkarannya bersama Tuan Tirta dan pilihannya untuk tak lagi berharap pada Angkasa.


“Kamu yakin, My?” Keheranan tak bisa ditutupi Friska. Namun, dia berusaha tidak heboh sama sekali. “Tapi Kasa?”


“Dia akan hidup baik-baik saja. Aku yakin itu.”


“Tapi sakit yang diderita?”


Myria terdiam sesaat mendengar pertanyaan lanjutan dari Friska. Setelah kepergian Angkasa dari panti kala itu, dia memang belum bertanya kabar apa pun. Komunikasi dengan Nyonya Nasita juga belum ada. Alhasil, tidak tahu pasti keadaan Angkasa sesungguhnya. “Nanti aku tanya Bunda,” jawabnya selepas berpikir.


“Perlu aku tanyain ke Sakti sekarang?” Friska mengeluarkan ponsel, tetapi Myria melarang.


Dua wanita itu akhirnya larut dalam obrolan hingga malam menjelang dan Friska pamit pulang.


Hari, pekan, dan bulan berganti. Sakti mulai curiga dengan sikap Angkasa. Dua bulan ini, sahabatnya lebih banyak diam dan fokus bekerja. Mirip saat perusahaan baru terbangun dahulu.

__ADS_1


“Udah lama lo nggak cerita soal Myria ke gue?” Segelas susu disodorkan Sakti pada Angkasa. Dua manusia itu sedang lembur karena harus memeriksa beberapa laporan.


Angkasa mengalihkan fokus dari laptop. Dia meminum susunya sebentar, lalu menggeleng tak yakin. “Nggak mood gue bahas itu.”


“Tumben banget lo gini? Bukannya Myria udah di rumah?”


Angkasa berdehem sebagai jawaban. Kemudian, pria itu lanjut menggarap pekerjaan.  “Di rumah udah lama kali. Ini udah berapa bulan dari waktu kita nyerahin donasi ke panti? Pertanyaan lo basi.”


“Ya, gue penasaran, Bro. Tumben banget lo nggak ngomong apa-apa.”


Kursi kerja bergoyang kala pemiliknya beranjak. Angkasa mendekati Sakti lalu menepuk bahu sahabatnya. “Myria milih mengakhiri hubungan. Dia bilang mau pasrah aja sama ketetapan Allah.”


 “Trus lo?” Sakti menyela karena tak sabar mendengar cara bicara Angkasa yang terkesan lamban.


“Ya, udah, gue terima. Nggak bisa maksa. Bokapnya aja nolak, sekarang anaknya juga. Apa yang harus diperjuangin kalau gini?”


Mulut Sakti menganga karena kehabisan kata-kata. Tidak ada pikiran sama sekali jika pengorbanan Angkasa selama ini akan berujung kesia-siaan. Berapa tahun sahabatnya itu menunggu dan enggan memiliki cinta yang baru, tetapi nyatanya mau tidak mau dipaksa move on.


“Woi! Jangan bengong gitu!” Kepala Sakti dapat pukulan. Kemudian, Angkasa pindah ke sofa. “Ustaz deket rumah lo masih terima CV buat taaruf nggak?”


Kesadaran Sakti utuh kembali. Tubuhnya ikut bangkit dan bergabung bersama Angkasa. “Masih. Lo mau taaruf?”


“Iya.”


Sakti terlonjak seketika. “Lo yakin, Ka?”


Anggukan dari Angkasa membuat Sakti makin syok. Antara sedih atau bahagia, pria itu bingung berekspresi sekarang. Dahulu, dia menggebu mencarikan jodoh untuk Angkasa agar sahabatnya itu tidak terlalu bersedih. Namun, sekarang Myria telah ada di depan mata, tetapi Angkasa ingin mencari jodoh yang lain. “Taaruf bukan buat mainan. Kalau hati lo masih penuh sama Myria, ini bukan solusi yang bagus.”


 “Gue tahu. Tapi emang nggak ada lagi yang diharepin dari Myria. Keputusan ini udah gue pikirin selama beberapa bulan. Bukan mendadak gitu aja.”


Sakti tak bisa menjawab. Pria itu membuang napas dan berpikir sejenak. “Gue bantu lo.” Jawaban itu akhirnya terlontar dan dapat tanggapan berupa senyum tipis dari sahabatnya.


.


.


............TBC..........


Kak, aku ngetik bab ini sambil deg-degan karena bab 40 harus seleksi editor lagi buat yang kedua kali.

__ADS_1


Moga aja masih tetep bisa nemenin Kakak Pembaca, yang di sini, ya.


__ADS_2