
Namira tampak kebingungan. Karena Iya tidak dapat berlari karena telah dikepung oleh api. Namira berteriak minta tolong. Tapi, sayangnya tidak ada orang yang mendengar teriakan Namira.
Sementara orang tua Namira juga panik. Mereka pun mencari Namira yang tidak ada di luar. Kayla juga tampak kebingungan karena kakaknya tidak ada. Akhirnya mereka menyadari bahwa Namira tertinggal di dalam.
"Ayah, Ibu.. kak Namira terjebak di dalam.." Ucap Kayla.
"Apa?" Abdullah tampak syok mendengar hal itu. Abdullah pun ingin masuk ke dalam dan ingin menyelamatkan Namira. Namun, beberapa orang menghalanginya. Karena api sudah cukup besar.
"Jangan pak.. jangan ke sana! Ini bisa bahaya.." Ucap orang-orang itu.
"Tapi, anak saya ada di dalam.." Ujar Abdullah.
"Kita tunggu tim penyelamat datang pak.." Ucap orang-orang.
Kemudian, Malik pun segera masuk dan ingin menyelamatkan Namira. Namun, orang tua Malik juga mencegahnya.
"Jangan gila kamu Malik.. ini berbahaya bagi kamu.. Kita tunggu tim penyelamat datang.." Ucap Imam.
"Pa.. yang di dalam itu adalah Namira.. istri Aku, Aku ga bisa diam saja disini pa.." Ujar Malik. Kemudian, Malik pun menepis tangan orang tuanya dan Malik nekat masuk ke dalam.
Api sudah terlanjur besar dan sulit untuk Malik mencari Namira. Malik pun berteriak mencari Namira.
"Namira.. Namira.. Kamu dengar suaraku?" Teriak Malik.
"Tolong... tolong... uhuk, uhuk.." Teriak Namira.
Sementara Nadia, Nadia mencoba menghubungi Rival untuk memberitahu tentang ini. Namun, Rival tidak juga menjawab telfon dari Nadia.
"Duh.. kak Rival, angkat dong.." Kata Nadia panik. Namun, Helsen segera mengambil HP Nadia. Helsen melarang Nadia untuk memberitahu Rival soal ini.
"Nadia.. jangan kamu ganggu kakak kamu.. sekarang ini kakak kamu harus berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan papa.. Kalau masalah Namira, dia sudah ada keluarga yang mau menyelamatkannya." Ucap Helsen. Dan Helsen pun menyita HP Nadia. Sekarang Nadia tidak bisa berbuat apa-apa. Nadia hanya bisa berharap bahwa Namira akan baik-baik aja.
__ADS_1
"Ya, tuhan.. selamatkan Namira.. Sekarang ini, Aku hanya bisa berharap padamu.. kasian dia, dia orang baik.. bahkan sangat baik.." Doa Nadia.
Sementara di dalam, Malik tetap berteriak memanggil Namira.
"Namira.. apa kamu mendengar suaraku?" Teriak Malik sekali lagi. Namira yang sudah lemas karena sesak nafas, mendengar suara Malik yang memanggil dirinya. Namira pun juga berteriak namun, suaranya sudah lemas.
"Aku disini kak.." Jawab Namira. Dan tiba-tiba saja sebuah dekorasi yang dipadati api pun runtuh. Reruntuhan itu berada di garis lurus di atas Namira. Namira sangat terkejut dan akhirnya reruntuhan itu jatuh ke punggung Namira. Dan Namira pun langsung tidak sadarkan diri.
Setelah susah payah mencari Namira, akhirnya Malik pun menemukan Namira. Malik terkejut saat Namira dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tertimpa reruntuhan yang di penuhi api di atasnya.
"Namira..." Kata Malik terkejut. Akhirnya iya pun langsung berlari menghampiri Namira.
Dengan sekuat tenaga, Malik mengangkat reruntuhan itu dari tubuh Namira. Malik mencoba menyadarkan Namira namun Namira sudah tidak sadarkan diri.
"Namira.. sadar! Namira.." Panggil Malik sembari menepuk pipi Namira. Karena tidak kunjung sadar, akhirnya Malik pun mengangkat Namira dan segera membawa Namira keluar. Malik dengan beraninya melewati kobaran api itu. Dan Iya pun berhasil membawa Namira keluar.
Semua keluarga merasa sangat lega dan bersyukur karena Namira telah berhasil di selamatkan. Malik masih tertegun dalam menggotong Namira. Entah kenapa kaki Malik merasa lemas dan tiba-tiba saja Malik jatuh berlutut sembari menggendong Namira. Keluarga Namira pun akhirnya segera menghampiri mereka. Sementara ayah dan ibu Malik menghampiri Malik.
"Malik.. kamu ga apa-apa nak?" Tanya Sintia. Malik tetap terdiam.
"Malik.." Panggil Imam. Kemudian, Malik pun menjawab.
"Kita harus bawa Namira ke rumah sakit segera. Namira tertimpa reruntuhan dekorasi yang sudah terbakar pa.." Ucap Malik. Tentu saja Abdullah dan Hanifah terkejut mendengar ini.
"Apa?" Ucap Hanifah terkejut. Akhirnya, Malik pun segera membawa Namira ke rumah sakit.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Malik pun teringat kejadian yang menimpa Laura. Laura juga tewas dalam kecelakaan. Malik takut kalau kejadian Laura yang meninggal akan terulang kembali.
...****************...
Sementara Rival, Rival menunggu keberangkatan pesawat yang ditumpanginya. Sebelum pesawat lepas landas, Rival pun dengan iseng membuka HPnya. Rival tampak terkejut ada banyak panggilan tak terjawab di HPnya. Dan panggilan itu berasal dari Nadia.
__ADS_1
"Ada apa ya.. Nadia memanggil Aku sebanyak ini?" Tanya Rival penasaran. Akhirnya Rival pun menelfon balik Nadia. iya ingin bertanya kepada Nadia. Ada perlu apa Nadia menelfon dirinya. Namun, Nadia tidak mengangkat telfonnya karena telfon Nadia sudah disita oleh papanya.
...****************...
Sementara Monica, Iya tertawa puas karena iya telah berhasil membuat Namira celaka. Dan Monica pun merasa sudah berhasil membuat pernikahan Namira berantakan.
"Hahaha... rasain kamu Namira.. itu akibatnya kalau kamu bermain-main denganku. Sekarang, kamu menangis kan, di pernikahan kamu.. Aku sumpahin kamu segera mati dan tidak tertolong. Atau, kamu menderita seumur hidup kamu.. hahahaha.." Tawa Monica.
"Ada apa Monica? Kenapa kamu tertawa girang?" Tanya Aria. Laki-laki yang menolong Monica.
"Aria.. kamu tau, akhirnya dendam Aku satu persatu sudah terbalaskan.." Ujar Monica.
"Oh iya.. dendam apa yang sudah kamu lakukan? Sehingga membuat kamu girang seperti ini.." Tanya Aria.
"Gadis yang telah membuat putriku menderita, sekarang sudah sekarat di rumah sakit. Kalau dia ga mati ya, berati dia cacat seumur hidupnya.." Ucap Monica.
"Aku turut senang mendengarnya Monica.. selamat ya.. semoga urusan kamu cepat selesai.." Ucap Aria.
"Oh.. iya dong.." Jawab Monica.
...****************...
Sementara Namira, dokter masih menangani Namira di dalam. Orang tua Malik dan Namira pun juga tiba di rumah sakit. Mereka segera menghampiri Malik dan menanyakan keadaan Namira kepada Malik.
"Bagaimana keadaan Namira Malik?" Tanya Hanifah.
"Namira masih ditangani oleh dokter Buk.." Jawab Malik.
Semua tampak tidak tenang dan panik karena Namira belum diketahui kondisinya. Begitu juga dengan Kayla. Iya tampak khawatir dengan keadaan kakaknya itu.
Tak lama, dokter pun keluar. Dan mereka segera beranjak dan bertanya kepada dokter. Dokter mengatakan kalau Namira mengalami kondisi yang cukup parah. Namira mengalami luka bakar di tubuhnya dan juga mengenai wajahnya. Luka bakar di tubuh Namira mencapai 25%. Semua tampak terkejut dengan pernyataan dokter.
__ADS_1
"Dokter, apa luka bakar itu bisa disembuhkan lagi dok?" Tanya Hanifah.
"Ibu tidak perlu khawatir, luka bakar itu bisa disembuhkan kembali tapi, dalam waktu yang cukup lama." Ujar dokter tersebut. Hanifah dan semuanya merasa lega akhirnya luka itu tidak permanen.