Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 48


__ADS_3

“My, bangun.” Angkasa mendekat dan duduk di pinggiran tempat tidur. Wajah pria itu telah segar, badannya pun wangi karena selesai mandi. Berbeda sekali dengan Myria. Istrinya masih tertidur lelap sembari mendekap guling.


“Myria.” Angkasa memanggil pelan agar Myria tidak kaget. Suaranya mengalun syahdu tanpa ada intonasi tinggi yang terucap. Satu tangannya membelai rambut dan mengusap pipi mulus sang istri. “Hei, udah mau subuh. Bangun dulu, abis duha kamu bisa tidur lagi, Sayang.”


“My.” Panggilan terus beruntun karena Myria tak lekas memberi respons. Angkasa menarik napasnya sebentar lantas menggeleng dengan bibir mengulas senyum. “Perasaan dulu nggak susah dibangunin gini.”


Beri jeda sejenak soal membangunkan Myria, Angkasa ganti menarik sajadah lalu melanjutkan lagi. Dia terpaksa memberi tepukan di pipi sang istri agar segera ditanggapi. Pria itu sengaja tidak akan berangkat ke masjid sebelum memastikan Myria terbangun.


“My.”


“Um, Ka. Jangan minta terus, aku capek.”


Dua mata Angkasa mendelik. Gemas sendiri mendengar jawaban sang istri. Telunjukknya menyentil dahi Myria hingga istrinya memekik. “Ngomong apa kamu ini?”


“Ka ….” Mata Myria langsung terbuka. Wajahnya cemberut. “Kamu apain dahiku? Sakit tauk!”


“Bangun. Malah ngelindur. Udah mau subuh, mandi sana. Aku mau ke masjid bentar.”


“Um, ya.” Setelah menjawab, Myria memeluk guling lagi, padahal Angkasa terus memperhatikan.


Ditariknya guling dari pelukan Myria lalu dibuang ke lantai oleh Angkasa. Pria itu berdiri sembari melipat lengan ke dada. “Bangun, Habibati. Pastiin kamu nggak telat salat, aku harus turun karena bentar lagi azan.”


Meski malas merajai karena mata masih begitu berat untuk terbuka, ditambah lagi badan remuk redam akibat resepsi dan ritual lain kemarin malam, Myria akhirnya bangun. Dia duduk sambil mengusap-usap wajah. Selepas itu baru berdoa dan minum.


Angkasa mulai memunculkan senyum kelegaan. Dia hampiri Myria lantas mendaratkan kecupan singkat di kening. “Kamu bisa pesen sarapan kalau udah lapar. Nggak perlu nunggu aku.”


“Um.” Myria mengangguk sekali, lantas menarik telapak tangan Angkasa untuk dicium. Setelah suaminya benar-benar pergi, wanita itu baru turun dari kasur dan bergegas ke kamar mandi.


Tetes air benar-benar membuat Myria sadar sepenuhnya. Kantuk yang sejak tadi menggelayuti langsung sirna. Dia keluar dari kamar mandi setelah cukup lama di tempat tersebut.


Sementara itu, Angkasa telah sampai di masjid. Iqamah membuatnya bergegas merapatkan saf. Siapa menyangka jika di sebelahnya tiba-tiba muncul Sakti dan teman satu geng. Ketika Angkasa menoleh, Sakti memasang senyum aneh.


“Ehem, gue kira nggak bakal keluar kamar penganten baru. Ternyata udah duluan di sini.” Setelah salat dan doa selesai, jamaah sudah mulai beranjak satu per satu pula, Sakti langsung berceletuk. Tidak cukup mulut yang menggoda, tubuhnya pun dibuat-buat menyenggol bahu Angkasa.


Angkasa membisu. Dia sudah siapkan diri sejak kemarin andai jadi bahan ledekan. Diam adalah pilihan meski para sahabatnya itu tidak akan puas menggoda.


“Ya, elah, Ka. Lo diem aja. Nggak mau cerita gimana gitu?”


Satu teman langsung menepuk mulut teman yang baru saja bicara. “Lo tahu ini di masjid nggak? Nggak sopan ngemeng begitu.”


“Tahu dah kalian, pada berisik!” Meninggalkan para sahabatnya adalah hal terbaik, Angkasa segera keluar, tetapi nyatanya justru disusul lima orang yang sejak SMA menjadi teman dekatnya itu.

__ADS_1


“Ceilah, Kasa ngambek oi. Ngambek!”


“Cepet-cepet balik hotel dia, soalnya mau lanjut.”


“Asyek. Gaaslah, Bro.”


Sungguh! Mulut para lelaki yang sudah memasuki usia dewasa itu membuat Angkasa berulang kali menarik napas dalam. Dia biarkan para sahabatnya mengoceh daripada makin ditanggapi makin menjadi.


Enam pria, termasuk Angkasa, berjalan santai menyusuri trotoar. Mereka sengaja jalan kaki sekaligus olahraga pagi. Udara masih terasa sejuk karena kendaraan belum sepadat saat jam kerja.


“Ka, lo cuti berapa hari?” Basa-basi obrolan nirfaedah telah tutup sesi. Satu temannya bertanya serius.


Kepala Angkasa menengok ke belakang sedikit. “Seminggu paling. Kerjaan lagi banyak-banyaknya.”


“Nggak bulan madu lo sama Myria?” Teman lain ikut kepo.


“Nggak ada ajaran bulan madu dalam Islam.”


Jawaban Angkasa membuat para sahabatnya membisu. Sakti langsung menertawakan dan maju merangkul Angkasa.


“Woi, Bro. Dia nggak butuh gitu. Ntar juga pergi-pergi sendiri kalau ada waktu.”


“Si Sakti dah kayak cenayang aja, Cuy!”


“Anjay, kalah! Kita kalah kalau ngemengin kedekatan kalian. Dah, lah. Pensiun aja gue dari geng ini.”


Tawa satu per satu para pria itu mengudara seiring jarak hotel yang makin dekat. Angkasa hanya bisa menarik napas banyak-banyak menyikapi kerumitan sahabatnya.


Saat di lift, lima pria itu masih terus mengobrol. Namun, sebagian dari mereka pamit pada Angkasa karena harus lanjut bekerja.


“Gue harap meski dah nikah, kita tetep bisa ngumpul sekali-kali,” kata salah satu gerombolan itu.


Semua mengangguk. Angkasa lantas mendapat pelukan dari para sahabatnya sebelum menuju kamar. “Thanks, kalian bela-belain perjalanan luar kota buat hadiri pernikahan gue. Sorry banget waktu nikahan si Rion nggak bisa dateng gue.”


“Santai, Bro. Gue tahu kondisi lo waktu itu.” Rion, pria yang baru saja disebut namanya itu memeluk hangat. Dia memang menikah paling awal di antara lima anggota gengnya karena perjodohan yang telah diatur.


“Sekali lagi thanks, kalian hati-hati.”


Semua berpisah, bahkan Sakti langsung ke kamar pula. Dia bilang butuh istirahat karena kemarin tidur terlalu larut.


Pintu kamar terbuka, Myria yang sedang mengeringkan rambut segera mematikan hair dryer. Dia datangi Angkasa untuk menyambut.

__ADS_1


“Aku bantu,” kata Angkasa sambil mengusap kepala.


“Udah kering, kok.”


Angkasa merentangkan tangan, lalu menarik pinggang Myria menuju ke arahnya. Dia menunduk dan menempelkan hidungnya ke hidung sang istri seraya memberi gesekan pelan. “Masih ngantuk?”


Myria mendorong dada Angkasa sedikit agar mencipta jarak. “Iya. Tapi nggak baik tidur abis subuh.”


“Nanti bisa tidur lagi.”


Pelukan dua orang itu terlepas, Angkasa mencari kaus ganti dari koper. Tanpa bicara apa pun, tiba-tiba pria itu membuka kemeja kokonya dan sukses membuat Myria berteriak.


“Hei!” Bukannya segera memakai kaus yang ada di tangan, Angkasa justru mendatangi istrinya sembari bertelanjang dada. “Kenapa, My?”


Myria menutup mata rapat-rapat sambil menggeleng cepat. “Ka, pakek baju, ih! Sembarangan buka-buka depan orang.”


Tadi sempat panik, tetapi kini kepanikan Angkasa berubah senyuman miring. “Kamu udah liat semuanya kemarin, kan? Ngapain ditutup gini.”


“Ih, enggak!” Myria menyergah. “Aku nggak lihat. Kemarin ketutup selimut, mana aku tahu.”


“Oh, jadi mau tahu?” Seringai di bibir Angkasa makin jelas, sementara Myria terus menutup mata dengan dua telapak tangan. “Buka aja matanya. Halal dilihat ini. Dapat pahala malah.”


Myria berpegang teguh pada prinsip. Dia akan terus menutup mata sebelum Angkasa memakai baju.


Melihat kegigihan istrinya, Angkasa memilih mengalah. Toh, perdebatan itu masalah tidak penting. Dia segera mengenakan kaus yang sejak tadi digenggam, lalu meminta Myria membuka mata.


Pemandangan pertama kali yang dilihat Myria adalah senyum Angkasa. Wajah suaminya itu ternyata berada di depan mata sehingga membuatnya refleks berpaling. Sedekat apa pun kemarin malam bahkan telah menjadi satu, tetapi rasa malu tetap menghiasi kepribadian Myria.


Akan tetapi, saat wajah berpaling ke arah kanan, Myria menangkap kulit lengan Angkasa yang tidak biasa. “Kasa, tanganmu?”


Lengan kiri bagian atas siku menjadi perhatian Myria. Angkasa ikut menoleh dan tahu apa yang ditanyakan sang istri. Kaus yang dipakai pria itu memang berlengan pendek di atas siku sehingga kulitnya yang cacat terlihat.


“Kenapa? Aku jelek, ya? Bekasnya beneran nggak bisa ilang.”


Myria menggeleng. Memori di kepalanya berputar mundur dan ingat saat Angkasa hampir kehilangan nyawa ketika menyelamatkan dirinya dan Friska. Dia menyentuh bekas luka memanjang itu secara perlahan. “Maaf.”


“Apa yang kamu pikirin? Udah lama, nggak usah diungkit.” Angkasa segera membantah ucapan. Dia tak rela di hari bahagia justru ada kesedihan menimpa. “Lebih baik pikirin masa depan kita. Siapin hati, siapin mental juga buat semua kondisi yang bakal dateng di rumah tangga kita ini, My. Kamu tahu aku banyak cacatnya, fisik sama mentalku nggak ada yang beres. Tapi kalau boleh egois, aku pengin kamu sabar ngadepin aku nanti.”


“Ka, kamu masih minum obat?”


Angkasa membisu lantaran enggan mengaku.

__ADS_1


“Kasa.” Myria mendongak dengan nada bicara setengah memaksa.


Dengan keresahan yang ada, bibir Angkasa mengucap fakta, “Iya, kadang.”


__ADS_2