
“Ma, izinin Sakti tinggal sama kita sampai dia pulih.” Setelah beberapa jam di IGD, Angkasa dan Myria diperbolehkan pulang. Namun, dia tetap tinggal di rumah sakit karena menunggu Sakti.
Nyonya Nasita yang tiba sejak subuh tadi ikut berkumpul di ruang rawat. Wanita berjilbab hitam itu mendekati putranya yang duduk di dekat ranjang pasien.
Angkasa menarik satu tangan ibunya. Dia memohon belas kasih. “Mama tahu tanpa aku jelasin alesannya.”
Dua indra penglihatan wanita berparas teduh itu bergulir ke arah sahabat putranya. Sama seperti Angkasa yang pasang wajah memelas, Sakti pun melakukan hal demikian. Mau tidak mau, Nyonya Nasita mengangguk meski sempat menghela napas.
“Mami baru aja pulang, Tan. Tolong nggak ngasih tahu apa-apa. Tapi kalau Tante Ayu keberatan, aku masih bisa nginap di hotel.”
“Bicara apa kamu, Nak. Tinggal di rumah biar Kasa menemanimu. Tante janji tidak akan bicara apa pun pada orang tuamu.”
Wajah Sakti yang sejak tadi tak berdaya, mulai mengukir senyum. Tak sia-sia perdebatannya dengan Angkasa dini hari tadi perkara larangan mengabari Nyonya dan Tuan Pradana.
Ketika obrolan itu usai, Tuan Aji ganti berkata, “Om harus kerja, Sakti. Tidak masalah, kan, kalau ditinggal?”
“Iya, Om. Paling ini nanti sore boleh pulang. Kita bisa ketemu di rumah.”
Pria berkemeja garis-garis vertikal itu menepuk-nepuk lengan Sakti perlahan. Untaian senyum penuh kesabaran menghias wajahnya yang tegas dan berwibawa. Setelah mencium sang istri, Tuan Aji meninggalkan tempat.
“Mama belikan sarapan dulu ke kantin buatmu dan Myria, Ka.”
“Ma.” Angkasa lekas beranjak dan menahan ibunya. Dia mengarahkan Nyonya Nasita ke sofa. “Nggak perlu. Myria juga masih tidur, nanti saja.”
__ADS_1
Urung ke luar karena putranya keberatan akhirnya Nyonya Nasita tetap tinggal.
Hari beranjak siang, tiba-tiba dua polisi masuk ruangan setelah dapat persetujuan dari rumah sakit. Bukan tanpa alasan pihak berwajib itu datang, tentu karena ingin melakukan interogasi pada semua pihak yang terlibat dalam kecelakaan dini hari kemarin.
“Pak Polisi, apa saya boleh tahu identitas wanita hamil yang jadi korban kemarin itu?” Myria yang baru saja menuntaskan kesaksian, kini memberanikan diri bertanya. Telah berjam-jam lamanya dia menyimpan rasa penasaran pada wanita hamil yang bercadar sepertinya itu.
Angkasa dan Sakti kompak menoleh pada Myria. Mereka tidak tahu bahwa wanita itu masih sempat memikirkan pihak lain padahal kondisi diri sendiri juga mengalami syok berat.
“Kami belum bisa menemuinya, Nyonya. Wanita itu baru selesai operasi caesar dan masih dalam tahap pemulihan. Suaminya meninggal di tempat dan sudah kembali ke kediaman keluarga untuk dikuburkan.”
Air mata Myria refleks menetes. Jantungnya berdebar hebat dengan tangan gemetar. Angkasa segera mendatanginya dan memeluk, lalu pria itu yang menjawab salam pamit dari pihak kepolisian.
“Sayang, tenang.” Tubuh berbalut gamis warna soft purple itu makin direngkuh, satu tangan Angkasa mengusap kepala Myria secara lembut. “Kamu kenapa melow gini? Kita nggak ada urusan, kan, sama orang itu?”
“Aku kasihan, Ka. Pasti berat banget musibah yang dialami. Dia kesakitan gara-gara kecelakaan, ditambah suaminya meninggal. Ya Allah, nggak bisa bayangin.”
Dengan nada pelan dan lembut, Angkasa berujar, “Allah nggak bakal ngasih cobaan di luar kemampuan. Allah nggak bakal ngambil sesuatu kecuali digantikan sama yang lebih baik. Doain aja buat orangnya, My.”
Myria mengangguk. Dia melepas peluk dan berpamitan untuk salat.
Selepas kepergian Myria, langkah Angkasa kembali mendekati ranjang. Dia duduki lagi kursi kayu yang memiliki sandaran setengah lingkaran itu. Napas panjang terembus dari bibir, sementara pandangan mengarah ke atap ruang.
“Sabar, Bro. Mau diapain juga, cewek ama cowok nggak bakal bisa nyatu sepenuhnya. Tapi ngomong-ngomong ….” Ucapan Sakti mengembang di udara. Tatapan pria itu ikut melurus dan tertuju pada lampu ruangan yang telah padam. “Gue juga kasihan kalau para korban ditinggal mati keluarga. Moga ada kesempatan ketemu biar bisa ngucapin belasungkawa.”
__ADS_1
Pendapat Sakti hanya ditanggapi dengan anggukan. Angkasa sedang lelah karena belum istirahat. Nyeri di sekujur tubuhnya makin terasa meski sudah ditahan dan sudah pula diobati oleh sang dokter kemarin malam.
Jam terus bergulir dan tanpa disadari azan asar berkumandang bertepatan dengan Sakti yang bersiap pulang. Setelah kunjungan dokter siang tadi, Sakti diizinkan pulang dengan catatan harus rutin kontrol selama masa pemulihan.
“Terima kasih semua.”
“Sama-sama, Tuan.” Dua perawat yang membantu melepas infus dan mencatat data lain memberi tanggapan sopan.
Dibantu perawat laki-laki mendorong kursi roda, Sakti dan yang lain keluar menuju lift. Tak berapa lama, lift yang ditumpangi itu sudah mengantarkan mereka ke lantai dasar.
Akan tetapi, belum sepenuhnya keluar dari sekitaran lift, teriakan histeris dari salah satu kamar rawat menghentikan langkah semua orang.
“Maaf, tunggu sebentar, Tuan, Nyonya.” Perawat yang mendorong kursi roda izin untuk melihat. Pria tenaga kesehatan itu bergegas karena khawatir tidak ada yang berjaga di kamar tadi.
Myria yang penasaran justru ikut membuntuti sehingga kamar rawat itu dipenuhi orang-orang.
Dapat dilihat dari luar pintu, ada satu perempuan bercadar tengah menangis sesenggukan di atas ranjang, sementara di sisi lain ada satu wanita setengah baya sedang ditahan perawat yang baru tiba.
“Iza!” Setelah mengamati dengan saksama siapa pasien di dalam, Myria menerobos kerumunan dan menghampiri. Dia menarik perempuan itu ke pelukan.
“Siapa kamu? Jangan ikut campur!”
Baru hendak menolong, Myria sudah dimaki lebih dahulu. Meski tak seharusnya ikut campur, tetapi tidak bisa untuk kali ini. Pasien yang duduk di atas tempat tidur itu orang yang dikenal, Myria tentu saja merasa harus menolong.
__ADS_1
“Maaf, Nyonya, tapi dia sedang sakit. Tidak seharusnya dia diperlakukan seperti itu.”
“Untuk apa melarangku? Dia tidak pantas dikasihani, justru harusnya dia yang mati. Bukan anakku!”