
Lampu ruangan meredup, tersisa lampu meja dan laptop yang masih menyala. Seseorang duduk di balik meja kerja tersebut sambil menopang dagu.
Myria menggeleng pelan setelah menutup pintu. Wanita berpiyama satin abu muda itu mendekat, lalu menaruh segelas susu ke samping laptop.
“Ayo, tidur. Masih ada hari besok lagi, kan?”
Angkasa mendongak, lalu tersenyum tipis pada Myria. Kursi kerjanya berputar, pria itu memeluk pinggang sang istri seraya menyandarkan kepala. “Nggak semua barang kebakar, tapi pusing banget, Sayang, buat ngegantinya. Aku nggak tega lihat karyawan lembur gara-gara ini.”
Dua tangan Myria membalas dekapan dan menyugar rambut Angkasa naik turun. Ada rasa iba melihat pekerjaan suaminya, tetapi Myria tidak bisa memberi solusi lain. Sekalipun ayah Erika telah mengaku dan telah mengganti biaya kerusakan, tetapi tetap saja semua harus produksi ulang.
“Mau gimana lagi? Produk pakaian nggak bisa dikerjain sembarang orang. Perlu skill buat ngejalani job itu, Ka. Menjahit itu nggak bentar waktunya kalau ngajarin orang, jadi kamu nggak bisa ngrekrut pekerja tambahan. Kecuali packing, itu bisa aja nyari orang buat kerja paruh waktu.”
Angkasa mengangguk-angguk. Jika dipikirkan terus, memang masalah pekerjaan tiada habis. Beberapa item untuk penjualan sendiri dan sebagian dari perusahaan lain memang harus dikejar. Satu-satunya cara hanya melemburkan karyawan.
“Minum dulu susunya mumpung masih anget. Abis itu istirahat, besok pagi aja dilanjutin.”
Saran Myria ada benarnya. Badan telah letih sejak kemarin, berhari-hari Angkasa lembur tanpa peduli kondisi tubuh yang baru sembuh. Pria itu tidak ingin mengecewakan klien, tidak ingin pula terkesan santai padahal bawahan kalang-kabut mengejar target.
Dibantu Sakti dan seluruh tim jajaran direktur hingga tingkat supervisor, Angkasa berusaha semaksimal mungkin. Beberapa hari kemarin, bahkan dia rela terjun ke ruang produksi hanya untuk memantau secara langsung pekerjaan sampai mana.
Jangan tanya respons karyawan, tentu saja para pekerja produksi yang lebih didominasi perempuan itu ramai dan histeris. Pujian satu mulut ke mulut lain seperti udara menerbangkan debu. Ringan dan cepat berpindah.
Hampir semua pekerja tahu jika Angkasa telah beristri, tetapi beristri atau belum, kadang logika perempuan tidak jalan jika sudah terobsesi.
__ADS_1
Kamar telah dibersihkan sejak beberapa jam lalu. Myria memang punya kebiasaan beres-beres pagi dan sore. Bersama Angkasa, wanita itu telah menghuni apartemen kembali minggu kemarin atas persetujuan semua keluarga.
Tuan Tirta berulang kali menawarkan rumah keluarga Sastra untuk ditinggali daripada di apartemen, tetapi sepasang pengantin baru itu menolak dan kukuh akan di apartemen sebelum membeli rumah. Alhasil, Tuan Tirta mengalah.
Angkasa keluar dari kamar mandi setelah cuci muka dan gosok gigi. Pria itu mendekati ranjang, lalu mengecup pipi sang istri yang lebih dahulu duduk santai menyandarkan diri di headboard. Tidak cukup hanya itu, tubuh Angkasa merosot dan tidur di perut Myria.
Faktor menikah dengan seumuran, apakah itu yang membuat Angkasa manja? Myria terkikik sendiri jika memikirkan hal-hal tersebut.
“My.”
“Um?” Usapan di kepala tidak berhenti, tangan Myria selalu refleks melakukan itu setiap Angkasa memeluk.
“Aku perlu ke dokter besok. Apa kamu ingin tahu dokter kejiwaan yang menanganiku selama ini?”
“Ada apa? Kenapa ke sana?”
Kepala Angkasa terangkat sedikit mendengar suara Myria yang berbeda. “Enggak ada apa-apa. Aku cuma susah tidur aja dari kemarin. Paling cuma konsul tanpa diberi resep nanti.”
Bibir Myria langsung terbungkam. Selama ini dia tidak menyadari kegelisahan suaminya lantaran terlalu lelap. Seharusnya, Angkasa yang lebih butuh tidur berkualitas karena tekanan pekerjaan berat, tetapi justru Myria sendiri yang begtiu pulas.
“Iya, ikut. Biar jangan Sakti mulu yang nemenin kamu. Heran, deh, sama kalian ke mana-mana udah kayak kembar siam.”
Seharian penat dan pusing dengan tekanan kanan kiri di kantor, Angkasa akhirnya tertawa mendengar cemoohan Myria. Dia bangkit lalu duduk menghadap sang istri. “Kamu cemburu? Apa bedanya kamu sama Friska, My? Tapi aku *fine-fin*e aja.”
__ADS_1
Cebikan bibir menyanggah perkataan Angkasa. Myria enggan mengaku apa pun itu sebutan yang tepat untuk perasaannya kini. Di pernikahan dahulu, tak ada sedikit pun rasa heran pada Sakti, tetapi sekarang entah mengapa hatinya baru terusik.
“Aku ma Friska dari dulu udah deket, lah kamu ma Sakti dulu nggak segitunya. Sekarang? hmm ….” Dengkusan napas menjadi penutup kata-kata Myria. Melalui ekspresi itu, tentu saja Angkasa paham.
Gemas, lucu dan bahagia menjadi satu di hati Angkasa. Pria itu menarik paksa Myria lalu membawa ke dekapan. “Myria, ada banyak hal kelewat di antara kita dan belum sempet aku cerita. Sakti bukan cuma temen buatku. Tapi lebih dari segalanya. Kalau ada nasib buruk menghampiri diminta memilihmu atau dia, aku yakin nggak bakal bisa.”
Pernyataan Angkasa mengundang cubitan. Dia mengaduh kesakitan dengan suara lantang. Alih-alih meredakan penyiksaaan, Myria justru melakukan lebih.
“Tuh, kan, posisi aku di hati kamu itu sebenarnya seberapa? Kamu nggak cinta aku lagi? Masa aku kalah sama Sakti?”
Lagi-lagi Angkasa tertawa. Jarang sekali istrinya merajuk perkara sepele. Namun, anehnya, dia justru menyukai hal demikian.
Dibawanya Myria berbaring, tangan Angkasa memeluk erat meski Myria memberontak. Bahkan, satu kakinya sengaja menindih agar perempuan itu tidak banyak tingkah. “Udah, tidur. Nggak penting banget ngeributin soal Sakti. Kupingnya panas kalau diomongin terus.”
.
.
......................
Iklan:
Kak, kalau cerita ini lebih panjang babnya dari MTK. Apa masih mau ngikutin? Aku takut pembaca bosen. Ehehe
__ADS_1