
“My, salat!” Satu teman wanita yang ada di samping Myria menepuk lengan. Tadi, dia hendak keluar berbarengan dengan teman lain, tetapi saat melihat Myria tak beranjak dari kursi, dia kembali menghampiri.
“Eh! Iya!” Myria gelagapan. Kesadarannya ternyata hilang entah ke mana.Buru-buru wanita itu menegakkan badan dan bersiap seperti yang lain karena waktu zuhur telah tiba.
Teman yang tadi menepuk, menunggu Myria sembari berceletuk, “Ada apa, sih, sama kamu hari ini? Nggak kayak biasanya kamu ngelihatin bunga di vas terus menerus. Nggak ada bedanya perasaan sama bungamu yang kemarin-kemarin.”
Myria menyengir dari balik cadar yang menutup wajah. Dia menggeleng, lantas menggandeng temannya itu untuk turun ke lantai dua di mana ada musala di sana.
“Pak Dirut hadir hari ini?” tanya Myria sembari menekan tombol lift. Dia mundur kembali, lalu berdiri bersisian dengan temannya.
Perempuan berjilbab pasmina hitam itu mengangguk mendengar pertanyaan Myria. “Ada kayaknya. Tapi denger denger beliau nggak sehat. Mungkin itu kali yang bikin Pak Kasa nggak masuk kemarin.”
“Nggak sehat?” batin Myria bertanya. Dia selalu ketinggalan berita perkara bosnya itu meski memiliki jaringan orang dalam. Nyonya Nasita tidak memberi kabar apa pun yang terjadi setelah pengaduan kemarin. Myria hanya tahu bahwa Angkasa sudah mengaku salah meski tidak minta maaf secara langsung.
Pintu lift terbuka tepat di lantai dua. Dua wanita itu segera ke musala karena ternyata sudah banyak karyawan masuk tempat tersebut lebih awal. Sebagian yang tidak salat, mereka lebih dahulu menuju kantin.
“Udah penuh ternyata.” Myria bergegas mengambil wudu, sementara teman yang tadi masih mencari alat salat dan baru menyusul.
Tiba di barisan para karyawati lain, suara iqamah sudah menyambut. Myria merapatkan shaf dan mulai menunaikan salat bersama.
Empat rakaat yang diimami salah satu office boy perusahaan selesai. Sebagian dari jamaah sudah bubar dan langsung ke kantin untuk makan siang, sebagian lagi masih istirahat sebentar di dalam musala. Hampir semua orang percaya bahwa situasi di tempat ibadah tersebut terasa berbeda dari tempat lain.
“Seadem-ademnya ubin rumah, masih adem ubin musala sama masjid, ya, My.” Teman yang tadi menemani Myria berkata sembari melipat mukena, sementara Myria sendiri masih membenarkan cadar.
Myria terkekeh geli. Namun, dia tidak menyanggah. “Um. Bikin ngantuk, ya?”
Temannya mengangguk setuju, lantas mengundang tawa pelan dari Myria. Dua perempuan itu meninggalakan tempat karena harus mengisi perut agar memiliki tenaga, sementara waktu istirahat terus berjalan.
“Eh, hape aku ketinggalan, deh, kayaknya.” Saat sudah berjalan beberapa langkah dari musala, Myria baru sadar ponselnya tidak ada di saku. Dia hendak menghubungi Friska, tetapi justru tidak mendapati alat komunikasi yang biasa dipakai. “Aku balik ke musala dulu, ya. Kamu duluan aja.”
“Serius, My?”
“Iya. Nggak usah nunggu aku.” Mulut masih bicara, tetapi kaki sudah melangkah kembali ke musala. Myria segera melepas sepatu setibanya di tempat.
__ADS_1
Myria cari ponsel di barisannya salat tadi, tetapi tidak menemukan apa pun. Kemudian, dia hampiri lemari alat salat dan tidak menemukan barang yang dicari.
“Ya, Allah, masa ilang, sih?” Langkah Myria bertolak ke tempat wudu. Tiba di sana, dia bisa bernapas lega karena melihat ponsel itu ada di atas pancuran.
Tidak perlu menunggu lama, Myria segera mengambil dan keluar lagi. Saat masih memakai sepatu, dari sisi lain muncul Angkasa dan Sakti yang baru keluar dari dalam.
“Lhoh, My. Nggak jamaah kamu?” Tanpa sungkan, Sakti bertanya. Dia berdiri dengan jarak beberapa meter, tetapi suaranya tetap sampai di telinga Myria.
“Jamaah, kok, Pak. Ini tadi ngambil hape yang ketinggalan.”
Sakti haya menjawab ‘oh’ selebihnya tidak ada pertanyaan lagi. Dia masih punya prinsip jaga jarak setelah dahulu pernah berkonflik dengan Angkasa saat sekolah hanya perkara Myria. Perasaan itu telah lama hilang, Sakti kini hanya menghargai Myria sebagai teman sekolah dan karyawan. Meski sebenarnya dia bisa menikung setiap saat, tetapi persahabatannya dengan Angkasa jauh lebih penting.
Bersama Angkasa, Sakti mengajak pergi. Dua pria itu hendak kembali ke atas karena jarang makan di kantin. Keduanya memang sering istirahat terlambat lantaran lebih mementingkan urusan pekerjaan. Perkara makan, Nyonya Nasita yang selalu menyiapkan bekal sehingga bisa dinikmati di ruangan kerja.
Tubuh tinggi kedua pria itu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan Myria. Namun, belum sempat jauh, Myria memanggil sehingga Sakti maupun Angkasa berhenti.
“Ya, My.” Lagi-lagi Sakti yang menjawab. Sejak tadi Angkasa diam tanpa membuka mulut sedikit pun.
Myria berjalan mendekat. Tatapan matanya mengarah ke lengan Angkasa yang hari ini tidak tertutup blazer atau pakaian lengan panjang lainnya. “Kasa, tanganmu … kenapa?”
Myria mengangguk cepat. Alisnya yang hitam menaut, sementara bibir di balik cadar itu sudah tergigit pelan. Sebisa mungkin Myria menahan tangannya untuk tidak menyentuh Angaksa meski ingin.
“Nggak pa-pa.” Angkasa menjawab dengan langgam tenang. Nada ketusnya hilang begitu saja padahal kemarin kemarin sempat melukai hati. “Cuma tergores, tapi nggak bisa kena air. Jadi ditutup perban.”
“Tergores? Tergores apa? Separah apa lukanya? Apa sudah ke dokter?” Lupa jika berada di kantor, Myria mencerca banyak pertanyaan pada Angkasa saking khawatirnya. Beruntung, di area musala sudah sepi.
Pertanyaan bertubi-tubi tanpa jeda mengundang tawa Angkasa. Dia menarik napas, lalu membuangnya pelan. “Kamu kira siapa yang pasang perban ini kalau bukan dokter?”
Sakti ikut tertawa sampai menggeleng beberapa kali. Dia merangkul bahu Angkasa. “Tenang aja, My. Dia selalu sama gue. Nggak usah khawatir. Gue bisa jagain mantan su—”
Omongan Sakti terhenti karena Angkasa sudah membekap mulut. Pria itu mendelik, tetapi dibalas dengan tatapan tajam oleh sahabatnya pula. Alhasil, dua manusia itu justru sibuk berseteru lewat isyarat.
Meihat Angkasa dan Sakti sudah bisa berkelahi, Myria percaya bahwa keduanya tidak berbohong. “Ya, udah, alhamdulillah kalau nggak pa-pa. Aku mau pamit ke kantin.”
__ADS_1
Sakti mengangguk-angguk. Setelah itu, tangan Angkasa baru turun dari wajahnya.
“Omongan lo kalau nggak bisa dikondisikan, gue bakal minta karyawan stitching buat ngebungkam itu mulut.”
Sakti berdecak mendengar ancaman Angkasa. Dia baru sadar hampir saja kelepasan menyebut status sahabatnya dengan Myria.
Selama ini, memang tidak ada yang tahu status Angkasa sebagai duda. Andai itu menyebar, bisa-bisa seluruh perusahaan ramai sampai ke pendengaran kolega.
***
Manusia sering kali mengabaikan waktu yang begitu cepat berlalu. Termasuk Myria dan yang lain. Entah sudah berapa lama dirinya dan Angkasa berbaikan, tetapi memang tidak ada pembahasan hubungan sama sekali karena sama-sama sibuk bekerja.
Butik yang ingin dibangun Friska hampir selesai. Myria ikut senang melihat jerih payah sang sahabat bersama dirinya. Sering kali dia ikut ke lokasi butik saat libur atau pulang bekerja, lalu memberi ide tambahan agar tempat itu menjadi kolaborasi yang sempurna.
Malam hari ketika baru saja selesai masak, ponsel Myria berdering. Dia hampiri dan segera mengangkat panggilan agar si penelepon tidak menunggu.
“Assalamualaikum, Ayah.”
Dari tempat berbeda yang masih di satu kota, Tuan Tirta menjawab. Beliau membalas salam putrinya, lalu menyampaikan sesuatu. “Om Daniel yang akan menjemputmu, Nak. Dandan yang rapi, ya. Ayah dan yang lain menunggu.”
.
.
.
__Tbc
Kak, maaf, ya, sering libur. hehehe
maaf juga aku kemarin nggak info di sini. Tapi aku info di Instagram. untuk selalu update kisah Angkasa ini, follow IG aku aja, ya. Gratiss ... nggak bayar sama sekali, kok. hehehe
Ig aku: @ukiii__21.
__ADS_1
makasih, see u part selanjutnya.