Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 65


__ADS_3

“Kusut bener muka lo.” Suara Sakti terdengar setelah pintu terbuka. Pria berkaus abu-abu itu menarik kursi untuk duduk. “Ada masalah sama istri lo?”


Angkasa menyugar rambut ke belakang, lantas menatap sahabatnya. Gelengan singkat diberikan sebagai jawaban atas pertanyaan Sakti. Kemudian, satu tangannya menarik tablet yang disodorkan ke meja. “Nyokap mulai nanyain soal anak ke gue dua minggu kemarin.”


“Bagus, dong. Terus apa masalahnya?”


Kursi kebesaran ditinggalkan Angkasa. Langkah pria itu bertolak ke kulkas untuk mengambil minum. Setelah meneguk air putih beberapa kali, dia hampiri Sakti lagi. “Psikiatri kemarin bilang sama gue kalau emang mau punya anak, sebisa mungkin stop minum obat. Efek obat ini sedikit ngaruh sama kesuburan gue. Tapi gue bingung.”


Sakti memutar kursinya sedikit. “Lo nggak usaha buat berenti total soal obat? Kan, udah ada Myria, Ka. Apalagi yang bikin lo cemas?”


“Gue udah jarang minum. Tapi kalau pas banyak pikiran, susah tidur, ya … terpaksa.”


Jawaban Angkasa membuat Sakti memijat tulang hidung. Tak pernah lagi dia bertanya kondisi sahabatnya setelah Angkasa menikah. Sakti kira, semua sudah aman terkendali. “Kenapa lo diem aja selama ini?”


Bibir terkatup. Angkasa hanya menggeleng tak yakin. Baginya, tidak ada yang perlu dibahas bersama. Hanya perkara imsomnia, dia tidak ingin mengganggu dan bergantung pada Sakti.


“Gue cuma imsomnia, bukan ilang kesadaran.”


“Tapi lo, kan, bisa cerita sama gue. Kalau tahu kondisi lo gitu, kita bisa nggak usah adain lembur.”


“Sakti, gue baek-baek aja. Ntar ngomong ini sama Myria.”


“Serah, deh! Lo bisa mikir mana yang terbaik buat lo sama istri lo.” Sakti mengakhiri perdebatan. Tangannya ganti menarik tablet di meja dan menggeser layar. Satu file dibuka, lalu ditunjukkan pada Angkasa. “Gue kemari mau nyerahin laporan biaya buat perusahaan tekstil yang kerja sama ma kita. Konsumsi kain kita dari perusahaan ini cukup banyak gara-gara insiden kebakaran dulu itu. Masih ada beberapa barang yang belum kita bayar. Mereka udah mulai nanya karena bentar lagi utang itu jatuh tempo.”


“Koordinasi sama Direktur Keuangan, lah.” Angkasa ganti menyahut tablet di genggaman Sakti untuk melihat rincian total utang yang tersisa.


“Udah. Ntar juga ke sini orangnya. Tinggal lo aja tanda tangan.”

__ADS_1


“Tahun ini kita bisa bagi dividen buat para investor nggak kira-kira?”


Pertanyaan yang sulit dijawab saat kondisi keuangan perusahaan cukup terancam kemarin. Dua tangan Sakti terangkat menanggapi hal itu. “Berdoa aja. Tapi kemarin juga semua tahu kalau perusahaan kita kena masalah. Bahkan gilanya, beberapa investor langsung lepas saham mereka.”


“Udahlah, biarin. Ntar juga dapat gantinya kalau semua dah stabil.”


“Kalau gue jahat, udah gue tinggalin juga lo dari kemarin.”


Tendangan kecil melayang ke udara dan tepat mengenai betis Sakti. Pria itu tertawa dan justru menampar lengan Angkasa dengan map di meja.


“Lo bilang gue belahan jiwa lo, tapi ada pikiran buat berkhianat.”


Tawa renyah Sakti makin memenuhi ruangan. Dia beranjak karena harus kembali ke ruangan sendiri. Bersama Angkasa terlalu lama, yang ada tidak akan bekerja dan justru bercanda tanpa guna.


“Woi, Sakti!”


“Bantu gue nyebar undangan buat karyawan kalau gue mau open house rumah baru Sabtu besok.”


“Lo pindah?”


“Lusa. Jadi bisalah, Sabtu orang-orang dateng ke rumah buat makan-makan.”


“Fix, gaji gue bulan ini naik tiga kali lipat.” Sakti memberi keputusan sendiri dan sukses membuat Angkasa hendak memakinya.


“Sakti sialan! Punya temen peritungan banget.”


***

__ADS_1


Rumah baru, suasana baru. Akhir pekan sesuai omongan Angkasa, banyak tamu berdatangan. Tak hanya keluarga, hampir semua rekan kerja hadir dalam satu waktu.


Myria sibuk sejak kemarin mengurus penyambutan tamu. Dibantu asisten rumah tangga dari kediaman Nyonya Nasita dan Nyonya Caroline, wanita itu berkutat di dapur beberapa jam lamanya.


Tawa dan obrolan berlangsung ramai. Ada beberapa manajer yang sengaja membuat acara hiburan sehingga suasana makin hidup. Angkasa dan Sakti lebih banyak mengobrol bersama karyawan lelaki, sementara Myria masih sibuk mondar-mandir ke depan dan belakang untuk mengeluarkan banyak makanan.


Tak tega melihat Myria sesibuk itu, Friska izin pada suaminya untuk membantu. Dia memang datang telat karena suatu hal. Setelah memberi salam pada keluarga Tuan Tirta dan Tuan Aji, wanita itu ingin menemui sahabatnya.


“Hati-hati.” Izin diberikan, tetapi Pak Zayyan tetap memberi pesan singkat.


“Iya, Mas,” kata Friska dengan lembut. Dia tinggalkan Pak Zayyan bersama Andreas.


Tiba di dapur, Friska segera memanggil Myria. Sambutan ramah didapati perempuan bergamis mocca tersebut.


“Makan dulu. Suamimu ambilin makan, Fris,” kata Myria saat melepas pelukan.


“Ntar aja. Aku bantu kamu bawain makanan ini ke depan.”


“Eh, nggak usah. Kamu juga tamu, ikutan makan aja kayak yang lain.”


“Udahlah, nggak pa-pa.” Friska kekeh. Dia segera menghampiri meja panjang yang ada di dapur untuk mengambil mangkuk makanan.


Akan tetapi, belum sempat tangan menyentuh wadah, perutnya tiba-tiba mual. “Hueek ….”


 .


.

__ADS_1


__ADS_2