Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 32


__ADS_3

“Selama ini Nona Myria ternyata bekerja di perusahaan Angkasa, Tuan. Anda bisa lihat foto berikutnya.” Layar tablet di tangan Tuan Tirta bergeser. Daniel menyimpan banyak foto tentang penyelidikannya pada Myria seminggu terakhir.


Slide demi slide ditunjukkan dan sukses membuat Tuan Tirta menggeram. Pria itu menyorot asistennya dengan tegas, lalu berucap lantang, “Kamu tidak becus bekerja, Dan?” Tablet dilempar ke meja begitu saja.  Beruntung, benda itu tidak pecah dan masih utuh. “Kenapa bisa kecolongan begini?”


Daniel memundurkan badan dari samping Tuan Tirta. Dia menjauh dan mengubah posisi berdiri tepat di depan meja. Hardikan sang bos mau tidak mau harus diterima meski dirinya tidak merasa salah seratus persen. “Izinkan saya bicara, Tuan.”


Tuan Tirta mendengkus. “Katakan!”


Sebelum menerima kemarahan Tuan Tirta yang berikutnya, Daniel menarik napas lebih dahulu. “Kali ini saya ingin membela diri, Tuan.”


Meja digebrak Tuan Tirta setelah mendengar ucapan Daniel. Tatapan pria itu menghunjam dan penuh kilatan amarah. Baru kali ini asistennya berani bicara demikian.


“Tolong, tahan amarah Anda, Tuan.” Daniel menyela, lalu melanjutkan, “Bukan tanpa alasan saya ingin membela diri. Selama ini, saya bekerja sudah sesuai permintaan Anda. Saya harap, Anda tidak lupa atas perintah Anda hanya meminta saya mengawasi kinerja Tuan Aji. Soal Nona Myria, Anda bilang untuk memberinya kebebasan agar leluasa bergerak dan saya bukan mahramnya. Saya selalu ada untuk Nona saat Anda memberi perintah lanjutan.”


“Bodoh!” Tuan Tirta tetap tidak terima. Bukan dia lupa apa yang disampaikan Daniel benar adanya, melainkan tidak rela selama berbulan-bulan putrinya ternyata bebas bertemu dengan Angkasa.


Myria memang mendapatkan apa saja yang diminta selama ini, tetapi Tuan Tirta tidak menyangka akan timbul pengkhianatan atas kepercayaan yang diberikan. Rasa tidak sukanya pada Angkasa makin bertambah menerima kenyataan demikian. Sebagai orang yang lebih tua, Tuan Tirta merasa dipermainkan oleh anak-anak.


“Antar aku besok menemui anak muda itu!”


“Baik, Tuan.” Tidak pernah ada penolakan, Daniel siap menjalankan tugas meski ada rasa kasihan pula pada Angkasa maupun Myria. Namun, sebanyak apa pun iba menyelip di hati, dia tidak ingin ikut campur terlalu banyak.


Ada anak dan istri di negara seberang yang selalu menunggu kepulangannya setiap akhir tahun. Maka dari itu, Daniel tidak pernah macam-macam.

__ADS_1


***


“Kamu yakin nggak pulang, My?”


Myria menggeleng. Pulang bekerja, dia sengaja mengungsi di rumah Friska karena enggan bertemu orang rumah. “Nggak. Aku udah kirim pesen sama Mommy. Biar disampein ke Ayah.”


Friska menghela napas. Tidak mengira jika hubungan sahabatnya akan serumit itu. Dia kira, Tuan Tirta akan luluh sedikit saat Myria merajuk. Namun, ternyata salah. Bukannya luluh, justru yang ada makin tegang.


“Kamu takut, Fris?” Melihat kegusaran di wajah Friska, Myria bertanya demikian. “Tenang aja, kalaupun Ayah marah, marahnya pasti ke aku, kok.”


Friska membuang napas lebih banyak. Tangannya memeluk guling yang sejak tadi tergeletak di tengah kasur. “Aku tahu itu, My. Tapi … apa nggak keterlaluan kalau kamu bersikap gini? Dia ayahmu, My.”


Myria terdiam. Dia merenung sesaat dan baru menengok pada Friska yang ada di sampingnya. “Aku nggak tahu, Fris. Moga Allah ngampuni aku.”


Dengan segera, Friska menarik Myria ke pelukan. Wanita berpiyama satin abu-abu itu mengusap punggung sahabatnya yang mulai menangis. “Sabar, My. Aku tahu kata-kata ini udah terlalu sering aku ucapin buat nguatin kamu. Mungkin kamu juga udah mual dengernya, tapi sebagai teman, aku cuma bisa gini. Bantu kamu sebisa aku. Maafin aku, ya, kalau nggak bisa ngasih solusi terbaik.”


Ucapan Friska mendapat anggukan dari Myria. Perempuan itu belum bisa menjawab karena air mata terus mengalir tanpa bisa ditunda. Sesaknya dada tak bisa dijabarkan lewat kata. Myria telah berusaha tenang hampir dua pekan ini, tetapi memang hatinya sering rapuh.


Sejak dahulu, ujian hidup memang silih berganti dan luapan emosinya berupa air mata. Berbeda dari Angkasa yang lebih rentan stres berat karena memendam semua sendirian, Myria lebih pandai menguasai diri karena bisa menemukan tempat berkeluh kesah yaitu, Friska.


“Aku yang minta maaf kalau selama jadi temen kamu banyak banget curhat, Fris. Pasti capek, ya, dengerin kesedihanku terus?”


Friska membuang napas mendengar perkataan Myria. Usapan lembut terus diberikan pada sahabatnya agar segera tenang. “Nggak ada istilah kayak gitu. Kamu itu udah aku anggap saudara kembar paket komplet. Kadang ngeselin, ngangenin, ngademin ati, dan lainnya. Lengkap pokoknya.”

__ADS_1


Merasa sedikit terhibur oleh ucapan Friska, Myria terkekeh meski dalam kondisi berlinang air mata. Tubuhnya ditarik mundur, lalu kedua tangan mengusap pipi dan hidung.


“Cuci muka, gih! Terus tidur, besok kamu kerja.”


Tanpa menjawab, Myria turun dari kasur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Perputaran waktu  tidak dirasa bagi manusia yang sibuk, termasuk Angkasa. Pria itu telah kembali bekerja seperti biasa tanpa berubah sikap. Ketika tidak sengaja berpapasan dengan Myria atau karyawan lain, dia akan membalas sapaan selayaknya pimpinan.


Sempat ditanya kabar secara langsung oleh Myria saat kemarin-kemarin hari pertama masuk kerja kembali, Angkasa menjawab seperlunya. Dia akui gangguan kecemasan yang dirasa, selebihnya tidak membahas perkara lamaran apalagi pernikahan.


Interkom di meja berbunyi. Angkasa tinggalkan fokusnya dari laptop untuk menerima panggilan.


“Ya.”


“Maaf, Pak.” Suara sekretaris dari balik interkom menyapa. “Baru saja saya dapat pesan dari resepsionis kalau ada tamu tanpa janji ingin bertemu dengan Anda sekarang.”


Kening Angkasa mengeryit. “Siapa?”


“Dua pria dari Kalastra Group bernama Tirta Mandala dan Crhistian Daniel, Pak.”


Jantung Angkasa seperti meledak mendengar mantan mertua sekaligus pamannya datang. Tidak perlu menebak atau bertanya, pasti akan ada hal buruk yang harus dihadapi. Angkasa membisu lantaran bimbang berkelana di kepalanya saat ini.


Lama tidak dapat tanggapan, sang sekretaris bertanya memastikan, “Pak Kasa, maaf, apa Anda mau menerima?”

__ADS_1


Dengan segala keberanian, Angkasa menyahut, “Oh, ya, tentu. Katakan pada resepsionis untuk menerima dan mengantarkan tamu itu ke ruanganku.”


__ADS_2