Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 83


__ADS_3

“Alhamdulillah, Mama senang dengarnya.” Senyum Nyonya Nasita mengembang sempurna. Dapat kabar baik dari sang menantu tentang kesehatan sang putra, tentu sesuatu hal yang perlu disyukuri. Beliau membelai kepala Myria yang masih tertutup jilbab. “Bagaimana denganmu, Sayang?”


Myria menunduk dalam. Dua tangannya mengepal di pangkuan dan meremas rok gamisnya tanpa peduli menimbulkan kusut. Dia menggeleng pelan. “Maaf, Bun. Satu-satunya cara yang disarankan hanya operasi buat buka saluran tuba. Tapi Myria takut.”


Tak lekas menjawab, Nyonya Nasita memilih diam beberapa saat. Bukan hal mudah untuk Myria sebagai perempuan mengakui kekurangan di depan anggota keluarga dari pihak suami. Wanita jelang lima puluh tahunan itu merengkuh bahu Myria, lalu memberi dekapan hangat. “Tidak pa-pa. Mama akan selalu mendoakan kalian. Lihat kamu dan Kasa bahagia, Mama juga bahagia. Sudah terlalu banyak hal menyakitkan kalau diingat semua, Mama harap tidak akan ada lagi yang separah dulu.”


Air mata refleks menetes. Sesering apa pun ibu mertua dan Angkasa bilang tidak apa-apa, nyatanya hati Myria tidak bisa sekuat itu. Tak hanya dari pihak keluarga yang memberi dukungan, Friska dan Faiza pun melakukan hal yang sama. Namun, lagi-lagi hatinya belum terlalu lapang.


“Bun.”


“Ya?” Tangan Nyonya Nasita melonggar saat Myria menarik diri dari pelukan. Beliau mengusap dua mata sang menantu dengan ibu jari. “Jangan nangis, Sayang. Sebentar lagi Papa dan suamimu pulang. Mereka akan bingung melihatmu begini.”


 Myria segera menghapus jejak air mata di pipi. Dia perhatikan Nyonya Nasita dengan serius, lalu menyempatkan diri celingukan kanan dan kiri. Setelah merasa aman, Myria merapatkan duduk.


Digenggamnya dua tangan Nyonya Nasita, bibir Myria mulai berucap lembut. “Bunda, bantu Myria ngerayu Kasa buat nikah lagi.”


Seperti terkena hantaman ombak badai dari tengah lautan, kesadaran Nyonya Nasita terguling tanpa arah. Tubuhnya mendadak kaku dengan bibir dan mata yang sama-sama membulat.


Sadar ibu mertuanya syok, Myria menarik gelas untuk diisi air. Kemudian, dia berikan pada Nyonya Nasita. “Bunda, minum bentar.”

__ADS_1


Seperti nyawa yang tercerabut paksa dari raga, Nyonya Nasita menerima gelas dengan tatapan dan pikiran kosong. Kata-kata Myria sungguh di luar dugaan. Sekalipun sudah mengharap hadirnya cucu, beliau tak pernah berpikir untuk meminta putranya memiliki istri lebih dari satu.


Tiga perempat air dari gelas itu habis, Nyonya Nasita berangsur sadar. Wanita bergamis maroon itu mengangkup wajah Myria dengan mata berkaca-kaca. “Bilang sama Mama, kenapa kamu kepikiran begini, Nak? Mama sampai kaget dengar permintaanmu.”


Perhatian serius dari Nyonya Nasita membuat Myria terpaku. Mata indahnya mengerjap teratur, sementara dua bibirnya awet membisu. Sentuhan tangan ibu mertua di pipi menghadirkan rasa hangat dan nyaman, Myria lantas ikut menumpuk tangannya di sana.


“Bunda.” Mulai berucap, Myria perlahan menarik turun tangan Nyonya Nasita dan menyimpannya di genggaman. “Myria cuma pengin Kasa bisa ngerasain jadi ayah seperti pria pada umumnya. Myria nggak pa-pa kalau dia punya anak sama wanita lain asal terikat status halal. Jujur, beberapa bulan ini, Myria nemenin Faiza dan begitu menyukai Ibrahim. Tanpa sadar, hati ini juga pengin anak itu jadi milik Myria.”


Kekagetan Nyonya Nasita terulang lagi. “Subhanallah, Sayang. Ibrahim masih punya ibu. Rasa yang timbul di hati kamu ini mungkin bisikan setan. Setiap manusia pasti memiliki sikap hasad, tapi manusia beriman tidak menunjukkan hasad tersebut karena akan menyimpan dalam hati. Tetaplah bersabar, Sayang, dan jangan terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Ibrahim mungkin penguat bagi Faiza, tapi kamu juga punya Kasa dan keluarga sebagai penguat menjalani ujian.”


“Justru itu, Bunda, tolong bilangin sama Kasa kalau menikahi Faiza, dia bisa punya anak dan Faiza juga punya suami. Myria nggak pernah kepikiran ini sebelumnya, tapi waktu lihat Faiza sama Ibrahim, pikiran Myria berubah. Bunda bantu Myria, ya.”


Belum sempat menjawab, suara salam dari arah luar menghentikan obrolan dua wanita tersebut. Nyonya Nasita bergegas keluar dan menyambut Tuan Aji yang baru pulang. Myria ikut di belakangnya untuk memberi salam.


Myria mengangguk. Dia tersenyum tipis dan membiarkan kedua mertuanya berlalu. Belum sampai sepuluh menit sendirian di ruang tamu, suara motor dari luar terdengar. Dia beranjak dan segera ke luar menyambut Angkasa.


Helm dan masker terlepas, Angkasa tersenyum dan memberi kecupan. Satu tangannya merangkul, lantas menggiring Myria masuk. “Mau langsung pulang?”


“Nginep di sini gimana?”

__ADS_1


“Oke.”


Tak ada kecurigaan sama sekali, Angkasa bersikap seperti biasa hingga malam setelah makan bersama, pria itu dipanggil ibunya.


Angkasa sendiri sebab Myria lebih dahulu ke kamar karena ingin mengerjakan sketsa yang belum selesai. Tersisa Nyonya Nasita, Tuan Aji dan dirinya di depan ruang keluarga. Televisi menyala di antara tiga orang tersebut, tetapi Nyonya Nasita tiba-tiba mengecilkan volume.


“Kasa.”


Ibunya memanggil, Angkasa menoleh dan menjawab.


Nyonya Nasita mengubah posisi duduk menjadi satu sofa bersama sang anak. Kemudian, beliau kembali melanjutkan bicara dengan hati-hati, “Myria bilang pada Mama kalau kamu perlu menikah lagi.”


Angkasa dan Tuan Aji kompak terhenyak. Dua pria itu menatap Nyonya Nasita secara serius.


“Kapan dia bilang itu, Ma?”


“Sore tadi. Awalnya dia hanya cerita hasil periksa kemarin ke Obgyn, tapi justru berujung seperti itu.”


Angkasa tergagap. Napasnya mulai menderu bersamaan tangan terkepal. Untuk kesekian kali, Myria membuat kesabaraan pria itu terkontaminasi.

__ADS_1


Tanpa memberi jawaban pada sang ibunda, Angkasa langsung berdiri dan melempar bantal sofa hingga jatuh ke lantai. Dia bergegas ke kamar, bahkan menaiki tangga dengan berlari.


Nyonya Nasita mengejarnya karena ingin mencegah, tetapi kalah cepat. “Kasa, jangan mendatanginya. Kamu sedang emosi, Nak!”


__ADS_2