
“Capek?”
Myria mengalihkan perhatian dari sekitar dan langsung menatap Angkasa. Dia menggeleng cepat sebagai pemberitahuan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Nggak capek sama sekali. Di sini enak banget. Masyaallah.”
Udara yang berembus seolah membelai tubuh Myria. Dedaunan warna-warni sangat memanjakan kedua mata. Jernihnya air di hulu Sungai Toyohira membuat Myria betah sekalipun harus mendayung perahu sejak tadi.
Dipandu salah satu petugas berpengalaman, Angkasa dan Myria memilih menghabiskan waktunya menyusuri sungai menggunakan kano, perahu kecil yang disewa dengan menghabiskan beberapa ribu yen uang saku mereka.
Sesekali, dua insan itu berhenti di atas permukaan air yang tenang untuk mengambil foto atau bahkan hanya menikmati pemandangan sekitar.
“Negara orang selalu terlihat lebih indah dibanding negara sendiri. Ya, nggak, Ka?”
Senyum tipis membingkai wajah Angkasa. “Itu karena yang kamu lihat yang bagus-bagus. Semua tempat ada plus minus-nya. Kamu juga pernah ngerasain di Turki.”
“Um.” Myria mengangguk-angguk, lalu tangannya kembali mendayung perlahan. “Manusia hidup tergantung sudut pandang mereka, sih. Mau di tempat enak kayak apa pun, kalau nggak ada rasa syukur pasti ada aja yang kurang dan terus dikeluhin.”
“Itu juga tahu.” Angkasa menjawab sambil menjepret pemandangan sekitar. Namun, di antara indahnya tempat yang saat ini dituju, Myria tetaplah yang terindah baginya.
Puas dengan acara keliling sungai menggunakan kano, Myria dan Angkasa singgah sebentar di salah satu restoran India. Sebagai pengunjung di negara yang bukan mayoritas berpenduduk muslim, cukup sulit untuk urusan makan. Sebisa mungkin semua diperhitungkan, bahkan Myria tidak keberatan membawa beberapa kue yang telah dibeli dari pusat Kota Sapporo di mana ada beberapa toko bersertifikat halal.
__ADS_1
Angkasa tak banyak protes mendapati sikap sang istri. Pria itu menurut karena memang tidak terlalu rewel urusan makanan. Dia sering makan telat, perasaan lapar pun sering kali tidak datang.
Hari mulai gelap, Angkasa mengajak Myria menuju salah satu hotel di Jozankei Onsen. Reservasi telah dilakukan sehingga saat datang, semua telah disiapkan.
Kamar luas dengan tempat tidur besar cukup untuk satu keluarga kecil menjadi pilihan beristirahat. Sama seperti kemarin-kemarin saat baru tiba di hotel pertama, Angkasa dan Myria langsung menuju ranjang untuk meluruskan punggung.
Pandangan dua insan itu kompak menatap atap ruangan. Hotel yang disinggahi didominasi furniture kayu khas rumah orang-orang Jepang. Lampu penerangan pun tidak terlalu kontras dan justru senada hingga mencipta suasana tenang.
Tangan Angkasa mengulur ke samping, lalu meminta Myria datang. Istrinya itu menurut dan tidur dalam pelukan.
“Jangan tidur lagi. Bersihin diri dulu,” kata Angkasa sambil mencium ubun-ubun.
“Iya. Jangan bahas itu mulu napa. Waktu itu, kan, aku emang capek banget.” Belum apa-apa, Myria sewot. Antara malu dan kesal bercampur jadi satu tiap Angkasa membahas kejadian tersebut.
“Kebiasaan!” Lagi, keusilan Angkasa selalu menjadi pemantik api kemarahan Myria.
“Gemes lihat kamu marah-marah.”
Alasan aneh yang terlontar dari mulut Angkasa sukses membuat Myria mencebik. Wanita dengan jilbab hijau mint itu meminta duduk karena ingin membersihkan diri.
Belum seratus persen berdiri dari tempat tidur, Angkasa ikut bangun dan mencekal lengan. Bibir pria satu itu melengkung tinggi dengan dua lesung pipi di kanan dan kiri terlihat jelas saat Myria menoleh.
__ADS_1
“Ayo, berendam bareng,” kata Angkasa dengan ekspresi susah dijelaskan bagi Myria. “Aku sengaja ambil kamar yang ada fasilitas pemandian air panas pribadi biar kita bisa nikmati berdua. Sayang, kan, kalau udah sampai sini nggak ngrasain mandi air panas?”
Myria melongo beberapa detik. Tiba di kamar tadi, dirinya memang tidak ada pikiran memeriksa kondisi ruangan yang tersekat di sisi lain. Siapa mengira penginapan yang diambil selengkap itu.
Ditinggalkannya ranjang, Myria menuju ruang yang berdampingan dengan kamar. Benar saja hal yang dibahas Angkasa, tempat itu memiliki kolam kecil untuk menikmati air panas di ruang tertutup.
“Ayo, mandi.” Angkasa muncul mendadak dengan membawa handuk. Dua tangannya menumpu bahu sang istri, lalu mendorong maju. “Aku yang lepasin atau kamu sendiri?”
“Aduh!” Ganti erangan kesakitan keluar dari mulut Angkasa selepas menggoda. Bukan tanpa alasan, ternyata pria itu baru mendapat pukulan dari siku sang istri.
“Cuma mandi, doang, kan? Awas, aneh-aneh!” Seolah paham arah pikiran lelaki, Myria pasang peringatan lebih dahulu.
Angkasa tertawa lagi. Pria itu menaruh handuk di pinggir kolam lalu melepas pakaian yang sejak pagi dipakai. Tanpa ada kesan risih apalagi malu, dia lebih dahulu mencelupkan badan ke air.
Desah kenikmatan meluncur dari bibir saat tubuh lelah sepenuhnya tenggelam di air panas. Angkasa menyandarkan punggung di dinding kolam.
Myria dibuat berpaling. Pipinya merona melihat kelakuan Angkasa. Menikahi pria itu telah melewati waktu setengah tahun lebih, tetapi tetap saja malu di waktu-waktu tertentu.
“Nggak mandi, aku tarik!” Air sengaja dipercikan pada Myria yang masih berdiri. Sekalipun wanita itu mengomel, Angkasa terus menggoda.
“Kasa!”
__ADS_1
“Buruan!”