
Sudah hampir enam bulan lamanya Rita tinggal di rumah Rival lagi. Selama enam bulan ini Rita tinggal di rumah Rival bukan kemauan Marta. Tapi semata-mata adalah kemauan Rival sendiri.
6 bulan selalu bersama. Rival merasakan perasaan aneh terus menerus saat berada di dekat Rita. Saat berada di dekatnya, jantung Rival berdegup begitu kencang.
"Aduh.. Rita pakai acara dekat segala lagi.. semoga saja suara jantung Aku tidak di dengar oleh nya" Rival harap-harap cemas iyaiyao takut kalau Rita mendengar suara jantungnya.
"Kenapa Val?" Tanya Rita. Rival menggelengkan kepala.
"Enggak kok.. enggak apa-apa.." Mereka berdua sama-sama canggung dan gugup saat saling berdekatan. Dan kali ini mereka saling diam.
****************
Semakin hari perasaan itu semakin tumbuh. Dan Rival sadar, bahwa ada benih cinta yang tumbuh dalam hati Rival. Begitu juga dengan Rita. Iya juga merasakan hal yang sama. Hanya saja mereka belum berani untuk mengungkapkannya. Apalagi Rita, semenjak iya tau bagaimana Rival, Rita tidak berani mengungkapkan perasaannya. Dikhawatirkan jika Rival tau tentang perasaannya, maka Rival akan kecewa lagi. Karena menurut Rita, Rival tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya.
Sementara Rival, Iya juga tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Rita. Karena iya malu dan sedikit gengsi untuk menyatakan cintanya. Karena iya pernah membenci Rita. Takut, kalau Rita tau tentang perasaannya maka Rita akan menertawakannya.
.
.
Semakin hari, perasaan itu semakin menyiksa Rival dan Rita. Ingin sekali mereka mengungkapkan perasaannya masing-masing. Tapi, mereka sangat bimbang untuk mengungkapkan itu. Rival dan Rita merasa dilema.
Terlihat Rival sedang duduk sendirian di depan teras rumah. Iya duduk merenung seperti ada yang sedang dipikirkan. Nadia, yang melihat Rival ikut berfikir juga. Nadia berjalan pelan mendekati Rival. Iya sangat hati-hati agar Rival tidak mengetahuinya. Tiba-tiba,
"Dor!" Nadia mengagetkan Rival. Sayangnya Rival tidak merespon kagetan Nadia. Nadia merasa heran dan bertanya.
"Kak Rival kenapa? Kok melamun gitu? Awas kesambet loh." Rival menunduk sebentar kemudian mengangkat kembali wajahnya. Seraya berkata.
"Enggak apa-apa kok.." Ucapnya. Nadia melihat ekspresi wajah Rival sangat aneh. Iya melihat kakaknya seperti merasakan senang dan susah. Nadia pun menebak apa yang dirasakan oleh kakaknya itu.
__ADS_1
"Hem.. kayak nya ada yang lagi jatuh cinta nih.. cie, cie.. kak Rival.." Ledek Nadia. Rival hanya tersenyum dan menjawab.
"Siapa yang jatuh cinta? Emangnya jatuh cinta sama siapa?" Ujarnya.
"Ya, siapa lagi kalau bukan... si Rita.." Tebak Nadia asal. Rival membantah apa yang dikatakan oleh Nadia.
"Apaan sih Nad, siapa juga yang jatuh cinta sama si Rita? Ga mungkin Aku jatuh cinta sama dia.. Aku itu lagi memikirkan ingin kuliah kembali ke luar negeri. Ih, amit-amit deh jatuh cinta sama itu orang!" Mendengar ucapan Rival, Nadia memajukan bibirnya yang sebelah bawah. Iya tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Rival. Nadia tau kalau Rival itu berbohong. Karena akhir-akhir ini Rival sering dekat dengan Rita. Nadia mengiyakan saja apa kata Rival. Tapi Nadia sedikit memancing Rival.
"Oh.. gitu ya.. iya deh iya.. Aku percaya kok.. tapi jangan bilang kayak gitu dong kak.. awas entar jatuh cinta beneran loh.. Dan kalau jatuh cinta.. segera ungkapin ya.. awas keburu diambil orang loh ya.. Hihi.." Nadia sambil tertawa. Rival merasa cemas mendengar ucapan Nadia. Benar juga apa yang dikatakan oleh Nadia. Tapi Rival merasa gengsi ingin mengungkapkan itu.
Sementara Rita, Rita mendengar semua ucapan Rival. Rita menundukkan kepala. Iya berfikir bahwa Rival tidak pernah mencintainya. Bahkan, sampai kapanpun iya tidak akan pernah suka pada Rita. Rita pun berhenti berharap pada Rival. Iya tidak ingin kecewa lagi.
Rita pun pergi dari tempat itu. Agar tidak ketahuan kalau iya tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
...****************...
Keadaan dapur sangat sepi hanya Rita seorang. Biasanya Rita memasak dibantu oleh Nadia. Tapi kali ini Nadia tidak bisa membantunya. Karena Nadia ada tugas kuliah. Terpaksa Rita harus memasak seorang diri.
"Rita! Tinggalkan masak sekarang.. Kamu ikut Aku." Tiba-tiba suara Rival terdengar dari belakang. Rita menghentikan aktivitas memasak nya. Iya menoleh ke belakang.
"Loh.. terus? Bagaimana dengan makan malam?" Rita bingung. Rival pun menarik tangan Rita dan membawa pergi dari da
"Sudah ga usah banyak tanya! Ayo ikut!" Ucap Rival sembari menarik tangan Rita. Rita heran dan bertanya-tanya. Sebenarnya kesalahan apa yang telah iya perbuat lagi. Akhirnya Rita pun bertanya kepada Rival.
"Rival.. apaan sih? Emangnya Aku buat kesalahan apalagi?" Tanya Rita.
"Banyak!" Rival membawa Rita ke dalam mobil. Iya menyuruh Rita untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian, Rival melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di sebuah taman, Rival Dan Rita turun.
.
__ADS_1
.
Rival dan Rita duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di taman. Rival menatap wajah Rita dengan serius. Rita tidak paham maksud dari tatapan Rival. Iya juga menatap balik Rival.
"Rita.. Aku mau bicara serius sama kamu!" Ujarnya.
"Aduh Rival.. jangan menatap Aku begini dong.. Aku kan jadi kaku.." Gumamnya dalam hati.
"Bicara apa? Apa Aku ada salah? Katakan saja.." Ucap Rita dag dig dug. Rival memegang kedua tangan Rita. Membuat Rita semakin gugup.
"Rita... Aku mau jujur! Aku.. Aku.. Aku suka kamu!" Ucapnya penuh perjuangan. Mendengar itu, Rita terbelalak. Seperti mimpi indah dan membuatnya tidak ingin bangun lagi. Rita bertanya sekali lagi untuk memastikan ucapan Rival.
"Apa? Kamu bilang apa?" Rival menarik nafas dalam-dalam. Dan sekali lagi iya berucap.
"Aku, suka kamu!" Sudah lancar. Rita tersenyum ciut mendengar ucapan Rival. Rita berpikir itu hanyalah sebuah candaan saja.
"Hehe.. kirain mau bicara apa.. Udah ah ga usah bercanda.. Ga lucu tau.." Rival meminta Rita untuk menatap nya kembali. Dan Meminta Rita untuk memperhatikan baik-baik.
"Apa kamu pikir Aku bercanda? Tidakkah di matamu Aku terlihat serius?" Ujarnya. Rita kembali menatap dengan serius. Seraya berkata.
"Ja.. jadi, Kamu serius?" Tanya Rita.
"Iya, Aku serius. Kali ini Aku ga main-main. Aku serius.. Aku suka sama kamu. Aku katakan ini dengan sadar." Ujarnya. Mendengar keseriusan Rival, mata Rita jadi berkaca-kaca. Iya terharu mendengar ucapan Rival.
"Aku tidak sedang bermimpi kan?" Ucapnya tidak menyangka.
"Kamu tidak bermimpi.. apa jawabanmu?" Tanya Rival sekali lagi.
"Iya.. aku juga suka kamu Rival.." Jawab Rita.
__ADS_1