Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 76


__ADS_3

Petugas IGD langsung sigap menerima semua pasien yang baru tiba. Beberapa brankar berbaris dan segera dilarikan ke dalam ruangan setelah memindahkan pasien.


Derap kaki para perawat dan guliran roda brankar bersahutan, memecah sunyi di antara banyaknya pasien IGD yang lebih dahulu dirawat.


"Infus!"


"Berikan injeksi!"


"Pasangkan oksigen dulu untuk pasien ini."


Semua tenaga medis mondar-mandir. Tidak ada yang tidak sibuk. Tiga dokter jaga menangani pasien bergantian. Mereka memprioritaskan korban yang parah terlebih dahulu.


Myria dan Angkasa sempat diabaikan saking tidak sadarnya petugas IGD bahwa mereka juga korban. Dua manusia itu tidak protes karena merasa masih sanggup berdiri.


Angkasa dan Myria ikut melihat Sakti ditangani lebih dahulu karena memang pria itu yang paling parah di antara keduanya.


Luka di kepala dibersihkan oleh perawat. Infus telah terpasang di tangan kanan Sakti. Dokter segera mendatanginya dan bertanya keluhan.


"Ada robekan?"


"Lecet, Dok." Perawat yang sempat membersihkan kepala Sakti menjawab.


"Anda pusing, Tuan?"


"Sedikit."


Stetoskop terlepas dari telinga sang dokter. Pria bersneli putih itu menarik napas dan mengangguk. "Lukanya memang tergolong ringan. Tapi kita tetap harus lakukan CT-scan untuk memastikan. Saya permisi dulu, nanti ada perawat yang mengurus."


"Baik, Dokter." Sakti dan Myria menjawab serempak, tetapi tidak untuk Angkasa.


Ketika sang dokter hendak pergi, Angkasa menahan beliau dengan suara. "Dok, tolong periksa istri saya juga."


Myria sempat kaget dan langsung mendongak untuk melihat sang suami. Dia menggeleng, tetapi diabaikan Angkasa.

__ADS_1


"Dia sempat terempas dari kursi belakang tadi, Dok."


"Baik. Mari, Nyonya."


Myria terpaksa berbaring di brankar yang kebetulan kosong di sebelah Sakti. Dia jalani pemeriksaan fisik terutama bagian kaki.


"Tidak ada keluhan, Tuan. Tapi kalau Anda khawatir, saya bisa menyarankan untuk pemeriksaan MRI."


"Lakukan saja, Dok." Tanpa meminta persetujuan Myria, Angkasa mengambil keputusan sepihak.


"Kasa, nggak usah!"


"My, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."


"Aku nggak pa-pa. Besok kalau ada keluhan, baru kita periksa." Myria bangun. Dia merasa baik-baik saja dan tidak perlu pemeriksaan mendalam. Hal yang dirasakan kini hanya syok berlebih karena belum pernah mengalami kecelakaan seperti itu sebelumnya.


Angkasa mengembuskan napas besar. Saat ini, dia tak mungkin berdebat. Ada Sakti yang masih harus dipedulikan.


"Gue kabarin nyokap lo."


Dua mata Sakti membeliak "Jangan gila, Ka!" Nada bicara pria itu tertahan karena sadar sedang ada di mana saat ini.


"Tapi lo kecelakaan. Bisa-bisa beliau syok."


"Justru kalau lo ngasih kabar, tebakan lo bener."


"Jangan keras kepala, Sakti."


"Kepala gue kalau gak keras, gak bakal gue masih hidup sekarang."


Ganti Angkasa yang mendelik mendengar penuturan sahabatnya. "Bisa-bisanya lo bercanda waktu kek gini."


"Ngapain juga serius kalau lawan bicara gue nggak waras."

__ADS_1


Angkasa nyaris memaki, tetapi panggilan dari speaker rumah sakit menghentikan niatnya. Dia mendengar nama Sakti disebut, alhasil harus ke depan mengurus administrasi.


Usai dengan urusan pendaftaran, pria bersweter abu-abu itu kembali. Kakinya melangkah cepat menuju tempat semula. Akan tetapi, saat tiba, Angkasa tak mendapati keberadaan sahabatnya.


"Sayang, ke mana Sakti?" Buru-buru Angkasa mendekati sang istri.


"Dibawa perawat ke radiologi, Ka."


Dua manusia itu harap-harap cemas selama menunggu. Mereka tentu berharap tidak terjadi hal serius pada Sakti. Penjelasan apa yang akan Angkasa sampaikan pada dua orang tua Sakti jika sahabatnya itu kenapa-kenapa.


Menit bergulir. Sekitar setengah jam berlalu, orang yang ditunggu muncul dari arah pintu. Angkasa bernapas lega dan langsung menghampiri.


"Pasien harus rawat inap untuk observasi beberapa jam ke depan, Tuan. Mohon ditunggu, nanti akan ada panggilan lagi dari pihak pendaftaran untuk penentuan kamar. Saya permisi."


“Apa yang lo rasain?" Angkasa masih terus bertanya setelah ditinggal perawat. Saking khawatirnya, dia yang biasa diam, berubah banyak omong.


"Gue nggak pa-pa, Bro. Cuma pusing dikit. Santai aja. Tapi gue ada permintaan."


Angkasa dan Myria kompak saling pandang. Dua manusia itu seolah bernegosiasi.


"Apa?" tanya Angkasa lebih dahulu daripada istrinya.


"Dokter Radiologi tadi bilang gue gegar otak ringan. Sama kek lo dulu. Jadi, beberapa minggu atau bahkan sebulan ke depan, gue nggak bisa aktivitas berat."


"Nggak usah mikir kerjaan. Pikirin diri lo."


"Satu lagi, bantu gue cari alesan buat para ART di rumah karena gue nggak bakal pulang sebelum sembuh."


"Trus lo mau ke mana?"


"Gue bisa tidur di hotel. Ngapain ribet."


"Nggak-nggak bisa gini. Lo harus ditemenin, nginep rumah gue dulu sampek lo sembuh. Gue yang bakal ngomong ma nyokap."

__ADS_1


__ADS_2