
Dua pria berumur 27 tahun itu hanya bisa menunduk terus menerus selama hampir satu jam. Angkasa tak berkutik, sementara Sakti juga tidak mampu melakukan pembelaan saat Nyonya Nasita mengomel tiada henti.
Memang tidak ada teriakan, tetapi tetap saja kemarahan seorang ibu mampu membuat Sakti maupun Angkasa terdiam. Kedua pria itu tidak pernah membantah apa kata orang tua, apalagi wanita yang membuat mereka lahir ke dunia.
“Mama kecewa dengan kalian.” Nyonya Nasita menghela napas berat. Sorot matanya tidak berubah, tetap sayu diikuti lirikan tajam. Dia pandangi Angkasa dan Sakti bergantian tanpa peduli satu di antaranya bukan anak sendiri.
Bertahun-tahun Sakti hidup bersama Angkasa, Nyonya Nasita dan Tuan Aji menganggap pria itu seperti anak sendiri. Keluar masuk rumah bebas, Sakti bicara apa pun selalu didengar dan diperhatikan layaknya orang tua yang begitu peduli. Namun, saat salah, tak jarang juga Sakti dapat teguran.
Pria yang baru pulang kerja itu mendongak sepintas pada Nyonya Nasita. Kemudian, Sakti melirik sahabatnya yang ada di sebelah. Dia tidak ingin menjawab apa pun. Sakti biarkan Angkasa menangani masalahnya sendiri kali ini.
“Kalau seperti ini, apa kamu sudah bisa sadar, Kasa?”
“Ma, maaf,” kata Angkasa dengan suara begitu pelan seolah mengisyaratkan bahwa dirinya kini mengaku salah.
“Maafmu seharusnya bukan untuk Mama. Tapi pada Myria.” Sekali lagi, Nyonya Nasita menegaskan. Sorot mata tajamnya tak jua melunak. Tatapan teduh dan menentramkan jiwa yang biasa beliau miliki, kini tak ada lagi.
Marah dan kecewa melebur di hati Nyonya Nasita. Kebohongan, kondisi Angkasa yang terluka karena balapan, benar-benar menoreh luka.
Angkasa menunduk lagi. Jari-jari tangannya saling bertautan dan sesekali meremas tanpa tekanan. Pria itu menarik napas cukup dalam.
Tidak mudah memang mengaku salah begitu saja, apalagi mendengar ibunya terkesan membela Myria. Akan tetapi, sebagai pria, Angkasa harus bersikap jantan. “Iya, Ma. Besok aku minta maaf sama Myria.”
“Besok? Kenapa bukan sekarang?” Terlihat sekali Nyonya Nasita tidak setuju. Beliau melipat kedua lengannya. “Kamu biarkan Myria kebingungan sampai berhari-hari. Dia sampai menangis sesenggukan saat bicara pada Mama. Meski Myria bukan anak kandung Mama, tapi Mama sedih mendengarnya.”
Posisi Angkasa sebagai anak kesayangan sepertinya memang tergeser semenjak Myria hadir di keluarga. Dahulu, hal itu yang selalu Angkasa harap agar keluarga menerima kehadiran Myria. Namun, sekarang makin terasa berbeda hingga kadang membuatnya kesal.
“Ma, ini sudah malam.” Penyanggahan dilakukan. Angkasa menatap ibunya lagi. “Aku enggak enak ganggu Myria malam-malam. Aku janji, besok akan lakuin permintaan Mama.”
“Permintaan Mama?” Jawaban Angkasa belum benar di mata Nyonya Nasita. Hati yang mulai lunak, sekarang mengeras lagi karena ucapan sang anak. “Apa kamu melakukan itu karena paksaan? Apa kamu masih tidak yakin kalau pria bernama Andreas itu adik Myria?”
“Ma ... mana aku tahu kalau pria itu adiknya.” Sedikit saja, Angkasa ingin mendapat kelonggaran dari Nyonya Nasita. Dia tidak mau tersudut terus menerus.
“Kalau kamu tahu seperti itu, kenapa marah secara tiba-tiba?”
Angkasa kicep. Pembelaan sebanyak apa pun memang tidak berguna. Sang mama terlalu kecewa hingga kepercayaannya mungkin akan sulit didapat lagi setelah kejadian ini.
Beberapa tahun, susah payah Angkasa mendapat izin orang tua untuk dapat kebebasan kembali. Akan tetapi, dalam waktu sekejap, semua bisa hancur begitu saja karena keegoisan dirinya. Mau tidak mau konsekuensi harus ditanggung.
“Narendra Angkasa Sastra, Mama dan Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria yang bisa bicara kasar pada perempuan. Apalagi sampai membuatnya menangis hanya karena salah paham. Parahnya lagi, kamu salah paham dengan hal yang tidak benar atas pikiranmu sendiri. Akui saja kamu cemburu sehingga jadi seperti ini.”
__ADS_1
Rentetan kalimat yang keluar dari mulut Nyonya Nasita makin menenggalamkan Angkasa dalam kubangan rasa salah. Hanya bisa membuang napas beberapa kali yang dikerjakan pria dengan perban di lengan kirinya itu.
Tidak melihat tanggapan dari Angkasa maupun Sakti, Nyonya Nasita menjeda pembicaraan. Beliau duduk bersandar, lalu berucap dengan nada pelan. “Kasa, kalau seperti ini, Mama ingin memikirkan ulang tentang keinginanmu rujuk bersama Myria.”
Sejak tadi menunduk, Angkasa dan Sakti langsung mengangkat wajah. Ekspresi bingung sangat kentara di wajah mereka.
“Tante.” Sakti mengambil alih. Rasanya tidak bisa diam lagi mendengar hal yang barusan.
“Biarkan Angkasa introspeksi, Sakti. Jiwanya masih sakit, Tante khawatir dia akan melukai Myria.”
“Tante, tapi ....” Sakti menahan ucapan saat melihat Nyonya Nasita lebih dahulu menggeleng. Dia pindah pada Tuan Aji. “Om.”
“Om ikut apa kata Tante.”
“Tapi, Om. Aku yakin Myria paham kondisi ini. Dia sudah tahu keadaan Angkasa, aku yang memberi tahunya.”
Tuan Aji menggeleng pelan. “Tidak semudah itu, Sakti. Ayah Myria tidak akan melepas Myria begitu saja. Apalagi setelah tahu kondisi Angkasa.”
Tangan Angkasa mendarat di lengan Sakti. Sahabatnya itu hendak meminta pengertian, tetapi dilarang. “Nggak perlu belain gue terus. Gue bisa lewatin ini.”
Tatapan Sakti melebar. “Ka, tapi Myria udah nunggu lo dari kemarin-kemarin? Mau sampek kapan gini?”
Dua orang tua itu ikut beranjak. Nyonya Nasita menghampiri Angkasa dan menarik ke pelukan. “Maafkan Mama.”
Kepala Angkasa jatuh ke bahu ibunya. “Mama nggak salah. Memang aku yang cari masalah. Aku janji akan selesaikan ini baik-baik, Ma. Sekarang ayo, pulang.”
Meski sedikit tidak puas atas keputusan sahabatnya, Sakti tetap mengantar keluarga Angkasa ke depan. Dia juga bilang akan mengambil motor Angkasa yang masih ada di rumah sakit, lalu mengembalikan ke rumah.
Mobil melaju pelan. Semua orang yang ada di dalam melambaikan tangan pada Sakti. Selepas itu, tersisa Sakti seorang diri.
“Lo beruntung banget punya ortu kayak Om Aji sama Tante Ayu, Ka. Sumpah! Kadang gue iri.”
Bulan yang sempat menghias malam telah tenggelam. Myria segera berangkat kerja karena Andreas bilang tidak bisa mengantar. Entah ada urusan apa dengan saudara satu ayahnya itu.
Tiba di luar apartemen, ternyata Friska sudah menunggu. Myria datangi sahabatnya itu dengan senyum cerah. “Kok, kamu nggak ng-chat aku? Tahu aja kalau aku nggak ada yang anter.”
“Andreas telepon aku kemarin malam,” kata Friska sembari memberikan helm.
“Idih, jangan akrab-akrab sama dia. Ntar kamu bisa-bisa jadi ipar aku.”
__ADS_1
Friska memukul kepala Myria yang telah tertutup helm. “Aku nggak suka brondong.”
Tawa Myria keluar begitu saja menanggapi omongan sahabatnya. Masih pagi, kedatangan Friska cukup membuat suasana hatinya membaik. “Sukanya yang gimana? Seumuran?”
“Dih, itu kalau kamu, My.”
Motor melaju seiring tawa Myria yang terbawa angin. Dia merapatkan badan karena ingin mengobrol lebih banyak. “Gimana persiapan butik?”
“Baru proses balik nama tanah yang mau dibangun, sih, My. Masih diurusin sama notaris.”
“Jadinya ambil lokasi yang mana?”
“Yang deket rumah Pak Zayyan.”
“Eh?” Myria sedikit heran. “Lhoh, jadi beli tanah yang itu? Padahal kemarin pasang harga agak di luar nalar itu orang. Kok, kamu nekad?”
“Aku nego sendiri sama yang punya. Aku tanya orang-orang sekitar di sana soal pemiliknya. Waktu dapat info, aku langsung gas aja ke rumah yang punya tanah itu tanpa peduli perantaranya yang kasih harga tinggi itu. Bodo amat.”
Pelan-pelan Myria mencerna omongan Friska. Setelah paham, dia bertanya lagi, “Jadi yang punya siapa?”
“Pak Zayyan.”
“Hah?”
Ganti Friska yang tertawa melihat ekspresi Myria. Dari spion samping kiri, dia bisa melirik sahabatnya sesekali.
“Udahlah, besok weekend aku ceritain lebih lengkapnya.”
Obrolan itu membaur begitu saja dengan suasana kota pagi hari. Jalanan padat, lalu lalang kendaraan seolah bersaing dengan tujuan masing-masing.
Myria tiba di kantor dengan selamat. Dia ucapkan terima kasih, lalu membiarkan Friska pergi. Masih ada 20 menit sebelum jam kerja dimulai, Myria sempatkan membeli kopi di kantin.
Urusan selesai. Wanita itu naik ke lantai lima di mana ruangannya berada. Tiba di sana, beberapa teman sudah datang lebih dahulu.
Myria menyapa sekadarnya, lalu menuju meja sendiri. Saat tangan hendak menarik kursi, pandangannya mengarah ke meja, di mana ada buket bunga tulip putih yang tergeletak.
Sebelum bertanya pada orang lain, wanita bergamis jet black itu lebih dahulu menarik rangkaian bunga tersebut. Myria temukan kertas kecil berisi pesan singkat.
Aku lihat bunga di vasmu mulai layu. Buang itu dan ganti ini. Sekalian juga, ini sebagai tanda permintaan maafku padamu.
__ADS_1