
Akhirnya Rita pun pergi dari rumah Rival. Sementara Marta dan Nadia tidak bisa menahan keputusan Rita. Sebelum Rita pergi, Rita terlebih dahulu pamit kepada Rival.
"Rival, Aku pamit ya.. Aku minta maaf kalau kedatanganku kesini membuat kamu tidak merasa nyaman. Tapi asal kamu tau.. Aku kesini hanya untuk membantu kamu sembuh dari keterpurukan.." Ucap Rita. Tetapi sayangnya Rival tidak mau melihat ke arah Rita. Dan Rita pun langsung pergi dari hadapan Rival.
Setelah Rita pergi dari hadapannya, Rival baru menoleh ke belakang. Iya merasa bodoh amat dengan apa yang disampaikan oleh Rita. Rival mengira bahwa Rita tidak jauh berbeda dengan Binar.
"Dasar penipu.. Aku kira kamu jauh lebih baik dari pada Namira.. ternyata, kamu jauh lebih buruk dan lebih licik dari pada Binar." Ucap Rival.
...****************...
Seminggu setelah kepergian Rita dari rumah Rival, suasana di rumah Rival tidak seperti biasanya. Marta merasa kerepotan karena sudah tidak ada lagi yang membantu dirinya. Bahkan, Nadia juga tidak ada lagi teman cerita hingga dirinya merasa bosan.
Sementara Rival yang tengah duduk santai di teras rumahnya tiba-tiba merenung sejenak. Ada sesuatu yang sedang iya pikirkan. Entah apa yang iya pikirkan. Tiba-tiba saja hatinya merasa seperti galau. Memang setelah kepergian Rita seperti ada yang aneh. Ada perasaan aneh yang muncul dalam hati Rival. Entah apa yang Rival rasakan saat ini. Semenjak Rita pergi dari rumahnya, Rival merasa ada yang kurang dari sebelumnya. Entah kenapa Rival selalu melihat bayang-bayang Rita. Rival melihat Rita seperti masih ada di rumahnya hingga akhirnya Rival tersadar.
"Argh.. Aku mikir apa sih? Kenapa Aku mikirin perempuan penipu itu?" Ucap Rival dengan sendirinya sembari menepuk kepalanya.
Setiap hari Rita selalu muncul dalam pikiran Rival. Setiap kali Rival ingin beraktivitas, Iya seperti melihat sosok Rita. Entah mengapa semenjak kepergian Rita, Rival merasa sepi. Tidak ada lagi keributan, tidak ada lagi cekcok antara dirinya dengan Rita.
"Ternyata, sepi juga ga ada Rita.. ga ada yang mau Aku marahin.. Dimana dia sekarang ya? Apa Rita ada di rumahnya? Ataukah dia sudah kembali ke luar negeri? Dan lagi apa dia sekarang ya?" Pikir Rival. Rival pun akhirnya menggelengkan kepala. Iya menepuk kepalanya. Karena pikiran aneh itu datang lagi.
"Kenapa lagi-lagi Aku mikirin si penipu itu sih? Ada apa dengan pikiranku? Enggak, Aku ga boleh mikirin dia. Aku ga boleh simpati terhadap penipu itu. Sekali penipu tetap penipu.." Ujar Rival sembari menggelengkan kepala.
"Memangnya kakak yakin kalau Rita itu penipu?" Ucap Nadia yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Rival yang sedang duduk di teras rumahnya itu. Rival pun segera menoleh dan mendongak ke atas ke arah Nadia. Rival pun membalikkan badan lagi. Dan Nadia langsung duduk juga di samping Rival. Nadia menoleh ke arah wajah kakaknya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa kakak terlalu yakin?" Tanya Nadia lagi.
__ADS_1
"Ya, yakinlah! Karena kakak dengar sendiri.. kalau ternyata mama menjodohkan Aku dengan Rita.." Ungkap Rival.
"Itu yang bilang siapa? Mama atau Rita?" Tanya Nadia.
"Ya mama sendiri lah.." Ucap Rival.
"Waktu bilang seperti itu.. memangnya Rita ada?" Tanya Nadia detail.
"Ya, ga ada sih.." Ujar Rival.
"Lalu kenapa kakak begitu yakin, kalau Rita itu sekongkol dengan mama.. seperti hal nya yang dilakukan Binar dulu?" Tanya Nadia.
"Ya pastinya yakin banget lah kalau Rita itu pasti sekongkol sama mama.. Hanya saja dia terlalu licik.. kalau Binar kan secara terang-terangan.. itu saja perbedaannya.." Ucap Rival.
"Kenapa kamu jadi membela Rita?" Tanya Rival.
"Aku ga membela Rita.. hanya saja Aku merasa kalau Rita itu tidak salah.." Ucap Nadia.
"Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu? Sementara dengan Binar dulu.. kamu sangat tidak menyukainya." Tanya Rival.
"Binar dengan Rita itu adalah dua orang yang berbeda kak.. kalau Binar, sudah jelas orangnya licik.. sementara Rita, dia adalah orang yang baik.. asal kakak tau, Rita itu kesini atas permintaan mama sendiri. Karena sejak Namira dinyatakan meninggal, kak Rival menjadi berubah drastis. Dan maaf ya kak.. kak Rival sangat tempramen. Kakak sering marah-marah ga jelas, kakak sering ngamuk.. Dan melihat kak Rival yang seperti itu, mama menjadi sangat sedih kak.. Dan akhirnya mama itu menemukan sosok Rita. Dan dari situlah mama meminta Rita untuk membantunya menyembuhkan kakak.. dan Rita itu bersedia membantu mama.." Ucap Nadia.
"Menyembuhkan Aku? Rita ga memberikan obat apa pun kepadaku." Ujar Rival.
"Memangnya menyembuhkan itu harus pakai obat ya.. kak Rival kan bukan sakit badan.. tapi, batin kakak yang sakit.. Rita itu berusaha untuk membuat kakak sembuh dari keterpurukan.. Selama ini, kak Rival menjadi tempramen.. mama sangat sedih melihat kakak yang seperti itu.. Mama tidak tau lagi bagaimana caranya agar kakak itu kembali seperti dulu.. makanya mama meminta tolong Rita untuk menyembuhkan kakak.." Ungkap Nadia.
__ADS_1
"Tapi, mama bilang kemaren.. kalau mama menjodohkan Aku dengannya.." Ujar Rival.
"Ya, itukan cuma rencana mama aja kak.. tapi kalau Rita tidak tau apa-apa tentang ini... Bahkan Rita kemaren mencari tahu asal muasal kakak bersikap seperti sekarang ini.." Ujar Nadia.
"Ngapain dia mau mencari tahu?" Tanya Rival penasaran.
"Ya, dia mencari solusi supaya kakak bisa sembuh dari kegalauan kakak.. dia pengen tau penyebabnya apa.. Rita juga kasian melihat mama yang sedih dengan keadaan kakak.." Ujar Nadia. Rival menjadi terdiam ketika mendengar cerita dari Nadia.
"Kamu serius kalau Rita itu ga tau apa-apa tentang ini?" Tanya Rival lagi.
"Sejak kapan Aku bohong sama kakak?" Ujar Nadia.
Rival kembali terdiam mendengar hal itu. Rival sangat percaya sama Nadia. Karena Nadia itu selalu jujur terhadapnya. Dalam hati, Rival seperti merasa bersalah karena telah menuduh Rita. Tapi, Dia menutupi perasaan bersalahnya itu dari Nadia. Karena iya malu mengakuinya.
"Ya, biarin saja lah.. dia pergi.. toh memang seharusnya dia pergi dari sini.. lagian kan ini bukan rumah dia.. Lagian Aku juga udah baik-baik aja kok.." Ucapnya.
"Kakak kok benci banget sih sama Rita? Rita kan ga ada salah sama kakak.." Ucap Nadia dongkol.
"Dia memang tidak ada salah sama sama Aku.. tapi Aku ga suka aja sama dia." Ujarnya. Nadia pun membuang nafas kasar dan mengingatkan kakaknya itu.
"Kak.. kalau benci itu jangan terlalu.. kakak boleh ga suka sama siapapun, itu hak kakak.. tapi jangan keterlaluan.. nanti kakak jatuh cinta loh.." Ucap Nadia mengingatkan. Rival pun melotot heran.
"Aku, jatuh cinta sama Rita?" Ucapnya sembari menunjuk dirinya sendiri. Kemudian berkata lagi.
"Hahaha.. mana mungkin Aku jatuh cinta sama dia.. amit-amit deh.. jangan sampai Aku suka sama dia." Ucapnya.
__ADS_1