
Empat potong pakaian mendarat di meja Angkasa, sementara orang yang membawa barang tersebut memilih duduk di sofa. Setelah izin pada David, Myria mengantar pesanan bosnya itu ke ruangan.
Pengerjaan seperti dikejar sesuatu. Dalam kurun waktu dua bulan, baju atasan pria itu akhirnya selesai. Meski harus lembur siang malam, dibantu Friska memotong bahan serta membuat pola, menjahit bahkan memasang setiap detail, paling tidak semoga hasil sesuai harapan sang bos.
“Dua hoodie dan dua sweter seperti kemauan Anda, Pak. Saya harap, Anda puas dan nyaman memakainya sehingga bisa diproduksi lebih banyak lagi.”
Angkasa bergeming dan hanya menatap sepintas. Pria itu menekan tombol di interkom untuk menghubungi seseorang. “Ke ruanganku sekarang,” katanya tanpa basa-basi.
Tidak sampai lima menit, seseorang sudah ada yang mengetuk pintu. Angkasa mempersilakan masuk, lalu muncullah Sakti dengan gaya santai seperti biasa.
“Kenapa, Bro?” Meski tidak berdua, Sakti menanggalkan keformalan. Hanya Myria, Sakti rasa itu tidak masalah karena sejak dahulu berteman.
“Jatahmu mencoba hoodie buatan Myria itu dalam beberapa hari ke depan. Jangan lupa tulis semua point saat memakainya secara jujur. Lalu berikan padaku buat pertimbangan.”
Sakti melirik Myria sebentar, lalu menyahut satu hoodie hitam dan membentangkannya. Persis seperti gambar yang diajukan saat meeting dua bulan lalu, desain itu sekarang terlihat wujud aslinya.
“Bahannya halus, tidak tipis dan tidak terlalu tebal. Semoga nggak gerah aja. Jadi bisa nyaman dipakai di mana pun.”
“Insyaallah tidak, Pak. Bapak bisa coba untuk membuktikan.” Myria menjawab meski tidak ditanya. Dalam bekerja, dia harus menunjukkan kepercayaan diri bahwa hasil karyanya tidak main-main.
__ADS_1
“Oke.” Sakti menjawab singkat. Namun, ada hal lain yang dilakukan olehnya.
“Aaarrgh …!” Myria langsung menutup wajah dengan bantal sofa. Bisa-bisanya Sakti membuka baju dan hendak berganti hoodie secara langsung di depan Myria maupun Angkasa.
Angkasa tak kalah kaget. Pria itu langsung berdiri dari kursi. “Gila! Lo nggak punya adab buka baju gitu aja di depan perempuan?” Wajah Angkasa menegas. Matanya menatap tajam pada Sakti, sementara telapak tangan tanpa sadar mengepal di atas meja.
Sakti yang masih lanjut berganti pakaian justru tertawa. Kepalanya baru keluar dari kerung leher dan langsung menoleh pada Myria. “Sorry, My. Santai aja, ini bukan aurat. Lagian lo lama tinggal di luar negeri, bukan hal aneh, kan, liat ABS orang?”
Astaghfirullah, ya, Allah.
Tak mau melihat Sakti dulu, Myria terus beristighfar dalam hati. Bantal masih setia menutup wajahnya tanpa menggubris omongan direktur perusahaan itu.
Bukan Sakti namanya kalau menanggapi omongan Angkasa dengan keseriusan. Dia makin tertawa lantang sebelum benar-benar keluar. “Santai, Bro. Gue cuma ngetes, kali aja abis liat gue kayak tadi, dia bisa berpaling dari lo.”
“Sekali lagi lo ngomong, gue bawa lo ke tukang jagal.” Ingin sekali Angkasa mengeluarkan Sakti dengan cara menendang. Dia tak habis pikir, meski sahabatnya banyak tingkah, tetapi tingkah yang baru saja terjadi sudah benar-benar di luar batas. Siapa yang tidak emosi melihat hal semacam itu.
Tawa Sakti membahana. Dengan membawa satu tas kertas di tangan yang berisi hoodie dan bajunya tadi, dia baru keluar. Rasanya puas sekali mengerjai dua orang sekaligus. Baginya, hiburan cuma-cuma di siang hari saat pekerjaan sempat membuat otaknya kusut.
Angkasa mendengkus kasar selepas menutup pintu. Kedua tangannya menyugar rambut secara bersamaan, lalu menuju lemari pendingin. Dua botol air mineral terambil, pria itu membawanya pada Myria.
__ADS_1
“Sakti udah pergi. Minum ini,” kata pria itu sembari menyodorkan botol dan satu sedotan plastik.
“Myria.” Angkasa memanggil lantaran mantan istrinya tak mau menurunkan bantal dari wajah. Jangan sampai Myria ikut-ikutan membuatnya emosi.
Perlahan, Myria menurut. Diletakkannya bantal ke sofa, lalu menerima air mineral dari tangan Angkasa. “Makasih, Pak.”
Angkasa terdiam, tetapi matanya terus memperhatikan pergerakan Myria. Mulai dari cara wanita itu mengulir tutup botol sampai minum pun masih terus diperhatikan seolah ada sesuatu yang menarik perhatian.
“Tundukkan pandangan, Pak. Bukan mahram. Saya hanya anak buah bapak di sini.”
Kata-kata Myria menyadarkan Angkasa. Pria itu langsung membuang muka dan duduk menghadap ke arah lain. Air mineral yang sejak tadi hanya digenggam, kini mulai dibuka dan diminum isinya. Bahkan, dia berdehem beberapa kali untuk mengurai rasa malu.
“Kalau tidak ada hal lain, saya permisi mau kembali ke ruangan, Pak.” Setelah menghabiskan hampir separuh isi botolnya, Myria pamit. “Terima kasih buat minumannya.”
Tak ada jawaban dari Angkasa, tetapi Myria memang merasa tidak ada hal lain lagi. Maka dari itu, dia berdiri dan mulai melangkah menuju pintu.
“Myria.”
Baru saja langkah serta tangannya mencapai pintu, suara Angkasa mengharuskan Myria berbalik. “Ya, Pak. Apa ada hal lain yang harus saya kerjakan?”
__ADS_1
Angkasa mengangkat wajah dan memberi tatapan teduh pada Myria meski posisi mereka berjarak. Pria yang hari ini hanya memakai kaus pendek abu-abu dan celana jeans itu berkata, “Apa kamu siap terima khitbah dariku setelah produk ini launching dan mulai beredar di pasaran?”