
Sakti langsung menyingkirkan buku dari tangan. Dia ikut berdiri dan menyenggol lengan sahabatnya. “Kenapa lo?”
“Kasa,” panggil Sakti lagi.
Angkasa beristighfar, lalu menggeleng dan kembali duduk. Perempuan yang mengantar minum bahkan sempat berhenti melihat tindakannya.
“Ada apa, Tuan?” Bunda bertanya heran.
“Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya hanya salah orang.”
Jawaban Angkasa membuat Sakti menghela napas. Pria bersweter biru muda itu tahu arah pikiran sahabatnya ke mana.
Azan magrib memaksa semua beranjak. Anak-anak kecil yang ada di depan mulai masuk rumah dan para karyawan juga memberi saran untuk pulang. Tak ada lagi hal yang ingin dibahas, semua urusan perkara dana dan barang-barang bawaan telah pindah tangan. Maka dari itu, Sakti bersama yang lain pamit.
“Apa tidak ingin jamaah di sini saja, Tuan dan Nona sekalian?” Bunda memberi usul kala mengantar sampai teras.
“Tidak perlu, Bu.” Sakti menjawab. “Maaf, kami juga ada urusan lain. Sebagian dari kami juga sudah berkeluarga, jadi ada pasangan dan anak yang pasti sudah menunggu.”
Paham urusan masing-masing orang berbeda, Bunda tidak memaksa lagi. Beliau mempersilakan tamunya pergi dan tak lupa mengucap terima kasih banyak atas bantuan hari ini. Anak-anak yang tadi di dalam, ikut keluar hanya karena ingin memeluk para pekerja Angkasa Pradana itu bergantian, termasuk pemiliknya.
“Om, terima kasih hadiahnya. Kami pasti akan rajin belajar biar bisa kerja bagus kayak Om dan Tante semua.”
Bibir Angkasa tertarik kanan dan kiri hingga membentuk senyum sempurna. Pria itu mengusap rambut anak laki-laki berkisar umur enam tahun dengan penuh kelembutan. Tiba-tiba, tebersit di pikiran Angkasa, andai dahulu sudah memiliki anak bersama Myria, mungkin anak itu sudah sebesar anak lelaki di depannya kini.
“Om tunggu kesuksesan kalian.”
Anak kecil itu mengangguk cepat dibarengi senyum lebar. Angkasa yang melihatnya ikut merasa bahagia.
Semua pamit dan pergi dengan kendaraan masing-masing. Sebagian dari mereka langsung menuju masjid terdekat dan sebagian lagi pulang karena memang tidak salat. Usai salat, selesai sudah urusan hari ini.
“Kami pamit, ya, Pak.”
Angkasa dan Sakti mengangguk serempak. “Terima kasih untuk hari ini. Hati-hati kalian.”
Para karyawan mengangguk dan mengucap salam sebelum pergi.
Di jalan, Angkasa lebih banyak diam hingga mengundang kecurigaan. Sakti yang ada di sebelah bertanya, “Apa lagi yang lo pikirin? Myria?”
Angkasa melirik sebentar, lalu kembali menatap depan. “Gue ngerasa lihat Myria di panti tadi.”
Dua alis Sakti langsung bertaut. “Lo telat minum obat? Sampek halusinasi gini?”
“Serius, gue ngerasa ada orang di belakang pintu tadi ngintip pas kita dapat minum. Makanya gue refleks aja berdiri.”
__ADS_1
Sakti tak menyahut. Jemarinya mengetuk-ngetuk stir dan terus fokus ke jalan raya. Ingin memperingati Angkasa lagi agar tidak terlalu berpikir, sepertinya sulit. “Lo bisa datengin lagi panti beberapa hari ke depan buat mastiin omongan lo itu.”
Cukup lama Angkasa terdiam. Namun, sepertinya tidak ada salahnya saran Sakti. Lagi pula, panti itu biasa dilewati saat ke makam Nyonya Kinara, Angkasa akan coba memastikan demi memenuhi rasa penasaran.
***
“Nak, ada yang kamu pikirkan?” Bunda mendekati Myria. Wanita paruh baya itu selalu perhatian pada setiap penghuni panti.
Myria mendongak, lalu menggeleng dengan senyum di bibir.
“Pulanglah,” kata Bunda dengan suara lembut. “Keluargamu pasti mencari. Seburuk apa pun itu, beliau tetap orang tuamu. Apalagi kamu belum menikah, Ayahmu masih berhak atasmu.”
“Saya pasti pulang, Bunda. Tapi tolong izinkan di sini beberapa hari lagi.”
Aura sendu yang memancar dari kedua mata Myria menghantarkan rasa iba di hati Bunda. Wanita itu menggenggam tangan Myria dan kembali berkata, “Bunda dan anak-anak senang kamu di sini. Tapi, sebagai wanita yang masih punya orang tua, kamu harus bisa bersikap birrul walidain. Ayahmu hanya ingin yang terbaik, tapi mungkin berbeda dari inginmu. Ingat, Nak, apa yang makhluk sukai belum tentu baik baginya. Allah sebaik-baik perencana.”
Air mata Myria menetes. Dia memeluk Bunda tanpa bicara apa pun. Kecamuk dalam jiwa terus memberontak secara brutal hingga membinasakan kesabaran. Myria masih enggan bertemu Tuan Tirta karena seumur-umur belum pernah dapat pukulan dari orang yang disayang.
“Maafkan, maafkan semua yang ada salah denganmu. Ayahmu, ibumu, teman, atau siapa pun yang mengenalmu. Manusia memang tidak ada yang sempurna, tapi tidak ada ruginya menghapus dendam,” kata Bunda menutup perbincangan.
***
Langit sore menjadi teman perjalanan Angkasa. Pulang dari kantor lebih awal, pria itu sengaja pamit pada Nyonya Nasita untuk mampir ke makam sebentar. Selain ziarah kubur, dia juga ingin memastikan keberadaan Myria di panti.
Tiba di makam, kondisi sepi karena asar telah terlewat. Beruntung langit cerah sehingga suasana masih terasa sedikit hangat.
Beberapa anak kecil yang ada di luar berhenti bermain. Salah satu dari mereka mendekati pagar dan bertanya. Angkasa menyampaikan keinginan ingin masuk dan anak kecil itu segera ke dalam untuk mencari orang dewasa yang membisa membuka pagar karena terkunci.
“Siapa?” Myria bertanya karena kebetulan dirinya yang ditemui.
“Ada, Tante. Pokoknya Tante tanya sendiri.”
Bingung menanggapi omongan anak panti tersebut, Myria bergegas ke kamar. Dia ganti cadar talinya dengan cadar bandana bermaksud agar tidak terlalu dikenali karena yang tampak hanya sepasang mata.
Tiba di luar, tidak siapa pun. Anak-anak yang bermain ikut bingung karena mendadak orang yang akan ditemui hilang.
“Kalian bohong sama Tante?” Myria mendesak salah satu dari enam anak tersebut.
“Enggak, Tante. Beneran,” kata anak yang tadi mengadu.
Pagar itu telah terbuka. Myria sempat celingukan ke kanan dan ke kiri tetapi tidak ada apa pun. Merasa anak-anak hanya bercanda, dia ingin menutupnya lagi.
“Mereka nggak bohong. Aku yang tadi ke sini.”
__ADS_1
Pikiran Myria mendadak kosong. Tatapan matanya mengarah pada Angkasa yang sedang berjalan ke arahnya. Pria itu masih rapi dengan dandanan bekerja, lalu mengapa tiba-tiba ada di sini?
“Kasa ….”
“Jangan pergi atau aku menarikmu.”
Seperti de javu, kalimat memaksa pria itu terlontar. Berapa tahun telah terlewat, tetapi nyatanya sikap itu tidak hilang.
“Bahagia di sini? Hm?”
Suara Angkasa membuat jantung berdebar. Myria menunduk tanpa menjawab, sementara satu tangannya masih berpegangan pada pagar.
“Aku dan Paman Mandala mencarimu susah payah, ternyata kamu di sini.”
Tak ingin terlalu lama di luar, Myria bersikap abai dan masuk halaman. Namun, tentu saja tidak sendiri karena Angkasa mengikuti.
Tanpa dipersilakan Angkasa duduk di teras dan memperhatikan Myria. Mantan istrinya itu sibuk meminta anak-anak segera mandi. Setelah sepi, pria itu baru dihampiri.
“Mau teh?”
“Mauku kamu.”
“Jaga bicaramu, Kasa.”
Angkasa terkekeh. Dia bersandar dan menatap bola lampu yang menempel di plafon teras. Pria itu memejam sebentar hanya untuk membuang penat. Dia bergumam kala Myria memanggil.
“Mari menyerah, Kasa.”
Mata Angkasa seketika terbuka. “Maksudmu?”
“Aku capek, Ka. Berapa tahun bertahan, tapi nggak ada perubahan. Aku capek buat mikirin hubungan ini sampai nggak sadar kalau aku terlalu sibuk sama perkara dunia. Padahal kamu atau apa pun yang ada di kehidupanku cuma titipan.”
“My ….” Angkasa berdiri. Masih dengan jarak cukup jauh, tetapi dia bisa mendengar.
“Allah Maha Pencemburu, Ka. Aku nggak mau kayak gini. Kita mungkin saling mencintai, tapi kita lupa siapa yang memberi cinta itu. Allah cemburu kita mencintai makhluk secara berlebihan dan jadinya nggak disatuin. Ada benarnya omonganmu dulu, mari bermuhasabah lagi. Kita pasrahkan sama Allah siapa jodoh kita kelak.”
Ucapan Myria memberanguskan semua harap. Angkasa mengatupkan bibirnya kembali dan urung berkata. Pria itu melihat tetasan air mata di pipi Myria, tetapi tak ada yang bisa diperbuat.
Sepi menyelip di keheningan. Angkasa terdiam cukup lama, begitupun Myria. Dua insan itu sama-sama melihat senja di ujung barat hingga azan magrib berkumandang.
“Kamu ikhlas sama keputusanmu?” Kalimat baru terlontar dari mulut Angkasa setelah lama diam.
Kepala Myria menengok sedikit. “Insyaallah.”
__ADS_1
Tak ada lagi harap, Angkasa pamit. Dia hormati keputusan Myria tanpa ingin memaksa. Pria itu berjalan keluar lalu berbelok ke arah kiri menuju bengkel di mana sepeda motornya ditambal karena sempat mengalami kebocoran.
“Ma fii qalbi ghairullah.” Tangan Angkasa mengusap dada, lalu menuju ke pipi yang telah basah. Ternyata, perpisahan dari mulut Myria lebih menyakitkan daripada perintah Tuan Tirta selama ini.