Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Kondisi Namira


__ADS_3

Malik pun masuk ke ruang rawat Namira. Iya melihat kondisi Namira yang terbaring lemah. Malik tidak tega melihat kondisi Namira yang tak berdaya seperti itu. Malik pun memegang tangan Namira. Dan Malik pun berkata.


"Namira.. meskipun Aku belum bisa mencintai kamu, tapi Aku masih punya rasa iba sama kamu.. Dan sekarang, Aku sudah menjadi suami kamu. Sudah kewajiban Aku untuk menjaga kamu.. Namira, Aku akan berusaha untuk bisa mencintai kamu seperti hal nya Aku mencintai Laura." Ucap Malik.


Namira pun merespon kata-kata Malik. Iya menggerakkan tangannya. Dan Malik yang melihat ini, menjadi terkejut. Kemudian, Malik pun segera memanggil dokter. Dokter segera datang untuk memeriksa kondisi Namira.


Dokter mengatakan kalau kondisi Namira berkembang dengan pesat. Dan Namira akan segera sadar. Ternyata, perkataan dokter Namira mulai membuka matanya. Dan Malik pun segera menyapa Namira.


"Namira.. kamu sudah sadar? Alhamdulillah.." Ucap Malik.


"Aku dimana kak?" Tanya Namira.


"Kamu sekarang ada di rumah sakit.." Jawab Rival. Namira pun teringat dengan kejadian yang menimpa dirinya.


...****************...


Seminggu sudah berlalu, keadaan Namira pun berangsur membaik. Luka bakar yang ada di wajahnya pun sudah berhasil dioperasi dan menjadi bagus kembali.


Dokter mulai membuka perban wajah Namira. Setelah selesai, Namira pun mulai membuka matanya dan mulai melihat kaca. Namira sangat senang, karena wajahnya bisa kembali normal seperti semula.


Suami Namira, dan mertua juga orang tua Namira pun merasa sangat bersyukur. Rasa syukur yang mereka ucapkan tidak ada hentinya.


"Namira.. sayang.. mama senang dan bersyukur kamu bisa kembali normal.." Ucap Sintia.


"Terimakasih ma.. terimakasih atas dukungan kalian.." Ujar Namira.


Dua minggu sudah berlalu, Namira pun kembali pulih. Dokter memperbolehkan Namira untuk pulang. Dan Namira sangat bersyukur. Akhirnya iya bisa terbebas dari rumah sakit.


Malik pun meminta ijin kepada orang tua Namira, untuk membawa Namira pulang ke rumah barunya. Dimana rumah itu telah iya siapkan untuk dirinya dan istrinya kelak.


"Ayah, ibu.. saya mau minta ijin untuk membawa Namira ke rumahku yang baru." Ujar Malik. Imam dan Sintia pun heran dengan perkataan Malik.


"Rumah baru?" Tanya Imam heran dan tidak percaya.


"Iya pa.. oh iya, mungkin Aku belum cerita sama mama dan papa.. kalau sudah punya rumah sendiri dengan hasil jerih payah ku sendiri.." Ucap Malik.


"Oh, benarkah? Alhamdulillah.. mama senang mendengarnya Malik.. akhirnya, anak mama bisa mandiri.." Ujar Sintia.

__ADS_1


Dan kedua orang tua Namira pun juga mengijinkan Malik untuk membawa Namira. Dan mereka pun berkata.


"Malik, Namira sekarang sudah menjadi istri kamu.. itu sudah menjadi hak kamu untuk membawa Namira kemanapun kamu mau.. asal kamu jaga Namira ya?" Pesan Abdullah.


"Baik yah.. Aku akan ingat selalu pesan Ayah.." Ujar Malik.


Malik pun membawa Namira pulang ke rumahnya sendiri.


.


.


.


Setelah sampai di rumah Malik, Namira melihat bangunan rumah itu. Minimalis tapi terlihat rapi. Dan Malik pun berkata.


"Namira.. ini rumah kita sekarang.. maaf, jika rumah ini tidak sebesar rumah kamu dan rumah orang tuaku.. Yang penting ini rumah dan tanah milik kita sendiri.." Ujar Malik.


"Ya, ampun kak.. kak Malik ini bicara apa sih? Ini sudah lebih dari cukup.. rumah ini bagus kok, elit juga.. Aku sangat bersyukur dengan ini.." Ucap Namira. Malik pun tersenyum dengan jawaban Namira. Dan Malik pun berkata.


"Namira.. sekarang, kamu sudah menjadi istri Aku, dan Aku sudah menjadi suami kamu.. sekarang, kita memulai hidup kita yang baru.." Ujar Malik.


"Pasti sayang.." Ucap Malik.


Hati Namira merasa sejuk ketika Malik memanggilnya sayang. Dan Malik pun mengajak Namira untuk masuk ke rumah barunya.


Malik menyuruh Namira untuk istirahat total. Karena kondisinya masih dalam masa pemulihan. Dan Malik pun menemani istrinya yang sedang istirahat.


...****************...


Sudah dua minggu juga Rival berada di luar negeri. Dan Rival pun sudah menyelesaikan pekerjaannya. Rival segera kembali ke Indonesia. Rival masih penasaran dengan Nadia yang menelfon dirinya berkali-kali waktu itu.


Setelah sekian jam penerbangan, Rival pun tiba di bandara Indonesia. Rival pun segera turun dari pesawat. Dan Rival berkali-kali menghubungi Nadia. Namun, Nadia tidak juga mengangkat telfon Rival.


.


.

__ADS_1


.


Sesampainya di rumah, Rival pun segera masuk. Helsen dan Marta sangat senang karena akhirnya Rival telah datang.


"Rival, bagaimana pekerjaan kamu di sana?" Tanya Helsen.


"Ya, syukurlah pa.. pekerjaan Rival di sana lancar. Dan sekarang perusahaan papa kembali normal." Jawab Rival.


"Syukurlah.. papa sangat senang mendengarnya." Ujar Helsen.


"Oh iya.. pa, Rival mau ke kamar dulu ya.. soalnya Rival capek benget.." Ujar Rival. Helsen pun mempersilahkan.


Karena lelah, Rival memilih untuk beristirahat setelah membersihkan dirinya. Rival akan menanyakan apa yang iya tanyakan kepada Nadia setelah dirinya beristirahat.


.


.


.


Setelah dirasa, hilang capek Rival pun menemui Nadia di kamarnya. Dan Rival pun mengetuk pintu kamar Nadia. Nadia segera membuka pintu kamarnya. Nadia terkejut dan merasa senang ketika melihat kakaknya datang. Nadia pun memeluk kakaknya.


" Akhirnya.. kakak pulang juga.." Ucap Nadia.


"Nadia, ada yang ingin kakak tanyakan sama kamu.." Ucap Rival.


"Apa kak?" Tanya Nadia yang sudah lupa.


Rival pun berbicara dengan Nadia di kamarnya.


"Nadia.. kamu ingat kan, dua minggu yang lalu kamu pernah menghubungi kakak berkali-kali.. ada apa Nadia?" Tanya Rival penasaran. Dan Nadia pun ingat kejadian dua minggu yang lalu.


"Oh, iya kaka.. kakak tau kan, waktu adalah hari pernikahan Namira.. dan waktu kakak pergi, mungkin waktu itu kakak sudah sampai di bandara. Ada kejadian yang tidak diinginkan kak.." Ujar Nadia.


"Kejadian yang tidak diinginkan? Kejadian apa?" Tanya Rival penasaran.


"Pesta pernikahan Namira tiba-tiba saja mengalami kebakaran. Kita semua para tamu undangan bahkan yang punya hajat pun juga bingung dari mana munculnya api itu. Dan untungnya, semua orang yang ada di dalam situ berhasil menyelamatkan diri. Tapi, ada satu orang yang masih terjebak di dalam kobaran api. Kakak tau, dia adalah Namira." Jawab Nadia. Rival terkejut mendengar hal ini.

__ADS_1


"Apa? Namira jadi korban? Terus, gimana? Siapa yang menyelamatkan dia?" Tanya Rival lagi.


"Tidak satu pun orang yang berani menyelamatkan Namira. Bahkan Ayahnya sendiri itu dilarang untuk masuk ke dalam. Dan akhirnya suami Namira nekat masuk ke dalam untuk menyelamatkan Namira. Meskipun iya di larang oleh keluarganya. Namun, sayang.. penyelamatan itu sudah terlambat kak.. Namira sudah terkena luka bakar, di tubuh dan wajahnya.. Ketika denyut nadi Namira sudah melemah.. dan sekarang, kita tidak tau Namira selamat atau enggak.." Ujar Nadia.


__ADS_2