
“Gimana bisa kayak gini, sih?” Air mata Myria berjatuhan ke pipi hingga memaksanya mengusap berkali-kali. Melihat tubuh sang suami terkapar di ranjang pasien, hati istri mana yang tak khawatir.
Dini hari tadi, Myria dikagetkan oleh pesan Sakti yang mengabarkan jika Angkasa mengalami kecelakaan dan telah dilarikan ke rumah sakit. Sakti juga mengirimkan foto yang menggambarkan kondisi Angkasa pasca penanganan.
Tanpa berpikir banyak saat itu, Myria langsung keluar rumah, bahkan tidak sempat pamit pada kedua mertuanya karena lupa. Dia menyambar kunci mobil dan rela mengemudi sendirian di tengah jalanan yang sepi.
Angkasa membisu, hanya kedipan teratur yang diberikan. Pukulan keras di kepalanya menghadirkan pusing luar biasa sehingga kesulitan bicara. Dokter mengabarkan hasil CT scan menunjukkan adanya gegar otak ringan dan yang dibutuhkan pasien adalah istirahat cukup. Angkasa juga tidak boleh terlalu banyak bergerak apalagi berpikir keras dahulu dalam beberapa hari ke depan.
“Jangan nangis terus. Aku sedih lihat kamu gini,” kata Angkasa susah payah menahan sakit. Atap ruang VIP yang telah dipesankan Sakti terasa berputar. Kepalanya terus berdenyut apalagi saat bergerak.
“Aku yang sedih lihat kamu gini, Ka. Berapa banyak kamu masuk rumah sakit? Ya, Allah, Kasa.”
Tangisan Myria membuat hati Angkasa sesak hingga ingin memeluk. Namun, kali ini dia tak bisa melakukan itu karena gerakannya benar-benar dibatasi. Sebenarnya tak ada masalah dengan anggota tubuh lain, tetapi memang dirinya belum mampu menahan kesakitan yang terus hilang timbul.
Merasa sedih pada Myria dan iba pada Angkasa, Friska segera mengusap-ngusap punggung sahabatnya. Tak ada banyak hal yang bisa dilakukannya kecuali mendampingi Myria sejak tadi.
Friska memang datang setelah jam besuk diperbolehkan. Pagi tadi selepas subuh, saat tak sengaja melihat cuitan Sakti di timeline akun media sosial, Friska buru-buru menghubungi Myria. Ternyata benar mengenai Angkasa dan sahabatnya sudah berada di rumah sakit.
“Sabar, My. Namanya juga musibah. Biarin Kasa tenang.”
Ingin mengangguk sebagai tanda setuju atas nasihat Friska, Angkasa tak mampu. Maka dari itu, hanya senyum tipis yang bisa diberikan untuk menenangkan Myria.
“Makanlah.”
Myria segera mengusap wajahnya. “Kamu mau makan?”
__ADS_1
“Kamu. Pesen sarapan sama Friska di kantin sana.”
“Enggak laper.”
Jawaban Myria membuat Angkasa diam lagi. Berbeda dari biasanya akan memaksa, kali ini pria itu tidak bisa. Angkasa biarkan Myria dengan keputusannya.
Pintu kamar terbuka menghadirkan Nyonya Nasita dan Nyonya Caroline. Dua wanita itu datang diantar Andreas, sementara suami mereka tengah bekerja.
“Kasa, gimana Nak? Masih sakit?” Langkah Nyonya Nasita yang paling cepat sampai di ranjang. Tak beda jauh dari Myria, beliau juga menangis sejak tadi. Wanita itu sebenarnya sudah datang sejak subuh, tetapi pulang ke rumah guna mengambil beberapa pakaian Myria dan Angkasa. Saat hendak kembali ke rumah sakit, Nyonya Caroline menelepon karena ingin ikut.
“Ajak Myria sarapan, Ma.” Jawaban lain diberikan Angkasa.
Tatapan Nyonya Nasita mengarah pada Myria yang ada di seberang. Beliau mengangguk pada putranya. “Mama bawa makanan buat kalian.”
Andreas mengangguk dan menaruh paper bag besar berisi makanan. Pria itu ikut mendekat ke ranjang lantas mengusap kepala dan bahu Myria. “Breakfast.”
Tak hanya Angkasa yang ditolak, tetapi Andreas juga. Myria memang kehilangan selera makan setiap bersedih.
“Makan, Nak. Mama suapi.” Nyonya Nasita sigap menuju meja dan mengambil satu kotak makanan. Tak lupa pula beliau menyuruh Friska untuk sarapan.
Didatanginya sang menantu yang ada di kursi tunggu dekat ranjang, wanita berjilbab instan merah bata itu mengarahkan sendok ke wajah Myria. “Ayo, Aa! Buka mulutmu.”
Sungkan saat melihat usaha ibu mertua sampai seperti itu, Myria akhirnya menurut. Dia mulai membuka mulut dan menerima makanan yang diberikan.
“Bunda, Myria bisa sendiri.”
__ADS_1
“Tidak pa-pa, Mama ingin menyuapimu.”
Bibir Myria terlipat. Rasa tidak enaknya bertambah, tetapi tak ingin melukai hati Nyonya Nasita dengan sebuah penolakan. Maka dari itu, dia terus menerima suapan demi suapan tanpa protes.
“Kamu mau, Kasa?” Sendok ganti mengarah pada Angkasa. Pria itu tersenyum tipis membalas tatapan ibunya, lalu membuka mulut tanpa harus ada drama.
Friska yang sudah duduk di sofa bersama Nyonya Caroline dan Andreas ikut tersenyum. Setiap melihat kebahagiaan Myria, tiap itu juga hatinya bersyukur. Tentu saja diaa tidak lupa perjuangan sahabatnya bertahan hidup hingga berada di titik sekarang.
Semua orang yang di dalam sibuk makan sambil mengobrol pelan. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncullah Sakti. Pria yang masih berpakaian seperti kemarin malam itu mengucap salam dan menyapa seluruh keluarga yang ada, lantas mendekati sahabatnya.
“Udah beres?” tanya Angkasa dengan tatapan menuju pada sahabatnya.
Sakti mengangguk sebagai jawaban. Bibirnya tidak mengucap apa-apa lagi, tetapi justru matanya berkeliling pada orang-orang yang ada di ruangan. Detik berikutnya, satu tangan pria itu merogoh saku lantas mengeluarkan ponsel. Badan Sakti yang tinggi merendah sedikit karena ingin berbisik.
“Tahan diri lo. Tapi jangan kaget kalau gue bilang ini.”
Dua alis hitam Angkasa saling menaut pertanda heran, tetapi sebisa mungkin tetap tenang karena tidak ingin membuat khawatir.
Mendapati sahabatnya bisa diajak kerja sama, Sakti mendekat lagi pada Angkasa. “Ayah Erika,” katanya dan sukses membuat dua mata sahabatnya membulat sempurna.
.
.
......................
__ADS_1
Yang lupa/ belum tau Erika siapa. Balik lagi baca "Menikahi Teman Kelas" Kak. Kisah Angkasa bermula dari sana, yak.