
“Sabar, Myria. Anak, jodoh, sama maut itu urusan Allah. Lagian kita masih muda, nggak usah buru-buru juga, kan?” Friska berusaha menenangkan sahabatnya meski tak yakin. Pasalnya, dia sadari seperti apa perasaan wanita saat divonis dokter harus berusaha lebih kuat dan banyak sabar dalam menjemput momongan.
Kepala Myria ditaruh ke meja. Rasa berat dan bising menyelimuti pikiran wanita itu akan persoalan dalam rumah tangganya bersama Angkasa. Padahal, kemarin-kemarin begitu damai dan menenangkan.
“Ujian gini, tuh, makin nyadarin kita kalau kita ini makhluk lemah, kan? Jadi kalau dipikir bener-bener, mungkin Allah cuma pengin kamu sama Kasa bisa lebih deket lagi sama Dia, My.”
“Bahuku berat banget rasanya, Fris. Aku takut nggak kuat.” Mata bulat dengan warna hitam pekat itu menerawang jauh. Ada kaca-kaca penghalang yang memburamkan penglihatan. Ketika meratapi nasib, air mata Myria mudah sekali mendesak keluar.
Friska mengusap kepala dan bahu Myria. Wanita hamil menginjak usia tiga bulan itu tak pandai berkomentar. Pak Zayyan melarangnya bicara terlalu banyak hingga menimbulkan ketidakmanfaatan. Maka dari itu, sejak Friska menikah, sikapnya sedikit berubah dan tentu tidak segarang dahulu.
“Allah ngirimin Kasa buat jadi pendampingmu, Myria. Ujian kali ini kamu nggak sendiri. Nggak kayak dulu pas kita sekolah. Kalau kamu stres gini, Kasa pasti lebih stres lagi.”
Napas lelah terembus dari bibir yang tertutup cadar hitam. Myria menyeka matanya yang mulai meneteskan air. “Kasa nggak banyak ngomong. Soal program hamil ini, kan, emang aku yang ngebet. Dia keliatan santai banget, tuh.”
“Bagus juga, dong, My. Itu artinya, dia nerima kamu apa adanya. Dia nikahin kamu bukan semata-mata karena pengin anak doang.”
__ADS_1
“Tapi Kasa anak tunggal, Friska.” Myria bangkit dengan cepat. Dia berucap menggebu, “Cuma dari dia, Bunda sama Papa bisa punya cucu.”
Bibir Friska bergetar. Melihat Myria berlinang air mata, dia ikut berkaca-kaca. Ada kehancuran tersendiri saat melihat sahabatnya bersusah hati secara berlebihan.
Tak sanggup berkata apa pun, Friska melebarkan dua tangan guna memeluk. “Allah sayang, kok, sama kita, My. Ujian rumah tangga itu beragam. Aku sama kamu meski deket gini, ujian kita beda. Tapi Allah pasti milihin yang terbaik buat kita. Allah juga tahu kita kuatnya di ujian mana. Jadi, kalau kamu sama Kasa diuji soal keturunan gini, berarti emang itu yang kalian mampu, bukan yang lain.”
Nasihat panjang lebar dari Friska memang benar, tetapi kenyataannya justru memperparah tangis Myria. Wanita yang masih di pelukan sahabatnya itu makin mengencangkan rangkulan karena bingung harus seperti apa meluapkan kegundahan.
“Sabar, My. Aku ada buat kamu,” kata Friska di ujung pembicaraan. Tak ada yang bisa dilakukan jika menyangkut takdir dari Tuhan. Dia juga manusia biasa, bukan Nabi yang memiliki keistimewaan berupa mukjizat.
***
Pesan dari Nyonya Nasita menghentikan langkah Angkasa yang hendak menuju parkiran. Alisnya langsung menyatu hingga Sakti bertanya penuh kebingungan.
“Nggak, bukan apa-apa. Nyokap cuma nyuruh gue makan malam di rumah. Myria pengin nginep kali,” kata Angkasa saat menjawab.
__ADS_1
Sakti mengangguk-angguk. Dia lanjutkan langkah tanpa bertanya lebih. Dua bulan setelah obrolannya dengan Angkasa perkara keinginan untuk memiliki anak, pria itu tak lagi mendengar sang sahabat bercerita.
Khawatir menyinggung dan terkesan terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga Angkasa, Sakti memilih diam. Dia hanya berdoa sahabatnya baik-baik saja meski sempat mengaku ada kemungkinan kesuburannya terganggu lantaran efek penggunaan obat jangka panjang.
Motor meninggalkan gedung Angkasa Pradana. Dua pria yang selalu memakai motor itu ikut terjun ke jalanan yang lumayan macet. Hari-hari seperti itu sudah biasa mereka hadapi, sehingga tak ada hal yang perlu dikeluhkan.
Setelah mengendarai motor hampir satu jam karena macet, Angkasa tiba di rumah orang tua. Dia mengucap salam, lalu disambut sang istri.
“Kamu dari tadi, Sayang?” Pertanyaan Angkasa keluar setelah lebih dahulu bersalaman dan mendaratkan kecupan di dahi.
“Enggak, kayak biasanya.” Myria menjawab lirih. Dia lebih banyak menunduk dan enggan menatap sang suami.
Akan tetapi, sedikit saja perubahan terjadi pada Myria, hal itu berhasil menarik perhatian Angkasa. Pria yang baru saja menyerahkan helm itu seketika menarik tangan.
Telunjuk kanan mengarah ke depan dan mendarat di bawah dagu Myria. Kemudian, Angkasa memberi dorongan ke atas agar wajah istrinya terangkat. Indra penglihatan pria itu melebar. “Kamu nangis, Habibati?”
__ADS_1
Cepat-cepat Myria mundur dan berbalik. Dia pura-pura menaruh helm ke rak khusus yang tersedia sambil berbohong. Angkasa menyanggah pengakuan Myria, tetapi wanita itu bersikeras hanya kelilipan.
“Kita ke kamar!” kata Angkasa dengan tegas lalu menarik tangan Myria tanpa meminta persetujuan.