
Berulang kali Sakti menguap hingga mengundang perhatian Angkasa yang ada di sebelah. Beberapa kali pula sahabatnya itu memberi tawaran untuk ganti menyetir. Namun, Sakti terus menolak dan bilang bahwa masih kuat sampai tiba di rumah.
Dua pria itu memang melakukan perjalanan kembali ke kota asal saat malam hari lantaran dari pagi hingga sore tadi dipakai Angkasa dan Myria berkeliling untuk mencari oleh-oleh.
Sebenarnya, tidak ada yang meminta oleh-oleh atau apa pun itu, tetapi Myria berinisiatif membeli karena ingin memberikan pada Friska dan para pekerjanya. Sakti yang menemani pasangan suami istri itu setuju-setuju saja tanpa menolak atau melarang.
“Nepi aja dulu buat istirahat. Bahaya kalau lo maksain diri nyetir sambil ngantuk gini. Gue gantiin sini!”
“Nggak usah, Ka. Setengah jam lagi nyampek.”
Angkasa berdecak. Kemudian, dia memutar badannya sedikit ke belakang dan mengambil sesuatu dari kantung belanja. Dua matanya sempat memandang sang istri yang tertidur pulas hingga senyum tipis tersemat di bibir.
“Nih, minum biar lo melek,” kata Angkasa. Sebotol kopi instan disodorkan pada Sakti. Sahabatnya itu melirik sekilas dan baru menyahut.
“Khawatir banget lo. Gue masih melek.” Kata-kata Sakti keluar dari mulut setelah meneguk kopi beberapa kali.
“Lo bawa nyawa istri gue juga. Gue ogah kenapa-kenapa.”
“Ya elah, kayak baru ini aja jalan malem sama gue. Lagian gue seharian juga udah tidur di kamar waktu lo muter-muter sama Myria sore tadi.”
__ADS_1
Angkasa abai. Berdebat dengan Sakti tak ada guna. Justru yang ada akan memecah konsentrasi sahabatnya itu. Dia ganti menyahut tablet yang sejak tadi ada di pangkuan, lalu memeriksa beberapa pekerjaan.
“Ada pikiran buat buka cabang nggak lo, Ka?”
Kepala Angkasa terangkat sedikit. “Tentu. Tapi kayaknya nggak tahun ini. Kita masih butuh beberapa waktu lagi buat pertimbangan. Lo tahu, laba kita hampir habis beberapa periode buat pendanaan produksi ulang insiden kemarin.”
Sakti mengangguk-angguk. Dia mengubah topik obrolan. “Bokap gue bentar lagi mungkin pensiun dari kerjaannya. Tapi nggak tahu lagi kalau pindah ke kantor nyokap.”
Mendengar Sakti membahas orang tua, Angkasa secara khusus memberi perhatian pada sahabatnya tersebut. Tablet yang ada di tangan, langsung dimatikan. “Trus lo?”
“Gue tetep di tempat kita. Urusan perusahaan keluarga, biar mereka cari orang lain yang bisa dipercaya. Rasanya gue udah nyatu sama kerjaan sekarang, nggak bisa pindah gitu aja meski berulang kali dirayu." Prinsip Sakti sejak awal tak pernah berubah. Dia memang sengaja keluar dan membangun bisnis sendiri meski masih dalam pantauan keluarga. "Kadang gue capek, Ka.”
Angkasa menoleh ke belakang untuk melihat Myria. Khawatir istrinya mendengar keluhan Sakti. Saat tahu sang istri masih begitu pulas, dia baru berani menyahut pembicaraan. “Ortu lo nggak salah. Mau sampek kapan gini?”
“Lo ngomong nggak nyalahin, tapi gue yakin kata hati lo beda.”
Sakti terdiam. Dia menghela napas panjang mendengar perkataan Angkasa. Umurnya hampir menyentuh kepala tiga, tetapi tidak sedikit pun dia rasakan apa itu arti keluarga yang sesungguhnya.
“Kalau dulu gue nggak dilahirin ke dunia, pasti nggak bakal ngerasa gini.”
__ADS_1
“Lo ngomong apaan?” Angkasa mulai naik pitam. “Lo sering ngingetin gue kalau tiap ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia itu udah melewati kesepatakan sama Malaikat. Udah ditanya sebanyak tujuh puluh tujuh kali dan pasti ada salah satu alasan kuat yang bikin ruh mau ke dunia. Bisa-bisanya lo ngomong gitu.”
Sakti menggeleng lemah. Satu tangannya mengusap wajah yang tiba-tiba berubah muram. “Tapi sampai detik ini gue belum nemu alasan kenapa gue milih hidup di dunia.”
“Terlalu fokus sama cobaan, bikin orang lupa sama banyaknya kenikmatan yang dimiliki.” Angkasa menukas. Dia harus mematahkan argumen Sakti tentang kesedihan hidup yang selama ini dijalani. Ada banyak hal yang sahabatnya miliki dan tidak dimiliki orang lain, tetapi mengapa Sakti seolah-olah berkhianat akan hal itu.
“Lo beruntung karena bisa lebih kuat dari gue, Sakti.” Langgam bicara Angkasa kembali tenang. “Dan mungkin itu salah satu alasan lo mau hidup. Gue butuh lo, nyokap sama bokap lo juga butuh. Lo bisa nyenengin banyak orang dan jadi salah satu pahala yang bakal ngalir.”
Wajah yang sempat hilang raut bahagianya kembali bersinar. Sakti tersenyum tipis seraya menoleh. Dia ucapkan terima kasih pada Angkasa karena selalu mengingatkan.
Lantaran fokus yang terpecah, Sakti sampai tak sadar ada mobil truk berkecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan. Saat dia hendak menghadap depan, dirinya kaget sekaligus tak bisa melihat karena terkena silau lampu truk tadi.
“Sakti, awas!”
"Kasa, kenapa?" Teriakan Angkasa membangunkan Myria. Wanita itu langsung gelagapan dan nyaris maju.
Angkasa makin panik dan berseru, "Myria, tetap di situ!"
Myria menurut meskipun takut. Dia terus beristighfar cukup keras melihat kondisi tidak stabil.
__ADS_1
Di depan duduk Myria, Sakti makin kehilangan kendali. Pria itu memutar kemudi secara cepat ke arah kiri dan akhirnya ….
Brak!