
Setelah pamit, Muti memeluk Mama Sultan, mereka sama menangis. Meski Muti bukan menantu keluarga Hendrawan lagi, tapi hubungan kekerabatan mereka tidak akan berakhir.
Rumah keluarga Hendrawan tetap terbuka untuk keluarga Danuarta dan persahabatan yang sudah terjalin lama tidak akan rusak, hanya gara-gara perceraian anak mereka.
Hendrawan memeluk Danuarta, beliau tidak henti-hentinya mengucapkan kata maaf atas kesalahan Sultan.
Danuarta hanya mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa orangtua jangan egois, memaksakan keinginan yang akhirnya menyakiti anak-anak.
Orangtua bisa andil mengawasi dan menegur pergaulan anak yang menyimpang dari norma perilaku. Tapi, tentang jodoh hendaknya beri kesempatan anak untuk memilih.
Danu dan Muti melambaikan tangan sembari meninggalkan tempat itu. Dalam hatinya, Muti mengucap selamat tinggal kepada rumah dan kenangan yang pernah dia alami di sana.
Baik maupun buruknya semua yang pernah terjadi di sana tetap akan menjadi kenangan yang mengajarkan Muti untuk lebih dewasa dalam menghadapi segala cobaan hidup.
"Kamu sedih Nduk?" tanya Ayah yang melihat Muti masih menatap rumahnya sampai hilang dari pandangan mata.
"Iya Yah, di sana aku belajar hidup, belajar menjadi istri, tapi aku gagal jadi istri yang sabar, Ayah!"
"Itulah proses kehidupan Nduk, tidak selamanya hidup kita berakhir dengan kebahagiaan. Manusia tidak ada yang sempurna, tapi berusaha dan berjuanglah untuk bisa mendekati sempurna, walau untuk menggapai itu kamu harus jatuh bangun, tersandung kerikil-kerikil kehidupan."
"Saat ini kamu gagal, tapi jangan ratapi kegagalanmu. Jadikanlah kegagalan ini sebagai guru untuk menggapai kebahagiaan mu kedepannya," ucap Ayah yang memberi nasehat kepada Muti.
"Terimakasih Ayah, maafkan Muti yang telah mengecewakan Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu pasti malu dengan para tetangga, mereka pasti akan bergunjing tentang keluarga kita," ucap Muti.
"Itu lumrah Nduk, siapa yang bisa membungkam mulut orang. Setiap orang, punya penilaian masing-masing, jadi biarkan saja mereka menilai kita, yang terpenting kita tetap berusaha untuk menjadi orang baik."
Muti bersyukur, Ayahnya bijaksana dalam menyikapi perceraiannya hingga membuat Muti memiliki kekuatan untuk menata hidupnya kedepan.
Ibu Muti mondar mandir di depan pintu, beliau khawatir kenapa sudah hampir tengah malam ayah belum juga pulang, padahal tadi ditelepon akan segera pulang.
Saat melihat mobil ayah memasuki pekarangan, ibu merasa lega, tapi beliau terkejut begitu melihat Muti turun dari dalam mobil.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu," sapa Muti begitu melihat sang ibu menyambut kedatangan mereka.
Ibu pun menjawab salam dari Muti, lalu memeluknya. Tapi, Ibu masih bingung karena Muti cuma datang sendiri tanpa sang Suami.
Hal yang tidak wajar bagi seorang istri pulang ke rumah orangtua tanpa mengajak suami, kecuali ada keperluan mendadak dan penting.
"Suamimu tidak ikut Nduk?" tanya Ibu.
"Tidak Bu," jawab Muti singkat.
Saat ini Muti masih belum bisa menjelaskan kepada ibu dengan perasaannya yang masih kacau. Nanti, ketika sudah tenang, dia pasti akan menceritakan semuanya.
Ayah yang mengerti perasaan putrinya memberi kode kepada ibu dengan jarinya agar ibu jangan bertanya dulu.
Elena yang melihat kedatangan Muti menghambur ke pelukan sahabatnya itu, dia bisa menduga pasti ada yang tidak beres terjadi, hingga Muti memutuskan untuk pulang bersama ayah.
Setahu Elena, Muti tidak akan meninggalkan rumahnya malam-malam tanpa suami walau sepahit apapun masalah yang terjadi di dalam rumah tangganya.
"Iya El," jawab Muti.
Fadhlan dan Fadhil pun keluar dari kamar saat mendengar suara berbincang yang rasanya tidak asing bagi mereka.
Begitu melihat Muti, Fadhil langsung berkata, "Apa kabar mu Dek? Mentang-mentang sudah jadi keluarga konglomerat, lupa pulang ya. Kamu masih ingat kami 'kan Dek?"
"Iya nih, suami kamu terlalu sibuk atau dia melarang mu untuk mengunjungi kami?" tanya Fadhlan.
"Ssst," ucap Ayah hingga membuat keduanya terdiam.
Biarkan Muti istirahat dulu, besok baru kalian ajak ngobrol. Lihat! hari sudah tengah malam, kalian semua juga harus istirahat, takutnya besok kita telat bangun," ucap Ayah.
"Iya benar, kalian tidurlah! El, ajak Muti tidur, kalau butuh selimut lagi, nanti ibu cari dulu di lemari," pinta Ibu.
__ADS_1
"Muti ke kamar dulu ya Yah, Bu, Kak Fadlan dan Kak Fadhil, Muti janji besok kita akan ngobrol. Muti sekarang punya banyak waktu buat kalian," ucap Muti.
Elena menggandeng tangan Muti, dia senang Muti datang hingga dia memiliki teman tidur, tapi Elena juga sedih melihat Muti tidak seceria biasanya.
Ibu, Fadhlan dan Fadhil yang masih penasaran, menahan Ayah agar tidak masuk ke kamar dulu. Mereka bertiga ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi hingga Muti datang tanpa suaminya.
Ayah kemudian menjelaskan bahwa Muti telah sah bercerai dan mulai malam ini Muti akan tinggal bersama mereka.
Ibu dan kedua Kakak Muti terkejut, kenapa begitu tiba-tiba, padahal selama ini mereka tidak mendengar pertengkaran terjadi di rumah tangga muti.
Kemudian Ayah menjelaskan secara garis besar yang beliau ketahui. Fadhlan dan Fadhil yang mendengar penjelasan dari Ayah merasa marah karena Sultan telah memperlakukan adik mereka seperti itu. Mereka akan memberi pelajaran kepada Sultan karena telah menyakiti adiknya.
"Dasar laki-laki tidak bertanggungjawab, bisa-bisanya membawa pulang perempuan lain ke rumah adikku! Awas kamu Sultan! Jika kita ketemu, aku akan membalas sakit hati adikku!" ancam Fadhlan.
"Aku jadi ingin tahu Yah, sebenarnya secantik apa sih, wanita selingkuhannya? Apa lebih cantik dari adikku?" tanya Fadhil.
"Ayah juga tidak melihatnya, karena saat kami datang, wanita itu sedang di kurung oleh Sultan di dalam kamar," jawab ayah.
"Tapi ayah ingatkan, jangan! Ini sudah keputusan adik kalian, hormati dia. Muti saja selama ini bertahan demi perpisahan yang damai, dia tidak ingin ada permusuhan antar dua keluarga."
"Ayah salut dengan adik kalian, walaupun usianya masih muda, tapi dia mampu berpikir dewasa dan berpikir jernih, bagaimana menyikapi masalah."
"Selama ini, dia tidak pernah mengadu kesusahannya kepada kita dan hari ini muti menyelesaikan semuanya tanpa dendam. Bahkan, Hendrawan telah menyerahkan aset utama usahanya kepada adik kalian karena mereka telah menganggap Muti sebagai putrinya."
"Walaupun begitu, aku tetap tidak terima Yah, adikku diperlakukan seperti ini!" ucap Fadhlan yang memang sikapnya lebih keras dibanding Fadhil.
"Biar saja Lan, mereka pisah. Daripada Muti makan hati dan terus disakiti, nanti aku jodohkan dia dengan temanku, orangnya sangat baik dan hidupnya sudah mapan. Muti masih muda dan cantik, pasti bisa mendapatkan suami yang lebih baik dari Sultan," ucap Fadhil.
"Tidak, biarkan adik kalian tenang dan beri dia kesempatan untuk menata hidupnya sendiri tanpa campur tangan perjodohan dari kita lagi. Tugas kita sekarang, hibur dia, hingga dia bisa ceria seperti dulu lagi," ucap Ayah.
"Ayo, sekarang kalian tidurlah! Ingat, apa yang dialami Muti, jadi pelajaran bagi kalian, jangan suka menyia-nyiakan wanita," pinta Ibu.
__ADS_1
Fadhlan dan Fadhil pun mengangguk, lalu keduanya pun beranjak ke kamar begitu juga dengan Ayah dan Ibu.