MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 66. PERNYATAAN CINTA ADAM


__ADS_3

"Bagaimana Mbak?" tanya Adam.


"Baiklah Mas," jawab Muti.


"Yes, Mbak Muti bisa. Tapi, mintakan izin aku ya Mbak kepada Ayah bahwa selesai meeting, aku tidak langsung balik ke kantor melainkan pergi dengan Mbak Muti," pinta Elena.


"Iya El, nanti aku telepon Ayah, supaya mengizinkan kamu pergi denganku."


"Terimakasih Mbak sudah mau penuhi undangan ku," ucap Adam.


"Ayo, kita lihat-lihat. Pilih saja baju yang kalian suka, khusus hari ini gratis buat kalian berdua," ucap Adam sembari tersenyum.


"Kalau boleh tahu, apakah toko ini milik Mas Adam?" tanya Muti.


Adam mengangguk, lalu dia berkata sembari memegang sebuah gaun indah, "Aku rasa ini cocok buat Mbak Muti."


"Wah, selera Mas Adam oke juga ya, ternyata Mas Adam jago di fashion," ucap Elena.


Adam menanggapi perkataan Elena hanya dengan senyum, lalu dia berkata, "Sebentar ya Mbak, aku minta troli dulu."


Adam pun melambaikan tangan kepada salah seorang karyawan prianya dan memberi kode jika dia meminta dibawakan sebuah troli.


Dengan segera, karyawan tersebut pun datang membawa troli yang diminta oleh Adam.


"Terimakasih Mas," ucap Adam kepada karyawannya itu.


Kemudian Adam meletakkan baju pilihannya tadi kedalam troli, lalu dia memilihkan juga untuk Elena. Muti dan Elena merasa sungkan karena Adam meminta mereka memilih beberapa helai lagi.


Setelah puas berkeliling di bagian pakaian, Adam pun mengajak keduanya ke bagian tas serta sepatu. Di sana Adam juga memilihkan kualitas terbaik untuk Muti serta Elena.


Pelayan yang di minta Adam menyajikan minum serta cemilan menghampiri mereka. "Pak, minumannya sudah ada di ruangan Bapak dan saya sudah membooking tempat makan siang seperti yang Bapak perintahkan."


"Terimakasih ya Mbak," ucap Sultan.


Pelayan itu pun mengangguk, lalu kembali ke tempat kerjanya lagi.


Sultan mengajak Muti dan Elena ke ruangannya untuk menikmati minuman yang sudah disajikan.


Setelah berbincang sejenak, Elena pun pamit untuk menemui klien, dia berjanji akan kembali sebelum jam makan siang. Sementara Muti di ajak oleh Adam ke tempat usahanya yang lain, yang tidak jauh dari tempat itu.

__ADS_1


Sebelum pergi, Adam meminta bagian kasir untuk mengemas barang-barang yang ada dalam troli, jadi nanti tinggal memasukkan saja ke dalam mobil saat Elena tiba.


Adam meminta kedua pengawal pribadinya untuk menyiapkan mobil, lalu dia mengajak Elena ke Supermarket miliknya.


Saat memasuki, halaman plaza terbesar yang tidak jauh dari toko pakaian, Adam pun di sambut oleh manajer yang dia percaya untuk mengelola supermarket miliknya.


Muti kagum, ternyata di balik kesederhanaannya, Adam adalah seorang pengusaha sukses.


Manajer membawa Adam dan Muti berkeliling supermarket sembari menjelaskan peningkatan jumlah pemasaran di semua sektor, dari mulai bahan pangan, pakaian, barang pecah belah dan juga barang elektronik yang mereka pasarkan di sana.


Adam dengan ramah menyapa karyawan yang menghampirinya, minimal dia tersenyum jika berpapasan dengan mereka.


"Aku tidak menduga, Mas Adam ternyata seorang pengusaha sukses," ucap Muti.


"Belum sukses Mbak, masih jauh. Apalagi dalam urusan menuju jannah, aku masih dibilang gagal."


"Maksud Mas Adam?" tanya Muti.


"Belum ada yang mau menjadi pendampingku Mbak!" ucap Adam sembari menatap Muti.


Muti tertunduk lalu dia berkata, "Barangkali Mas Adam nya yang terlalu pilih-pilih, mencari wanita sempurna. Susah kalau begitu Mas!"


Pak, silahkan mengobrol di sana. Pihak resto telah menyajikan minuman untuk Bapak dan Ibu, pemandangan kota akan lebih indah terlihat dari sana Pak," ucap manajer.


Adam segera mengajak Muti ke tempat yang di maksud oleh sang manajer. Ternyata benar, dari sana mereka bisa melihat keindahan kota dari ketinggian.


Saat Muti dan Adam asyik berbincang, telepon Muti pun berdering. Muti melihat Sultan sedang memanggil.


Muti masih marah dengan Sultan, lalu dia merijek panggilan dan mengecilkan volume serta menyimpan kembali ponselnya kedalam tas.


"Kenapa tidak di angkat Mbak?" tanya Adam.


"Biarlah Mas, lagipula tidak penting," jawab Muti.


"Mbak Muti mau minum apa?" tanya Adam.


"Jus jeruk saja Mas."


"Pelayan!" panggil Adam.

__ADS_1


"Iya, mau pesan apa Pak?"


"Jus jeruk 2 gelas dan tempe mendoan seporsi ya Mas."


"Oke Pak, ada tambahan lain Pak?"


"Sementara itu saja Mas," jawab Adam.


Pelayan pun pergi untuk menyiapkan pesanan, lalu Adam berdiri dan berjalan menuju pagar pembatas, memandang kejauhan sembari berkata, "Seandainya kita bertemu jauh sebelum saat ini Mbak!"


"Apa Mas!"


Adam tidak langsung menjawab, dia menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan dan berkata lagi, "Mungkin, aku duluan yang akan melamar Mbak Muti!" ucap Adam sembari menatap Mutiara.


Muti sangat terkejut dengan perkataan Adam, saat ini mereka saling tatap. Muti tidak pernah menyangka, jika Adam akan berani mengatakan hal itu.


Muti tidak mengomentari perkataan Adam, dia tidak kuasa berlama menatap wajah teduh di hadapannya itu.


Di dalam hati, Muti juga berandai, jika memang mereka bertemu sebelum perjodohannya dengan Sultan, mungkin hidupnya penuh dengan kebahagiaan, tidak seperti sekarang, merasakan sakit karena perselingkuhan.


Melihat Muti diam dan tertunduk, Adam kembali menatap kejauhan, lalu dia berkata lagi, "Maaf Mbak, aku harus jujur, walau mungkin rasa ini tidak akan pernah berbalas," ucap Adam.


Kemudian, Adam berkata lagi, "Cinta memang aneh, aku tidak pernah menduga jika perasaan cintaku akan jatuh kepada wanita yang telah menjadi milik pria lain. Tapi, aku tidak menyesal, aku tetap bersyukur, cinta ini tidak jatuh lagi ke wanita yang salah."


"Seandainya, aku diberi kesempatan untuk memilih, antara menukar semua kekayaan ku dengan cinta Mbak Muti, aku pasti akan memilih mencintai Mbak, sampai aku mati."


Muti meneteskan air mata, dia tidak pernah membayangkan, seseorang akan mencintainya sebesar itu.


Kemudian Adam melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya, Aku sudah mengetahui semuanya Mbak, tapi aku tahu batasanku hingga tidak mungkin mencampuri urusan rumah tangga orang lain."


"Tersakitinya hati Mbak Muti, membuat aku sakit, tapi aku tidak bisa berbuat apapun selama Mbak masih ingin bertahan dalam lingkaran perselingkuhan tersebut."


Muti menangis mendengar perkataan Adam yang terakhir, ternyata pria di hadapannya ini tahu semua tentang kebobrokan rumah tangga yang selama ini dia jaga.


Muti sekuat mungkin bungkam, menutup aib suaminya dari siapapun termasuk orangtuanya.


Adam merasa bersalah sekaligus ikut sedih saat melihat Mutiara menangis. Dia ingin menarik Muti ke dalam pelukannya dan tidak akan membiarkan, pria yang tidak bertanggungjawab itu menyakiti belahan hatinya lagi. Namun, saat ini Adam tidak berdaya, ikatan pernikahan Mutiara masih menjadi penghalang diantara mereka.


Adam menghela nafas sembari mengulurkan saputangannya ke arah Mutiara. Kemudian dia berkata, "Maaf Mbak, jika aku terlalu lancang telah menyewa detektif untuk menyelidiki Sultan."

__ADS_1


__ADS_2