
"Aduh," ucap Muti sambil meringis memegangi perutnya, hingga membuat Sultan terkejut dan menatapnya.
"Kamu kenapa?" tanya Sultan.
"Perutku sakit sekali Kak!" ucap Muti sambil terus meremas perutnya.
"Jangan cuma alasan kamu ya, supaya berhenti menngusuk ku!" ucap Sultan.
Muti tidak mau menanggapi ucapan Sultan, dia meneruskan pekerjaannya dan bagian tangan pun sudah selesai.
Sambil menahan sakit Muti berkata, "Berbalik Kak, Aku mau mengusuk punggung Kakak."
Sultan pun berbalik, lalu Muti membalurkan minyak kusuk ke punggungnya. Ketika Mutia mulai memijat, perutnya kembali seperti di remas-remas. Mutiara mengerang kesakitan dan kini wajahnya terlihat sangat pucat.
Sultan yang merasakan tangan Mutia berhenti memijat punggungnya, pun berkata, "Kenapa kamu berhenti, ayo lanjutkan, biar cepat selesai dan kita bisa istirahat."
"Maaf Kak," ucap Muti sambil berlari ke toilet.
Di dalam toilet, muti meringkuk di lantai, dia meremas kuat perutnya dan menangis. Di saat seperti inilah, dia ingat akan perhatian orangtuanya. Orangtua pasti cemas melihat anaknya yang sedang sakit.
"Ibu, tolong Muti, perut Muti sakit," ucap Muti diseka tangisnya.
Mutia sangat sedih, kenapa di saat dirinya sakit, Sultan tidak memberikan perhatiannya sedikitpun, walau hanya sekedar bertanya, kenapa dia bisa mengalami sakit perut.
"Aku tidak bisa di sini terus, aku harus membeli obat," monolog Muti.
Dengan membungkuk dan kepayahan, Muti keluar dari toilet, lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi pihak hotel karena dia ingin minta tolong di belikan obat sakit perut.
"Hallo, ini saya dari kamar nomor 105 B, tolong belikan saya obat sakit perut dan tolong antar secepatnya ke kamar saya ya Bu!" ucap Mutia dengan suara gemetar.
Mendengar percakapan Mutia di telepon, barulah Sultan bertanya, "Kamu sakit betulan? memangnya kamu siang tadi makan apa, kok bisa sampai sakit perut?" tanya Sultan.
"Lupa makan Kak," jawab Mutia.
"Hah! Menjaga diri sendiri saja tidak becus, gitu kamu mau saja di suruh menikah!" ucap Sultan ketus.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu tunggu di sini! Biar aku belikan obat," ucap Sultan.
"Nggak usah Kak, pihak hotel akan segera mengantarnya," ucap Mutia sembari merebahkan diri di sofa dan menyelimuti tubuhnya.
"Oh, kalau begitu sebentar, biar aku ambilkan minum hangatnya dulu," ucap Sultan sembari beranjak menuju ke meja tempat pelayan biasanya meletakkan makanan dan termos air panas di sana.
Sultan mengambil gelas dan hendak menuang air panas dari dalam termos, tapi pandangannya tertuju pada makanan di atas meja.
"Huh! pantas saja dia sakit perut, makanan ini juga tidak di sentuh, berarti dia belum makan!" monolog Sultan.
Kemudian Sultan mengambil piring, menuangkan nasi, lauk, serta sayur kedalam piring tersebut, baru menuang air hangat ke dalam gelas. Dia bermaksud memberikannya kepada Mutiara. Ini sebagai balas jasa karena Mutia tadi telah memijatnya.
"Kamu sudah bosan hidup ya!" ucap Sultan sambil mengacungkan piring berisi makanan ke hadapan Mutia.
Kemudian dia berkata lagi, "Kenapa kamu tidak makan?" tanya Sultan.
Muti pun menjawab, "Kamu tadi belum pulang, bagaimana aku mau makan. Keluarga ku mengajarkan, akan lebih berkah makan bareng suami," ucap Mutia.
"Kamu bodoh! seharusnya kamu bisa berpikir. Tadi saja aku pulang sudah lewat pukul 21.00 WIB, sudah pasti aku makan di luar. Kalau kamu mau mati, jangan di sini, nanti aku yang bakal kena sasaran. Siang tidak makan dan malam pun kamu tunda makan. Sekarang kamu harus makan, baru minum obat. Aku lelah mau istirahat, ini minummu! Oh ya, jangan lupa kunci pintunya setelah pengantar obat datang," ucap Sultan.
Kemudian Sultan merebahkan dirinya ditempat tidur dan hanya beberapa menit saja, dia sudah terlelap. Sultan sangat lelah, seharian berjalan, mengelilingi pertokoan, mengikuti Clara shopping oleh-oleh dan juga menenteng barang belanjaan Clara.
Muti melihat Sultan sudah tidur, dia tidak ingin mengganggunya, lalu Muti mengambil ponsel dan membawanya ke toilet. Dia ingin menelepon pihak hotel, kenapa obatnya belum juga diantar.
Telepon muti tersambung tapi jawaban dari pihak hotel bahwa stok obat sakit perut yang mereka miliki sedang habis, sementara pelayan yang mereka minta untuk membeli di luar, belum juga kembali.
Pihak hotel meminta maaf kepada Muti atas ketidaknyamanan, pelayanan mereka. Mereka akan mengantarkan obat itu secepatnya setelah pelayan yang pergi membeli itu kembali.
Mutia memutuskan untuk menunggu. Sambil duduk, Muti menjepit perutnya dengan bantal, berharap bisa menekan rasa sakitnya.
Karena sudah menunggu lebih dari 30 menit, pelayan tersebut tidak juga datang, Muti pun memutuskan untuk keluar kamar, dia harus minta bantuan seseorang agar mengantarnya ke rumah sakit, minimal klinik terdekat.
Muti berjalan terseok-seok, keluar dari kamar, lalu dia menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Kalau tidak ada juga orang yang bisa menolong, rencananya muti akan meminta bantuan Elena.
Sebenarnya Muti merasa kasihan jika harus mengganggu Elena malam-malam, karena dia juga pasti lelah telah menemani Muti siang tadi bermain di pantai.
__ADS_1
Saat Muti tiba di lobi hotel dia hampir saja terjatuh karena perutnya kembali seperti di remas-remas. Untung saja Muti sempat berpegangan pada kursi.
Adam yang kebetulan baru saja pulang dari pertemuan bersama temannya dan masuk ke lobi hotel melihat Muti sempoyongan, segera berlari menghampirinya.
"Ada apa Mbak? Mbak sakit? Aku tadi sempat lihat Mbak Muti hampir terjatuh. Ayo Mbak silahkan duduk dulu di sini," ucap Adam khawatir sambil mendekatkan kursi ke Muti.
"Terimakasih Mas Adam, aku sedang menunggu pelayan mengantar obat sakit perut, tapi tidak datang juga. Makanya aku putuskan untuk keluar kamar, ingin bertanya langsung ke bagian pelayanan. Jika memang tidak ada, aku akan cari bantuan seseorang atau ojek online untuk mengantarku ke dokter," ucap Mutiara sembari meringis kesakitan.
"Ayo Mbak, biar aku yang antar Mbak Muti ke dokter. Jangan sepele dengan sakit perut, karena sumber dari semua penyakit asalnya dari perut Mbak," ucap Adam.
"Apakah Mas Adam tidak mengantuk? Soalnya ini sudah tengah malam dan yang jelas, jamnya orang untuk tidur. Sebaiknya aku tanya ke bagian pelayanan dulu ya Mas, barangkali pelayan mereka mendapatkan obatnya," ucap Mutiara.
"Baiklah Mbak! begini saja, biar aku yang menanyakan kepada mereka, Mbak tunggu saja di sini ya!" ucap Adam.
"Terimakasih atas bantuannya ya Mas," ucap Muti.
Adam menuju ke meja bagian pelayanan, lalu dia menanyakan obat yang telah di pesan oleh Mutiara. Tapi bagian pelayanan mengatakan bahwa pelayan mereka sudah kembali tapi tidak mendapatkan obatnya.
Akhirnya Adam kembali mendekati Mutia dan mengatakan bahwa obat tersebut tidak ada.
Muti kecewa, lalu dia bertanya, "Tawaran Mas Adam, apakah masih berlaku?"
"Oh tentu. Ayo Mbak, biar aku papah, Mbak terlihat sangat kesakitan, takutnya belum sampai mobil, Mbak sudah jatuh pingsan," ucap Adam sambil mengulurkan tangannya.
Merekapun pergi mencari rumah sakit dan Adam yang iba melihat Devani kesakitan pun bertanya, "Sakit sekali ya Mbak? Memangnya Mbak makan apa tadi, hingga sakit perut?" tanya Adam.
"Sedari siang nggak makan Mas!" jawab Mutia.
"Masya Allah, pantaslah Mbak," ucap Adam.
Yang menjadi pertanyaan bagi Adam adalah, kemanakah suami Mutia saat ini, kenapa istrinya sakit pada jam tengah malam seperti ini, malah tega membiarkannya pergi sendirian mencari obat. Tapi Adam belum berani menanyakannya kepada Mutiara.
Bersambung.....
Advertisement
__ADS_1
Mampir yuk sobat ke karya sahabatku sambil menunggu aku Up lagi besok ya🙏