MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 48. DISANGKA MALING


__ADS_3

Mutiara terbangun, dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Karena dia merasa haus, Muti pun bergegas keluar kamar, menuruni anak tangga untuk mengambil air minum di dapur. Tapi, langkah Muti terhenti saat mendengar ada suara kursi bergeser.


Muti mengendap untuk mencari tahu apa mungkin maling masuk ke dalam rumahnya. Muti mengambil hiasan dinding dari ukiran kayu, dia berniat memukul maling tersebut.


Lampu ke arah dapur tidak menyala, hanya lampu kecil di dalam dapur saja yang saat ini menyala. Dengan cepat Muti bergerak dan dia samar-samar melihat seseorang sedang mencari sesuatu di lemari gantung yang ada di dapur.


Tangan Muti saat ini gemetar, karena takut dan tanpa pikir panjang lagi, dia memukulkan hiasan dinding tersebut ke punggung Sultan yang dia sangka pencuri.


Sultan terhuyung dan hampir saja terjatuh jika dia tidak cepat berpegangan pada kursi makan yang ada di dekatnya. Sultan berbalik dan Muti sudah mengangkat hiasan dinding, siap untuk memukulnya lagi.


Sultan menangkap tangan Muti, menggenggamnya dengan erat dan menarik kayu hiasan dinding itu hingga terjatuh. Kemudian sultan berkata, "Sudah gila, kamu ya! Lihat baik-baik, ini aku! Kenapa kamu memukulku!" teriak Sultan.


Muti terkejut mendengar suara orang yang dia kira maling, lalu dia membulatkan mata, mempokuskan pandangannya ke wajah Sultan.


Dengan perasaan bersalah, Muti pun menunduk lalu berkata, "Maaf Kak! Aku kira tadi maling, habisnya aku tidak mendengar suara mobil Kakak sampai."


"Bagaimana kamu mau mendengar, aku pulang saja kamu sudah tidur lelap, padahal hari belum terlalu malam," ucap Sultan.


"Oh ya Kak, maaf. Aku kira Kakak tidak pulang," ucap Muti merasa bersalah.


"Sekarang kamu harus bertanggung jawab, punggungku sakit, gara-gara pukulanmu. Untung saja pukulanmu bukan seperti tenaga laki-laki, jika iya pasti tulang punggung ku sudah cidera."


"Maaf Kak, sebentar aku lihat, apa punggung Kakak lecet atau tidak," ucap Muti.


Muti pun menaikkan kemeja Sultan dan benar dia melihat di sana terdapat bekas pukulannya dan kulitnya memerah, pasti meninggalkan memar.


"Kak, di rumah ini ada obat? punggung Kakak memar dan terdapat bekas pukulanku. Sekali lagi, maafkan aku Kak."


Sultan berdehem, lalu berkata, "Ada, carilah di laci nakas kamarku, ada beberapa jenis obat di sana," ucap Sultan.


"Baik Kak, sebentar aku ambil! Oh ya, tadi Kak Sultan mencari apa di lemari?" tanya Muti berbalik sebelum sampai di pintu dapur.


"Aku lapar dan melihat di lemari barangkali ada stok mie instan atau apapun yang bisa di makan," jawab Sultan.


"Tadi sore aku masak Kak, apa kakak mau aku hangatkan makanan?" tanya Mutia.

__ADS_1


Walaupun Sultan selalu cuek terhadapnya, Muti merasa iba melihat Sultan kelaparan.


Sultan pun mengangguk, lalu berkata, "Jika tidak merepotkan."


"Baiklah, aku akan panaskan dulu makanan, baru pergi mengambil obat."


Kemudian Muti dengan cekatan mengeluarkan makanan dari kulkas, lalu memanaskannya. Setelah selesai Muti menyiapkan kepiring dan mengambilkan nasi untuk Sultan.


"Makanlah Kak! Aku akan pergi ke kamar untuk mengambil obat," ucap Mutiara.


"Terimakasih," jawab Sultan.


Sultan memakan makanan yang di hangatkan Muti, sementara Muti bergegas ke lantai atas, masuk ke kamar Sultan untuk mencari obat yang Sultan masuk.


Muti menggeledah laci nakas satu persatu dan benar dia menemuka obat oles untuk luka memar.


Oparin Gel adalah gel yang berfungsi untuk mengobati memar atau lebam. Penggunaan Oparin Gel dapat mempercepat proses pemulihan lebam atau memar, dan dapat mengurangi gejala yang terjadi seperti bengkak, kebiruan, dan nyeri. Tidak boleh digunakan pada luka terbuka.


Setelah menemukannya, Muti melihat ponsel Sultan yang ada di atas tempat tidur berkedip mengeluarkan cahaya tapi tidak berdering.


Muti bertekad akan memperjuangkan rumah tangganya, maka dia memberanikan diri mengangkat telepon tersebut tanpa bersuara. Muti pun mendengarkan semua yang diucapkan oleh Clara.


Clara yang tidak tahu jika bukan Sultan yang mengangkat panggilan, berbicara semanis mungkin, dia berucap dengan manja dan mempertanyakan kenapa tadi, Sultan begitu cuek dan langsung pulang, sementara mereka belum bercumbu. Dan Clara meminta Sultan untuk datang besok ke apartemennya. Jika sampai Sultan tidak datang, dia akan mendatangi Sultan ke kantor.


Muti mengelus dada, hatinya sangat sakit mendengar ocehan Clara, tapi Muti sedikit lega, karena malam ini Sultan tidak melakukan hubungan terlarang dan akhirnya dia tahu, ternyata Sultan tidak berbohong. Sultan benar pulang lebih cepat dari yang Muti duga.


Dalam batinnya Muti berkata, "Terimakasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doaku."


Clara yang tidak mendengar Sultan menanggapi omongannya merasa curiga, lalu dia menutup panggilan tersebut.


Muti yang melihat ponsel Sultan kembali ke mode gelap, segera membukanya lagi, lalu Muti mengambil ponsel dari dalam kantong baju tidurnya dan buru-buru menyimpan nomor Clara ke dalam ponselnya.


Setelah itu, Muti bergegas keluar dari kamar, dia tidak peduli jika nanti Sultan tahu dirinya telah mengangkat panggilan dari sang pelakor atau Clara mengadu. Karena yang Muti lakukan demi mempertahankan rumah tangganya.


Sembari menuruni anak tangga, Muti mengomel, "Huh, dasar pelakor! nggak tahu waktu, dinihari masih saja menggoda suami orang," monolog Muti.

__ADS_1


Sesampainya di dapur, Muti melihat Sultan hampir menghabiskan makanannya, lalu diapun mendekat dan menuangkan air minum untuk Sultan.


Sultan memperhatikan Muti, yang dengan telaten melayaninya. Dalam hati Sultan, sempat terbersit, andai Muti hadir sebelum Clara mungkin hatinya akan terpaut dengannya.


Muti yang merasa Sultan memperhatikannya sedikit grogi, lalu tanpa sengaja pandangan mereka pun bertemu.


Sultan buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah tangan Muti yang memegang gel untuk mengobati memar pada punggungnya.


"Jika sudah selesai, biar aku obati punggungnya Kak!" ucap Muti.


"Ya," jawab Sultan.


Sultan telah menyelesaikan makannya, lalu dia membuka kemejanya, memunggungi Muti agar bisa membalurkan gel tersebut pada luka memarnya.


Muti dengan telaten membalurkan obat tersebut, tangan Muti yang lembut menyentuh kulit Sultan, membuat jantung Sultan berdesir. Dia pun bingung, entah kenapa, belakangan ini bisa bersikap lebih melunak terhadap Muti.


"Sudah siap Kak!"


Ucapan Muti membuyarkan lamunan Sultan. Kemudian Sultan pun berkata, "Terimakasih. Pergilah tidur! Kamu pasti masih mengantuk."


"Iya Kak, tapi jika besok belum berangsur sembuh, sebaiknya kita ke dokter," ucap Muti lagi.


Kemudian Muti berkata lagi, "Soalnya aku pernah jumpai beberapa kasus, memar bisa saja tidak berubah warna atau tidak kunjung sembuh. Memar yang terasa keras saat disentuh, semakin membesar, dan semakin menyakitkan dapat menandakan ada gangguan pembekuan darah, seperti kelainan trombosit atau pembentukan hematoma."


"Apa itu hematoma?" tanya Sultan.


"Hematoma adalah benjolan yang terbentuk ketika darah mulai berkumpul di bawah kulit atau otot.


Bukannya mengalami proses penguraian dan penyembuhan, malah darah pada hematoma justru menggumpal di dalam tubuh," jawab Mutiara.


Kemudian dia berkata lagi, "Hematoma hanya bisa dikeluarkan dengan penanganan medis, jadi kita harus periksakan ke dokter jika memar tidak kunjung sembuh."


"Oke, baiklah kita lihat perkembangannya besok. Sekarang kembalilah ke kamarmu dan aku juga akan ke kamarku," ucap Sultan.


Keduanya kembali ke kamar masing-masing dan malam ini berakhir dengan damai. Tidak ada sikap ketus dan kasar dari Sultan kepada Mutiara seperti yang biasa Sultan lakukan.

__ADS_1


__ADS_2