MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 106. CEMBURU YANG TERLAMBAT


__ADS_3

Sultan bergegas menuju ke bekas ruangannya dan dia terkejut saat melihat Muti ada di sana.


Muti duduk di kursi kerja yang biasa Sultan pakai dan dia sedang sibuk dengan laptopnya hingga tidak memperhatikan jika Sultan ada di depan pintu.


Sultan memandangi mantan istrinya itu, kenapa sekarang dia baru sadar, jika Muti sangat cantik dan elegan dengan balutan jas kerjanya itu.


Sultan mendesah, lalu dia meraup wajahnya dengan kasar dan berdehem untuk mengundang perhatian Muti.


Mendengar suara deheman yang tidak asing ditelinganya, Muti mendongak dan dia melihat Sultan tengah berdiri di hadapannya.


"Kak, kenapa tidak langsung masuk? Maaf ya, aku tanpa izin menggunakan ruangan ini, karena ruanganku sedang di renovasi," ucap Muti sembari bangkit dari duduknya.


"Hemm, nggak perlu izin. Ruangan ini juga sudah menjadi milikmu. Aku hanya ingin mengambil barang-barang ku saja," jawab Sultan.


"Oh, silahkan Kak. Semua masih ada di tempatnya, aku tidak mengusiknya sedikitpun," ucap Muti.


Sultan pun menelepon Security agar membawakannya kardus yang besar. Sambil menunggu, Sultan mulai mengambil barang-barangnya dan meletakkan di atas sofa.


Muti yang melihat Sultan repot, menawarkan diri untuk membantunya, tapi Sultan menolak. Akhirnya Muti kembali fokus dengan pekerjaannya, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Sultan.


Sebenarnya, Muti tidak tega melihat Sultan keluar dari kantor itu. Tapi, cuma itu jalan satu-satunya agar Sultan bisa terbebas dari Clara.


Walaupun Muti saat ini bukan istri Sultan lagi, tapi dia tidak bisa mengabaikan jika kehidupan Sultan hancur di tangan Clara.


Semua barang sudah Sultan pindahkan ke sofa, hanya tinggal yang diatas meja, tapi dia ragu untuk mengambilnya karena terlalu dekat dengan posisi Muti.


Muti yang melihat Sultan hanya berdiri mematung di hadapannya, baru menyadari jika barang-barang Sultan masih ada di mejanya.


"Silahkan Kak!" ucap Muti, lalu dia berdiri dan menjauh agar Sultan bisa membereskan barang-barang miliknya.


Saat Sultan mengambil buku agenda kerjanya, telepon Muti yang berada di atas meja pun berdering. Sultan melihat nama Adam yang tertera di layar sedang melakukan panggilan.


Hati Sultan terusik, dia merasa tidak rela, jika Adam mendekati Muti. Saat ini dia hanya berharap, Muti tidak menjawab panggilan tersebut.


Muti mengambil ponselnya, tapi panggilan dari Adam sudah berakhir.

__ADS_1


Jadi, Muti segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jas kerja yang dia pakai. Dia merasa tidak enak untuk melakukan panggilan balik saat Sultan ada di sana.


Namun, kembali ponselnya berdering dan ternyata masih dari Adam.


Muti yakin, panggilan itu penting dan pastinya tentang pekerjaan. Karena, Adam tidak akan menelepon berkali-kali di saat jam kerja kalau hanya untuk urusan pribadi dan hal yang tidak penting.


Adam menatap ke arah Muti, dia masih berharap Muti tidak akan mengangkat panggilan tersebut, jika memang panggilan itu masih juga dari Adam.


Muti juga menatap Sultan, lalu untuk menghargai perasaan Sultan, Muti pun memilih keluar ruangan.


Di sana dia menerima panggilan dari Adam.


"Hallo Mas, maaf ya, tadi sedang repot, jadi tidak terangkat panggilan dari Mas Adam. Ada apa ya Mas?" tanya Muti.


"Ada kerjasama dengan pihak luar Mut, jika perusahaan kamu mau ikut andil, aku tunggu kamu di kantorku. Pukul 7 malam ini, wakil dari perusahaan mereka akan datang ke kantorku dan kita akan membicarakan sistem kerjasamanya."


"Serius Mas! Mas Adam hebat. Aku mau mas! Aku masih harus banyak belajar dari Mas Adam untuk pangsa pasar ke luar negeri. Mudah-mudahan, ini jalan untukku, membuka peluang untuk mengembangkan perdagangan keluar negeri."


"Aku serius Mut, jangan telat ya. Atau aku jemput saja kamu jam 6 sore nanti," ucap Adam.


"Baiklah, aku tunggu ya! Kamu harus hati-hati di jalan. Aku tidak mau terjadi hal buruk terhadap mu karena hanya ingin terburu-buru mengejar bisnis," ucap Adam yang memberi perhatian kecil kepada Mutiara.


Sultan yang menguping dibalik pintu merasa cemburu. Dia tidak suka jika Muti bekerjasama dengan Adam, yang merupakan pesaing bisnisnya.


Saat Muti sudah selesai dengan panggilan Adam, diapun kembali ke dalam ruangan.


Sultan pura-pura memandang lukisan yang ada di dinding agar Muti tidak curiga.


Muti yang melihat hal itupun berkata, "Jika Kak Sultan mau membawa lukisan itu, silahkan bawa saja Kak!"


"Merepotkan, memang sih itu lukisan kesayanganku," ucap Sultan mencari alasan.


"Kalau begitu, besok biar sopirku saja yang mengantar lukisan itu ke kantor Kakak."


"Terserah, jika tidak merepotkan kalian!" jawab Sultan.

__ADS_1


"Oh ya, memangnya Adam ngapain menghubungimu? Telepon tadi pasti dari dia juga kan?" tanya Sultan yang merasa penasaran.


"Iya. Malam ini, ada kerjasama yang harus kami bahas."


"Tidak boleh bekerjasama dengan dia. Adam itu, pesaing bisnis perusahaan ini!" ucap Sultan spontan.


"Muti menatap Sultan, lalu dia berkata, "Maaf Kak! Kali ini aku membantah Kakak. Kita bukan siapa-siapa lagi dan kantor ini di bawah tanggungjawab ku. Jadi, aku berhak untuk menentukan keputusan ku sendiri."


Sultan seperti menelan pil pahit, dia lupa jika dirinya tidak memiliki hak lagi atas diri Muti dan juga perusahaan ini.


Wajah Sultan memerah karena malu, tapi dengan menarik nafas dia berusaha menormalkan perasaannya kembali.


"Aku sadar tidak punya hak lagi di sini, tapi aku hanya ingin mengingatkan mu. Aku lebih lama mengenal Adam dan menjalankan bisnis, apa salahnya jika aku mengingatkan dan melindungi orang yang pernah menjadi tanggungjawab ku," ucap Sultan mencoba beralasan.


"Terimakasih Kak! Tapi aku bisa menjaga diri dan perusahaan ini. Aku yakin Mas Adam bukan orang jahat seperti pemikiran Kakak selama ini," ucap Muti.


"Terserah, yang penting aku telah mengingatkanmu!" ucap Sultan.


Kemudian Sultan meneruskan pekerjaannya karena scurity telah datang membawakan kardus untuknya.


Rasa kecewa menyelusup di hati Sultan, saat Muti tadi menentang dirinya. Tapi, Muti memang benar dia tidak punya hak lagi atas diri Muti dan juga perusahaan.


Muti membereskan pekerjaannya, lalu dia menghampiri Sultan dan berkata, "Aku duluan Kak, Elena sebentar lagi datang menjemputku, kami mau mencari rumah kontrakan untuk sementara, sampai aku bisa membeli rumah sendiri," pamit Muti.


"Kenapa harus ngontrak, tinggallah di rumah, biar aku tinggal di apartemen. Kasihan bunga-bunga kamu, tidak ada yang merawat. Lagipula, kontrakkan baru belum tentu aman untuk mu," ucap Sultan.


"Jika aku tinggal di sana, bagaimana dengan Clara? Bukankah dia akan lebih nyaman tinggal di rumah itu daripada di apartemen Kak?" tanya Muti.


"Dia harus bisa prihatin, lagipula akan menambah pengeluaran, jika aku harus merawat dua rumah sekaligus," jawab Sultan.


Melihat Muti terdiam, lalu Sultan berkata lagi, "Kamu paham maksudku bukan? toh rumah itu juga milikmu."


"Baiklah jika begitu Kak. Jadi kapan aku bisa menempatinya?" tanya Muti.


"Beri aku waktu dua hari untuk membereskan barang-barang. Nanti, saat sudah selesai, sekretaris ku akan mengantarkan kunci rumah itu ke sini," ucap Sultan.

__ADS_1


Muti pun setuju, lalu dia berterima kasih kepada Sultan. Setidaknya Sultan masih memikirkan kenyamanan untuknya.


__ADS_2