
Mutiara, Sultan dan Elena masih belum tidur, mereka menikmati malam terakhir di Bali dengan bersantai, menikmati hidangan makan malam sambil menyaksikan pemandangan alam di resort itu saat malam hari.
Berbagai hiburan di sajikan oleh pihak resort sesuai permintaan Sultan. Dan seorang pemandu yang asli penduduk setempat sengaja di undang oleh pihak resort untuk menjelaskan tentang berbagai budaya tarian Bali.
Bali memang memiliki puluhan nama tarian, seperti tari cendrawasih, tari belibis, tari margapati, tari topeng, tari pendet, joged, dan sebagainya.
Namun, dari sekian banyak tarian tradisional Bali tersebut, secara garis besar dikelompokkan : Tari Wali (Sakral), dan Tari Balihan (hiburan).
Tari Wali (Sakral)
Tari Sakral Bali ini juga dikenal dengan nama tari wali atau tari sanghyang. Tarian ini hanya boleh dipentaskan tatkala ada sebuah upacara yadnya (ritual keagamaan) yang sedang berlangsung. Jenis tarian ini ditujukan untuk melengkapi rangkaian suatu upacara keagamaan.
Ada juga yang menganggap bahwa tarian ini dipentaskan untuk menghibur para leluhur atau para dewa-dewi kahyangan yang sedang turun ke bumi (mercapada). Tarian sakral biasanya dipentaskan di dalam area pura (jeroan) dengan menggunakan berbagai perlengkapan dan pakaian tertentu.
Tarian Balihan (Hiburan)
Tari ini merupakan jenis tarian hiburan, berfungsi sebagai hiburan masyarakat. Tarian ini umumnya dipentaskan di panggung atau gedung (wantilan) atau di area terluar pura (jaba).
Tarian Balihan terus mengalami dinamika seiring kreatifitas seniman – seniman tari (pragina) pulau Bali. Beberapa jenis tari hiburan ini antara lain: arja, joged, drama gong, tari kecak, janger, calon arang, tari cendrawasih, tari puspa anjali, tari manuk rawa, sendratari, seni tradisional modern dan sebagainya.
Malam ini mereka sengaja menghibur Sultan dan Muti dengan menyuguhkan beberapa jenis tari Balihan.
Di sini Muti sejenak lupa dengan permasalahan rumah tangganya. Dia bisa tertawa lepas dan bercanda dengan Sultan.
Setelah selesai pertunjukan, Muti, Sultan dan Elena memutuskan untuk beristirahat. Mereka masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
__ADS_1
Pihak hotel telah menyediakan baju ganti buat mereka sesuai pesanan Sultan dan Muti.
Muti dan Sultan sudah selesai mengganti pakaiannya, tapi Muti celingukan karena di sana tidak ada sofa, yang ada hanya sebuah tempat tidur. Akhirnya Muti memutuskan untuk tidur di lantai.
Dia menarik selimut dan mengambil bantal, lalu mulai membaringkan tubuhnya di lantai sudut ruangan dengan beralaskan selimut.
Sultan yang melihat hal itupun mendekati Muti dan berkata, "Tidurlah di atas Mut, nanti kamu sakit, lantai di sini sangat dingin."
"Bukankah selama ini, Kak Sultan yang selalu menginginkan kita untuk selalu tidur terpisah? Kenapa sekarang malah melarang ku tidur di sini?" tanya Muti.
"Iya, kamu memang benar, tapi aku tidak mau jika kamu sakit, apa kata orangtua kita nanti, sementara besok adalah jadwal kita pulang. Melihat kamu makin kurus seperti ini saja, aku pasti kena tegur, apalagi jika kamu sakit. Apa kamu senang bisa mempermalukan aku di depan keluarga kita, khususnya keluargamu," ucap Sultan.
Melihat Sultan beritikad baik, Muti pun bangkit, lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur, tapi dia memberi batas dengan guling, lalu menimpakan selimut di atas guling tersebut. Kemudian Muti pun tidur dengan membelakangi Sultan.
Sejak Muti tahu bahwa Sultan memiliki wanita lain, dia tidak ingin Sultan menyentuhnya sebelum ada kejelasan, apa sebenarnya posisi wanita itu di dalam hidup Sultan.
Jika wanita itu hanya berposisi sebagai wanita simpanan, berarti dia pelacur dan mereka berzinah, Muti tidak ingin ketularan penyakit kelamin.
Tapi Muti akan ajukan syarat, Sultan harus adil dalam memperlakukan mereka berdua.
"Mut, kamu sudah tidur?" tanya Sultan.
Muti tidak menjawab, dia hanya berdehem saja, dia tidak akan memulai bertanya, siapa sebenarnya wanita yang bersama Sultan, tapi dia akan menunggu kejujuran itu keluar dari mulut Sultan sendiri.
Demi keluarga Muti akan mencoba bertahan menjalani rumah tangga yang tidak tahu ujungnya akan seperti apa. Sabar, itulah yang harus Muti lakukan untuk saat ini.
Sabar adalah perbuatan yang amat sulit dan membutuhkan perjuangan keras. Tidak ada yang kuat memikul beban, melainkan orang yang betul-betul mengenal Allah SWT.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar: 10)
Syekh Assa’di juga menjelaskan, “Sabar mencakup seluruh macam kesabaran, yaitu sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan sehingga ia tidak mengeluh, sabar dalam menahan diri dari maksiat sehingga ia tidak melakukan perbuatan maksiat, dan sabar dalam taat kepada Allah sehingga ia menjalankan kewajibannya”. (Tafsir as-Sa;di : 720)
__ADS_1
Istri yang sabar dalam menghadapi suami yang menyakitinya, sebenarnya memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah ladang ibadah.
Allah berfirman:
“Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk ayat: 2)
Sebenarnya Muti tahu, bahwa saat ini dia juga bersalah telah menghindari tempat tidur suaminya.
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila seorang wanita menghindari tempat tidur suaminya pada malam hari, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari”. Dalam suatu riwayat yang lain disebutkan : “Sehingga dia kembali”
Ini merupakan wasiat yang sangat berharga dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberikan kepada para wanita Muslimah.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar tidak menjauhi tempat tidur suami tanpa ada udzur menurut ukuran syari’at, seperti sakit yang keras.
Bahkan haid bukan merupakan udzur untuk menjauhi tempat tidur suami. Sebab suami memiliki hak untuk mencumbui istrinya selain yang ditutupi kain bawah.
Wanita Mukminah yang benar, harus bisa melupakan perselisihan dan kembali patuh kepada suaminya karena mengharap pahala dari Rabb-nya.
Hukum inilah yang membuat Muti dilema ya sobat, menjauh dia kena laknat dan mendekat hatinya belum bisa terima atas pengkhianatan sang suami. Di khianati sebelum dirinya benar-benar bisa mengabdi sebagai istri.
Melihat Muti tidak bereaksi lagi atas panggilannya, Sultan pun menatap langit-langit kamar sambil merenung, apakah dia harus menceraikan Muti dan menikahi Clara sebagai istri satu-satunya atau tetap bertahan demi membahagiakan orangtua dan menikah siri dengan Clara.
Kebersamaan mereka selama dua minggu membuat Sultan sedikit demi sedikit mulai berpandangan lain terhadap Muti, Dia mengakui bahwa Muti adalah istri yang baik dan sabar.
Namun saat terbayang wajah Clara, Sultan tidak mungkin meninggalkan wanita itu. Clara adalah wanita yang Sultan cintai dan dia harus bertanggung jawab terhadap perbuatan yang sudah dilakukan bersama Clara.
Kepala Sultan pusing saat memikirkan semuanya, apakah dia harus mengatakan kejujuran kepada Muti atau harus terus menyembunyikannya.
Tapi sampai kapan bisa menyembunyikannya? sementara minggu depan Sultan sudah harus mempersiapkan pernikahannya dengan Clara.
Sambil memijat-mijat kepalanya Sultan pun memandangi punggung Mutiara, istri yang belum pernah dia sentuh keperawanannya.
Sultan menyesal kenapa harus terjerat pernikahan yang sama sekali tidak mereka inginkan. Kenapa mereka tidak berani menentang keinginan masing-masing orangtua, dengan begitu tidak akan ada perasaan yang tersakiti.
__ADS_1