
Sultan sudah selesai mandi, mood baiknya untuk berjalan-jalan bersama Muti menjadi hilang, kini dia bersiap, berpakaian rapi dan ingin segera keluar dari kamar untuk membeli sarapan.
Muti yang melihat Sultan telah rapi pun bertanya, "Kita jadi pergi, Kak?"
"Kamu pergi sendiri saja! mood ku hilang, gara-gara mendengar ceramah mu! Aku akan keluar, untuk sarapan bersama temanku. Terserah kamu mau pergi atau tidak."
"Baiklah Kak, aku minta izin sama Kakak untuk pergi ke pusat oleh-oleh saja bersama Elena. Aku ingin membelikan oleh-oleh buat Papa mama, Ayah Ibu serta kedua kakakku."
"Terserah!" ucap Sultan sembari memakai sepatu dan pergi keluar kamar.
Muti mendesah, lalu dia berpakaian dan berdandan. Tapi belum selesai dia berdandan, pintu kamarnya di ketuk, Muti pikir Sultan kembali, ternyata pelayan yang mengantarkan sarapan pagi.
Menu sarapan pagi hari ini adalah bubur kacang hijau, itu adalah kesukaan Muti, dia jadi teringat Ibunya.
"Ibu...aku rindu Bu. Ternyata benar kata ibu, tidak mudah menjalani kehidupan berumah tangga. Doakan aku Bu, agar bisa melewati cobaan berat ini," ucap Muti sembari mengelap air mata yang jatuh di pipinya.
Muti di depan Sultan berusaha tegar, ternyata di belakangnya, dia adalah seorang wanita yang rapuh dan cengeng, yang rindu menangis dan tidur dipangkuan ibunya.
Saat Muti berusaha menutupi matanya yang sembab dengan riasan, pintu kamarnya kembali di ketuk, ternyata Elena sudah sampai.
"Kamu El, kenapa datang pagi sekali?" tanya Mutia.
"Iya Mbak, tempat yang akan kita tuju letaknya lumayan jauh, takutnya kita terlalu siang tiba di sana," ucap Elena.
"Kita tidak usah kesana El, aku tadi pamit ke Kak Sultan ingin pergi ke pusat oleh-oleh saja," ucap Elena.
"Oh, nggak jadi ya Mbak."
__ADS_1
"Masuk El, kita sarapan dulu! kebetulan kamu datang, ayo temani aku sarapan, Kak Sultan sudah pergi kok," ajak Mutiara.
Elena pun masuk, lalu mereka sarapan bubur dulu sebelum pergi.
"Kenapa Tuan Sultan membatalkan rencananya, Mbak? Padahal begitu membaca pesan WhatsApp dari Mbak Muti tadi malam, aku sudah senang banget lho, jadi kita tidak perlu susah-susah membuat Tuan Sultan sakit, agar bisa bersama Mbak Muti seharian," tanya Elena.
"Entahlah El, barangkali memang belum niat, sebenarnya gara-gara tadi pagi, aku mengingatkannya untuk ibadah. Aku tidak bisa membiarkan orang terdekat ku, lalai akan kewajibannya, apalagi dia imamku El, harusnya dia jadi panutan untuk ku," ucap Mutia.
"Oh, berarti didikan orangtuanya gagal ya Mbak, gara-gara lahir, tinggal dan pergaulan selama di Inggris membuat kepribadian yang harusnya dasarnya muslim menjadi luntur," ucap Elena.
"Nggak tahu siapa yang salah El, apakah sejak dini kurang di tanamkan ilmu agama atau pergaulan dalam budaya barat yang membuat Kak Sultan mata hatinya tertutup rapat hingga sulit untuk dibuka," ucap Mutiara.
"Cepat habiskan sarapanmu El, ayo kita berangkat, aku tidak mau pulang kemalaman lagi hingga membuat Kak Sultan marah," ucap Mutia.
"Baik Mbak, sudah selesai kok," jawab Elena sambil mengunyah suapan terakhirnya.
Mereka pun bergegas, Muti menyambar tas dan mengunci pintu kamar sebelum pergi.
Akhirnya Sultan memutuskan untuk pergi ke hotel tempat Clara menginap, dia ingin menemui Clara dan bertanya, kenapa menonaktifkan ponselnya.
Sultan menghidupkan aplikasi taksi online dan tak lama taksi online yang di pesannya pun datang. Dengan hati resah Sultan duduk di dalam taksi sambil memainkan ponselnya.
Sebenarnya selain kepikiran Clara, Sultan juga kepikiran omongan Mutiara tadi pagi, semua ucapan Muti terngiang-ngiang di telinganya.
Memang Sultan akui, sejak dia kecil, orangtuanya selalu sibuk mencari uang, uang dan uang jadi kurang memperhatikan pendidikan agama kedua putranya.
Sebagai seorang muslim, Sultan lalai dengan ajaran agamanya. Bahkan untuk membaca surat Al-Qur'an saja dia tidak bisa. Sebenarnya dia gengsi dan malu untuk mengatakan kepada Mutiara jika dirinya lupa dengan tata cara dan bacaan sholat.
__ADS_1
Sultan mendesah, dia tidak tahu harus memperbaiki hidupnya darimana. Sekarang, niatnya adalah bertanggungjawab terhadap Clara, gadis yang telah dia nodai dan sangat dia cintai.
Sultan sudah sampai di hotel tempat Clara menginap, lalu dia masuk menuju kamar Clara. Sultan coba mengetuk, tapi tidak ada jawaban dari dalam dan pintu itupun terkunci.
Seorang cleaning service menghampiri Sultan dan berkata, "Maaf Tuan, Nona yang tinggal di kamar ini pergi sejak pagi."
"Oh gitu ya Mas, pantas saja aku ketuk tidak ada jawaban dari dalam. Terimakasih ya Mas, aku permisi," ucap Sultan.
Sultan mencoba menghubungi ponsel Clara lagi, tapi hasilnya tetap sama dan kali ini ada mesin penjawab yang meminta untuk meninggalkan pesan.
"Aku ke hotel mencarimu Clara, Kamu di mana? Ayo kita bicara, aku merasa bersalah atas kejadian kemaren dan aku janji akan bertanggung jawab." itulah pesan Sultan.
Sekarang Sultan tidak punya tujuan, mau kembali ke hotel malas, bakal hanya tidur seharian di sana. Dia akhirnya ingat saat Mutiara mengatakan akan pergi ke pusat oleh-oleh.
Dengan memesan taksi online kembali, Sultan memutuskan pergi ke pusat oleh-oleh untuk menyusul Mutiara.
Sesampainya di sana, Sultan mencari keberadaan Muti bersama Elena, dia menyusuri pertokoan tapi belum juga menemukannya.
Akhirnya Sultan putuskan untuk menelepon Mutiara guna menanyakan keberadaannya sekarang.
Ternyata Muti langsung ke tempat-tempat pembuatannya agar bisa mendapatkan harga lebih murah.
"Muti, kenapa kamu malah blusukan, mau-maunya ribet kesana sini, sementara di toko dan galeri yang ada di sini tinggal pilih. Aku sudah menyerahkan kartu Atm buat kamu pakai untuk belanja dan yang pasti, isinya tidak akan habis jika kamu memborong isi dari sepuluh toko yang ada di sini," ucap Sultan.
"Seru kak, lihat langsung pembuatannya, kakak pasti takjub deh, memangnya Kakak di mana? Ayolah kesini, biar aku tunggu," ucap Mutiara.
"Nggak ah, lebih baik aku balik ke hotel daripada harus ikut kamu keliling perkampungan," ucap Sultan, lalu bergegas kembali ke hotel.
__ADS_1
Muti asyik melihat aneks souvernir hasil kerajinan masyarakat setempat. Dia tidak menghabiskan uang Sultan untuk membeli barang-barang branded seperti yang dilakukan oleh Clara, tapi hanya membeli barang-barang yang di rasanya unik dan tentu saja Mutia suka.
Saat Muti asyik memperhatikan pembuatan aneka jenis kue pie, Adam ternyata ada di sana juga. Mereka pun sama-sama penasaran dan bersama-sama pergi melihat pembuatan kerajinan.