MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 52. MEMANCING KECEMBURUAN


__ADS_3

Muti sudah selesai memasak, lalu dia menatanya di meja makan, menyendok nasi ke wadah, menyiapkan air minum beserta piring, sendok, gelas serta kobokan.


Setelah selesai, barulah Muti meminta keluarganya untuk makan siang.


Mama menyuap makanan yang di buat Muti dan mengunyahnya perlahan-lahan sambil meresapi rasa makanan tersebut.


Muti yang melihat hal itu merasa takut jika sang mama tidak menyukai rasa masakannya, tapi ketakutannya segera sirna, saat sang Mama mengacungkan kedua jempolnya.


"Lezat," ucap Mama.


"Iya benar Ma," jawab Raja.


"Susah 'kan Ma, cari istri seperti kak Muti. Sudah baik, cantik, alim dan pandai masak pula. Jika masih ada stok wanita seperti ini, aku juga mau Ma," ucap Raja sambil melirik Sultan.


Melihat wajah sang Kakak yang kurang senang, Raja bukannya takut, dia malah memanas manasi Sultan dengan perkataannya lagi.


"Kenapa waktu itu Mama dan Papa tidak menjodohkan aku saja dengan Kak Muti. Mungkin saat ini aku pria paling bahagia bisa mendapatkan istri seperti ini."


Mama tersenyum, dia tahu Raja sedang memancing sang Kakak, untuk cemburu.


Namun usahanya belum berhasil, Sultan pergi meninggalkan dapur dengan makanan yang belum selesai dia makan.


Muti tahu, Raja hanya bercanda. Tapi dia tidak mengira jika Sultan marah terhadap adiknya. Muti berdiri hendak menyusul Sultan, tapi sang Mama menahan tangannya sambil berkata, "Biarkan Mut, biar dia tahu. Anak bodoh itu harus diberi pelajaran."


"Iya Kak, Kak Sultan bodoh! Sudah punya istri yang nyaris sempurna malah memilih pelakor murahan itu," ucap Raja keceplosan.


Raja menutup mulutnya, saat Sang Mama menatapnya dengan tajam.


Muti juga terperanjat, dia tidak menyangka jika keluarga Sultan sudah mengetahui tentang perselingkuhan Sultan.


Mama kemudian menatap Muti yang wajahnya merah menahan tangis, lalu Mama berkata, "Maafkan anak Mama Mut. Mama harap kamu jangan cepat menyerah. Jangan biarkan pelakor itu menghancurkan rumah tangga kalian, lawan dia. Kami salut memiliki menantu seperti mu yang mampu menyembunyikan aib suami."


"Terimakasih Mut, kamu tidak mengatakan semuanya terhadap keluargamu. Andai mereka tahu, kamu pasti sudah mereka jemput, mereka bawa pulang."


"Insyaallah Ma, Muti akan coba bertahan seberapa Muti sanggup, tapi jika mereka sampai menikah, Muti tidak tahu Ma, apa masih bisa bertahan atau tidak," jawab Muti.


"Iya, Mama paham Nak! Mama sebenarnya malu meminta kesabaranmu dalam menghadapi putra Mama, tapi harapan kami cuma kamu agar bisa menjauhkan wanita pelakor itu dari kehidupan Sultan."


"Muti diam, dia belum yakin sampai kapan dia bisa bertahan."

__ADS_1


"Ma, aku keluar dulu ya, ingin menelepon Papa, agar membeli catur, biar nanti malam kami ada hiburan," ucap Raja.


Muti memandang Raja, untung saja dia sudah memindahkan pakaiannya ke kamar Sultan, jika tidak, bakal ketahuan jika mereka tidur terpisah kamar.


"Maaf ya Mut, kami tidak memberitahumu, bahwa nanti malam kami menginap di sini," ucap Mama.


"Nggak apa-apa Ma, aku senang kok Mama, Papa dan Raja menginap di sini," ucap Mutiara.


Ketika mereka asyik berbincang, ponsel Muti berdering, ternyata dari Elena. Kemudian Muti mengangkat panggilan dari Elena.


"Hai Mbak Muti!" sapa Elena.


"Apa kabar El? Bagaimana pekerjaanmu?"


"Alhamdulillah lancar Mbak, ini sedang santai jadi bisa menelepon Mbak. Oh ya Mbak, Ayah tadi nanya, kapan Mbak Muti datang, mereka rindu sama Mbak Muti," ucap Elena.


"Belum tahu El, nanti aku tanya Kak Sultan dulu, kapan bisa mengantar aku kesana. Saat ini keluarga Kak Sultan sedang ada di sini," ucap Mutiara.


"Oh ya Mbak, salam ya buat mereka."


Belum Elena menutup teleponnya, Raja datang dan berucap di belakang Muti.


"Nggak bisa sekarang Ja, paling pas libur kerja, aku baru bisa kesana. Kasihan Ayah, jika harus menghandle semua pekerjaan," jawab Elena.


Oh, gitu ya El. Jadi kapan kita bisa bertemu? Aku tidak lama lagi lho di Indonesia," ucap Raja.


"Nanti ya aku kabari lagi, kapan kita bisa jalan," jawab Elena.


"Wah, nampaknya ada berita yang tidak aku ketahui ya. Sejak kapan kalian dekat El?" tanya Muti.


"Tanya Raja Mbak," jawab Elena malu.


"Ayo Ja, kata Elena harus tanya kamu," ucap Muti.


"Raja tersenyum sambil mendekat ke telinga Muti dan berbisik, "Sejak diminta Papa menyelidiki Kak Sultan dan rumah tangga kalian Kak."


"Aduh, Kakak jadi malu. Tapi terimakasih ya Ja," ucap Muti.


"Terimakasih untuk apa Kak? Itu kewajibanku mengingatkan Kak Sultan dan membantu kalian."

__ADS_1


"Terimakasih semuanya, dan terutama sudah mau menjadi teman baik bagi Elena. Dia sahabatku sekaligus saudaraku."


"Elena disana, yang mendengar perkataan Muti langsung menjawab, "Aku Mbak yang pantas berterimakasih. Oh ya Mbak, sudah dulu ya, aku di panggil oleh Ayah. Bay Ja," ucap Elena, lalu menutup panggilan teleponnya.


Mama yang melihat keakraban mereka bertiga merasa senang, beliau juga setuju jika Elena jadian denga Raja. Tapi Raja harus kembali untuk menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu, baru boleh melamar Elena.


Muti bersyukur jika Elena dekat dan jadian dengan Raja, karena dia tahu, Raja baik, jauh berbeda dengan Sultan.


"Ayo kita cari suamimu Mut, kemana dia pergi?" tanya Mama.


"Paling di kamar Ma, mengkotak Katik laptop atau bermain game melalui handphone."


"Mama tunggu saja di sini, aku akan mencari Kak Sultan," ucap Muti.


Muti berjalan ke kamar Sultan, tapi dia tidak menemukannya di sana, lalu dia turun dan mencari di halaman belakang rumah.


Ternyata benar, Sultan ada di sana. Dia memandangi ikan-ikan yang ada di dalam kolam dan sesekali menaburkan makanannya.


Muti mendekati Sultan, menepuk bahunya sambil berkata, "Kak, di cari Mama."


"Biarlah, aku masih mau di sini, katakan saja sama Mama, sebentar lagi aku kesana."


Hanya itu yang Sultan ucapkan. Muti tidak tahu, apa yang saat ini Sultan pikirkan. Lalu Muti meninggalkan Sultan dan kembali ke dalam rumah.


"Mana Sultan Mut?" tanya Mama.


"Sedang memberi makan ikan Ma, sebentar lagi juga kesini," ucap Muti.


"Oh, kalau begitu Mama mau istirahat sebentar ya Mut."


"Ayo Ma, Muti antar ke kamar."


Muti menunjukkan kamar yang biasa dia pakai, kemudian membiarkan Mama beristirahat di sana.


Kemudian Muti memutuskan untuk pergi mengobrol dengan Raja. Setelah mengenal Raja lebih dekat, ternyata Muti baru tahu, jika Raja orangnya sangat asyik untuk teman ngobrol.


Mereka berdua asyik mengobrol tentang perkuliahan Raja, tentang Elena dan tentang masa remaja Muti. Keduanya tertawa sampai terpingkal-pingkal saat bercerita tentang keusilan di masa SMA.


Ternyata, Sultan sudah sejak tadi masuk ke dalam rumah dan dia memperhatikan keakraban istri dan adiknya tersebut. Sultan merasa iri, kenapa mereka berdua bisa secepat itu akrab dan bisa tertawa lepas.

__ADS_1


__ADS_2