MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 78. KECURIGAAN SANG AYAH


__ADS_3

Menjelang senja, Adam pamit kepada Muti dan yang lain, dia tidak enak berlama-lama di sana, takut mengganggu silaturahmi kedua keluarga.


Sementara Raja menarik tangan Elena, dia mengajak Elena ngobrol di taman belakang sambil memberi makan ikan.


Muti yang paham dengan hubungan keduanya tidak ingin mengganggu, lalu Muti memilih bergabung bersama orangtua dan mertuanya.


Mereka mengobrol banyak hal, tentang bisnis, tentang masa depan anak-anak dan bahkan ayah Danu sempat berkelelakar, merasa sangat bahagia jika mereka segera memiliki cucu.


Muti tidak berani membuka suara, dia takut jika para orangtua sudah menyinggung tentang cucu, ujung-ujungnya akan membuat dirinya terjebak dalam pertanyaan yang pastinya tidak bisa dia jawab.


Kemudian Muti memilih pergi ke toilet dengan alasan perutnya mulas akibat telat makan dan masuk angin.


Setelah dirasa aman, Muti pun kembali bergabung bersama orangtuanya dan berhubung hari sudah malam, Muti segera mengajak kedua orangtuanya untuk pulang dengan alasan pasti Sultan sudah lama menanti kepulangan Muti.


Ayah Danu pun pamit kepada Papa Hendra. Keduanya berpelukan sembari saling mendoakan agar senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan.


Papa Hendra yang merasa bersalah terhadap sahabatnya, memeluk Ayah Danu sangat lama sembari mengucapkan kata maaf.


"Maaf untuk apa Hen? meskipun kau tidak mengucapkan kata maaf, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Keusilan semasa sekolah menjadi kenangan terindah bukan suatu kesalahan yang harus dimaafkan," ucap Ayah Danu.


"Ini bukan masalah itu Dan, tapi masalah anak-anak kita," jawab Papa Hendra.


Ayah Danu menatap serius sahabatnya yang tertunduk, lalu beliau bertanya, "Memangnya ada apa dengan anak-anak kita Hen?"


"Nggak ada apa-apa kok Yah, Papa hanya belum sehat, hingga masalah kecil pun jadi beban pikiran Papa," ucap Muti untuk mengalihkan pembicaraan orangtuanya.


"Memangnya Kamu dan Sultan ada masalah apa Mut?"


"Bertengkar biasa kok Yah, maafkan Muti Pa, hingga membuat Papa jadi merasa kebeban pikiran."


Mama yang tahu Muti ingin menyembunyikan masalah rumah tangganya dari sang Ayah segera menimpali, "Iya Pa, sebaiknya Papa nggak usah pikirkan masalah anak-anak, toh biasa dalam rumah tangga bertengkar, kita 'kan juga begitu ya Jeng," ucap Mama kepada Ibu.


"Hooh, Iya Mas, sebaiknya Mas Hendra pikirkan kesehatan saja, anak-anak pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," timpal Ibu.

__ADS_1


Papa Hendra menarik nafas dalam, dia sangat menyesal kenapa putranya begitu bodoh tidak bisa melihat kebaikan menantunya itu.


Muti tidak ingin berlama-lama lagi, dia takut semua terbongkar di hadapan keluarganya, lalu dia berkata, "Kalau begitu, kami permisi ya Pa, Ma, besok Muti usahakan datang menjenguk Papa lagi."


"Iya Nak, terimakasih," ucap Papa Hendra.


"Maaf ya besan, kali ini kami tidak bisa menjamu kedatangan besan," ucap Mama sembari memeluk Ibu Muti.


"Nggak apa-apa lho Jeng, Mas Hendra sudah diizinkan pulang saja kita sudah pantas bersyukur."


"Kami pamit ya Hen, Mbak," ucap Ayah Danu sembari masuk ke dalam mobil.


"Elena juga pamit, lalu dia melambaikan tangan kepada Raja yang mengantar kepergian mereka sampai di depan pintu."


Suasana di dalam mobil sejenak hening, semua asyik bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Saat ini Muti masih merasa takut, jika Sultan akan melampiaskan kemarahannya saat Ayah dan Ibunya tiba.


Muti gelisah, dia *******-***** jemarinya hingga membuat sang Ibu merasa merasa curiga.


"Iya Bu, Ayah juga mikirnya gitu. Kamu jujur saja nduk. Kenapa Sultan tidak menjemputmu di rumah orangtuanya?"


"Bener kok Yah, nggak ada apa-apa antara aku dengan Kak Sultan. Kak Sultan tadi meeting bersama tamu luar, makanya dia tidak bisa menjemputku."


Elena cuma melirik Muti dari kaca spion, dia salut dengan perjuangan Muti untuk menutupi masalah rumah tangganya dari ayah dan ibu. Padahal Muti anak paling kecil dan anak perempuan satu-satunya di keluarga Danuarta, seharusnya dia masih bisa bermanja, mengadukan masalahnya kepada keluarga.


Namun, kedewasaan cara berpikir Muti melebihi usianya, dia bertekad untuk menyelesaikan masalah sendiri tanpa campur tangan keluarganya.


Ayah mendesah, beliau yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh putri kesayangannya itu. Tapi, Ayah tidak bisa memaksa, jika Muti tetap ingin menyembunyikan masalahnya.


"El, kita berhenti di penjual sate yang ada di tikungan depan ya! Aku mau membeli sate untuk kita bawa pulang. Mungkin Kak Sultan juga belum makan," ucap Muti.


Kemudian Muti berkata lagi, "Maaf ya Yah...Bu, hari ini aku belum bisa memasak makanan kesukaan Ayah dan ibu. Insyaallah besok aku masakin, tadi aku sudah belanja stok bahan masakan buat besok," ucap Muti.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba dia berkata, "Aduh! Kenapa sampai lupa ya," ucap Muti sembari memukul keningnya sendiri.


"Memangnya lupa apa Mut?" tanya Ibu.


"Belanjaan ku ada di mobil mas Adam Bu! Tadi aku dan Mas Adam lupa menurunkannya."


"Ya sudah Mbak, biar aku telepon Mas Adam, rumahnya toh juga berada di wilayah sini, jadi nanti biar aku saja yang menjemput barang belanjaan Mbak Muti."


"Terimakasih ya El, nilainya sih tidak seberapa, tapi besok pagi tidak akan sempat jika harus belanja ke swalayan lagi."


"It's okey Mbak."


Elena menelepon Adam, tapi tidak ada jawaban dan Elena memutuskan nanti akan mencobanya lagi setelah sampai di rumah Muti.


Mereka sudah memasuki pekarangan rumah dan Muti melihat mobil Sultan sudah ada di dalam garasi yang pintunya masih terbuka. Itu menandakan jika Sultan sudah sampai sejak tadi dan tidak ingin keluar rumah untuk malam ini.


Dengan mengucap bismillah, Muti memberanikan diri mengucap salam sembari mengetuk pintu. Sekali tidak ada jawaban, lalu dia mengetuknya lagi dan juga tidak ada jawaban.


Ketika Muti hendak memasukkan kunci, pintu rumah pun terbuka, Sultan berdiri di hadapan Muti dengan Wajah menyeramkan seperti hendak memakan mangsanya.


Namun, saat Ayah muncul di belakang Muti sembari mengucap salam, wajah itu berubah seketika menjadi sangat manis dan Sultan menjawab, "Wa'alaikumsalam, apa kabar Yah! Apa kabar Bu!" ucapnya sembari mengulurkan tangan kepada Ayah dan juga Ibu.


Lalu Sultan mempersilakan Ayah, Ibu dan juga Elena untuk masuk, lalu dia kembali bertanya, "Sejak kapan Ayah dan Ibu sampai?" tanya Sultan lagi.


"Menjelang sore tadi dan kami langsung ke rumah Hendrawan, Papamu," jawab Ayah sambil mendudukkan dirinya di kursi dan memandangi sekeliling rumah menantunya itu.


"Maafkan Aku ya Yah, tidak bisa menjemput kesana, tadi ada urusan penting," ucap Sultan.


Muti lega, Sultan masih bisa menahan amarahnya di hadapan Ayah dan Ibu.


Saat Sultan dan Muti


sedang berusaha mendekatkan diri untuk menunjukkan jika mereka saat ini sedang dalam kondisi baik-baik saja, terdengar ucapan salam dari luar.

__ADS_1


Tatapan merekapun beralih ke asal suara, Muti dan Sultan terkejut, lalu Sultan menatap Muti dengan tajam seperti sebuah mata pisau yang siap menggores kulitnya.


__ADS_2