
Adam, Muti, Elena serta sekretaris Adam sudah tiba di sebuah buffet.
Buffet merupakan sistem restoran yang menyajikan aneka menu makanan dan minuman yang bebas kita ambil sesuai dengan keinginan dan selera.
Istilah buffet ini sebenarnya sama saja dengan 'all you can eat'. Saat menyantap makanan di buffet, kita akan dikenakan sejumlah biaya tertentu untuk dapat mengambil makanan serta minuman.
"Silahkan dinikmati, tinggal pilih mana yang kalian mau dan suka," ucap Adam kepada ketiga wanita yang berjalan di sisinya.
Sultan hanya melihat mereka dari luar saja, melihat keakraban Adam dan Muti yang mengobrol sambil menikmati makanan.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Muti dan Elena pun pamit. Tapi, Adam menawarkan diri untuk mengantar mereka sampai ke rumah dan sebelumnya mereka akan mengantar pulang sekretaris Damar dulu.
Muti pun setuju, lalu dia menelepon ayahnya untuk memberitahu, agar jangan khawatir, bila malam ini mereka telat pulang.
Setelah menutup panggilannya, Muti baru teringat, kenapa dia menelepon ayah saat Adam ada di dekatnya.
Elena juga merasa heran, kenapa Muti sampai lupa, padahal Muti sendiri yang melarang Elena, jangan sampai mengungkapkan perceraiannya dulu kepada Adam.
Muti berbalik dan dia berharap perhatian Adam sedang tidak tertuju ke dia. Tapi, saat ini Adam sedang menatapnya dengan heran.
"Kamu kenapa malah menelepon Ayah Mbak, jika terlambat pulang? Apa Mbak Muti...," ucapan Adam terhenti karena Muti langsung menjawab.
"Aku malam ini menginap di rumah Ayah Mas," jawab Muti.
"Oh, Mbak rindu mereka ya. Aku pikir Mbak Muti sudah putuskan untuk keluar dari rumah Sultan. Biar aku, sekalian bicara dengan Ayah," ucap Adam sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Muti hanya tersenyum menanggapi ucapan Adam dan Elena juga.
Keempatnya pun pergi meninggalkan buffet. Sesuai rencana, Adam mengantar sekretarisnya dulu baru mengantar Muti dan Elena.
Sultan yang melihat Muti masih saja ikut di dalam mobil Adam, merasa cemburu. Lalu, dia menelepon Muti sembari memutar mobilnya, mengikuti ke arah mobil Adam melaju.
Muti ragu untuk menerima panggilan dari Sultan, tapi ponselnya terus saja berdering hingga membuat Muti terpaksa mengecilkan volume ponselnya. Jika di rijek, tentunya merasa tidak enak, meski Sultan bukan suaminya lagi.
"Angkat saja Mbak, dari Sultan ya?" tanya Adam sambil menoleh melihat ke layar ponsel yang ada di tangan Muti.
"Iya Mas. Tapi biar sajalah, nanti saat tiba di rumah ayah baru aku telepon balik," ucap Muti.
"Oh, ya sudah. Sekarang kita ke rumah Kristi dulu ya," ucap Adam.
__ADS_1
Muti pun mengangguk, dia menyerahkan keputusan kepada Adam, bagaimana baiknya saja.
Elena yang berada di belakang mobil Adam, merasa heran. Kenapa dia merasa ada kenderaan yang sejak tadi mengikuti mereka.
Kemudian Elena menelepon Muti dan mengatakan tentang kecurigaannya itu. Muti pun mencoba melihat ke belakang tapi dia tidak melihat banyak kenderaan berlalu lalang di sekitar mereka.
"Kenapa Mbak? Apa yang Mbak Muti lihat?" tanya Adam yang merasa penasaran melihat Muti celingukan ke arah belakang.
"Elena bilang ada yang mengikuti kita sejak tadi," jawab Muti.
"Benarkah! Baiklah kita akan coba jebak, apa benar orang itu memang mengikuti kita atau kebetulan saja mobilnya searah dengan kita," ucap Adam.
"Kita harus hati-hati Mas, siapa tahu orang itu memang berniat jahat!"
"Mbak Muti coba bel Elena, kita akan berbelok ke arah jalan kecil yang ada di depan. Itu jalan potongan ke rumah Kristi. Jika memang mobil itu ikut berbelok, berarti dia positif mengikuti kita," ucap Adam.
Muti pun memberitahu Elena dan Elena mengerti apa yang Adam maksud.
Saat mobil mereka berbelok, ternyata Sultan juga ikut berbelok, padahal di jalan kecil itu jarang terdapat rumah penduduk, yang ada hanya lingkungan persawahan.
Adam yang mendapat info dari Elena, benar mobil dibelakangnya mengikuti mereka, segera berbelok arah lagi.
Apa yang Adam lakukan terbaca oleh Sultan dan Sultan pun mengikuti Elena.
Muti melihat kebelakang, dia khawatir terjadi hal yang buruk terhadap Elena.
Tapi Adam berhasil menenangkan Muti dengan berkata, "Tenang Mbak Muti! Rumah Kristi tidak jauh lagi dari tempat itu, jadi Elena dan Kristi bakal aman."
"Oh, syukur deh Mas. Tapi, mas Adam harus tetap minta Elena dan Kristi agar waspada."
"Iya Mbak."
Ketika mobil Elena berbelok ke rumah Kristi, Sultan terus melaju tapi mengurangi kecepatan.
"Mobil itu sepertinya aku kenal Mbak Kristi!" ucap Elena.
"Memangnya siapa El?" tanya Kristi.
Sejenak Elena terdiam, tapi dia yakin, itu adalah mobil milik Sultan.
__ADS_1
"Tuan Sultan!" ucap Elena.
"Apa! memangnya ngapain dia mengikuti kita El," tanya Kristi.
"Mbak Muti, Tuan sedang mengikuti Mbak Muti, Kristi!"
"Hah! Aku beritahu Pak Adam ya El!" ucap Kristi.
"Iya, biar tahu, aku harus lanjut atau tetap menunggu Pak Adam dan Mbak Muti di sini."
Adam meminta Elena putar balik dan mereka akan melanjutkan perjalanan ke rumah Ayah.
Elena pamit kepada Kristi, dia merasa tenang jika memang itu Sultan. Setidaknya, Sultan cuma menguntit dan tidak mungkin mencelakakan mereka.
Sultan yang memang berhenti, begitu melihat mobil Elena putar balik, diapun mengikutinya. Saat ini, mobil Sultan sudah berada kembali di belakang mobil Elena.
Elena memberitahu kecurigaannya, Muti dan Adam pun terkejut. Tapi Adam mempunyai rencana ingin menjepit posisi Sultan di tengah, antara mobil Elena dengan mobilnya. Adam ingin pastikan apa benar itu Sultan atau bukan.
Muti tidak habis pikir, kenapa Sultan malah mengikutinya. Apa sebenarnya yang Sultan inginkan dengan tindakannya itu.
Akhirnya trik Adam berhasil, di jalan yang sempit itu, Elena berhenti dan otomatis Sultan juga tidak mungkin bisa melewati Elena, sementara Adam sudah ada di belakang Sultan.
Sultan tidak bisa berkutik, selain keluar dari dalam mobil, saat Adam, Muti juga Elena keluar dari mobil masing-masing.
Muti yang pertama kali membuka suara, dia ingin tahu kenapa Sultan melakukan hal itu.
"Kak Sultan, ngapain disini?" tanya Muti.
Sultan menjawab dengan tergagap, "A-Aku mencari alamat teman, tapi malah nyasar. Syukur saja aku bertemu kalian, mana tempat ini begitu sepi," ucap Sultan beralasan.
"Oh, bukan karena kamu mengikuti kami?" tanya Adam.
"Untuk apa aku mengikuti kalian! Tidak ada untungnya bagiku!" jawab Sultan.
"Benar tidak ada untungnya bagi Kamu Tan, tapi kami yang merasa di rugikan. kami rugi waktu. Seharusnya, kami sudah tiba di rumah, nah sekarang malah terjebak di sini!" ucap Adam.
Sultan hendak membantah omongan Adam, tapi Muti memajukan tangannya, memberi tanda jika perdebatan itu tidak perlu dilakukan.
Akan lebih baik jika mereka meneruskan perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1