MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 70. PENANDATANGAN SURAT PENGALIHAN HARTA


__ADS_3

Adam, Muti dan Elena sudah selesai makan siang. Walaupun sedikit telat karena menunggu Elena selesai meeting, namun tidak mengurangi kebahagiaan Adam, karena dia bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk lebih lama, ngobrol bersama Mutiara.


"Mas, terimakasih atas jamuan makan siangnya dan juga semua hadiah serta waktu yang telah mas luangkan untuk menemani Saya," ucap Muti.


"Sama-sama Mbak, jika Mbak membutuhkan teman ngobrol, saya siap menemani Mbak, kapanpun Mbak Muti butuh," ucap Adam.


"Cie cie, so sweet! Aku juga mau dong Mas," canda Elena.


"Silahkan Mbak kontek saja saya, insyaallah saya pasti datang."


"Alhamdulillah, terimakasih sekali lagi Mas. Kami beruntung bertemu orang baik seperti Mas Adam," ucap Muti lagi.


"Saya yang beruntung bisa mengenal wanita sesabar Mbak Muti."


"Iya benar sekali Mas, makanya aku mau, saat Mbak Muti mengajakku untuk tinggal disini. Aku tahu, Mbak Muti seorang wanita yang baik."


"Kalian bisa saja. Kalau begitu, kami pamit dulu ya Mas!"


Akhirnya mereka pun pulang ketujuan masing-masing, lalu Muti diantar oleh Elena ke rumah sakit, sebelum Elena pulang ke rumah keluarga Muti.


Mama yang melihat kedatangan Muti segera memeluknya, "Terimakasih Nak, kamu akhirnya kembali. Raja teleponlah pengacara Papa, Muti dan kamu akan menandatangi surat-surat pengalihan itu di sini, di hadapan Papa. Kakakmu biar menyusul nanti, itupun jika dia kembali," pinta Mama.


"Oke Ma," jawab Raja.


"Apa maksud Mama, Apakah malam ini Kak Sultan juga tidak pulang Ma?" tanya Muti.


"Sepertinya iya Nak! Tadi Mama telepon ke kantor, sekretarisnya bilang sejak siang Sultan minta kosongkan jadwal, dia keluar dan tidak balik ke kantor hingga sekarang."


Sejenak Mama terdiam lalu berkata lagi, "Makanya cepatlah kamu kerja Nak agar dia tidak sesuka hatinya saja memimpin perusahaan."


"Maaf Ma, aku belum siap untuk bekerja bersama Kak Sultan, nanti jika aku benar siap, aku pasti datang."


"Tadi orangtua dan kakak-kakak mu telepon mau datang menjenguk Papa, rupanya hari ini mereka kedatangan tamu, jadi di tunda datang kesininya."


"Keadaan Papa bagaimana Ma?" tanya Muti.


"Alhamdulillah, beberapa hari lagi boleh pulang jika kondisinya tetap stabil seperti ini. Makanya kita harus menjaga Papa jangan sampai emosinya naik lagi."


"Apapun yang Sultan lakukan di luar sana sebaiknya jangan sampai papa tahu untuk sementara ini," ucap Mama lagi.

__ADS_1


"Iya Ma, itu juga yang aku pikirkan."


"Bagaimana Ja, bisa datang pak Pradipta?"


"Iya Ma, beliau akan datang."


"Baguslah, sekarang terserah Sultan. Anak itu sudah tidak bisa di atur lagi."


Muti mendesah, sekarang dia terima harta tersebut dengan niat tidak ingin menguasai tapi untuk kebaikan keluarga Hendrawan.


Suatu saat dia pasti akan mengembalikan harta itu, jika memang Sultan berubah, jika tidak dia akan menyerahkan kepada yang lebih berhak yaitu Raja.


Menantu tidaklah memiliki hak waris kecuali Muti memiliki anak dari Sultan. Tapi dengan situasi rumah tangga yang seperti ini, hal itu sudah tidak muti harapkan lagi.


Harapan Muti adalah bisa menyadarkan Sultan agar mementingkan orangtuanya ketimbang wanita pelakor itu. Walaupun Sultan nanti tetap memandang Muti sebelah mata, itu tidak menjadi masalah baginya asal Sultan bisa lepas dari Clara dan kembali menjadi anak yang berbakti terhadap orangtuanya.


"Ma, itu Pak Pradipta sudah datang!" ucap Raja.


Kemudian Mama menghampiri pengacara Pradipta, lalu mama berkata, "Sudah siap semua berkas yang akan ditandatangani Pak?"


"Sudah Bu."


Mama dan Raja pun masuk ke ruangan diikuti oleh Muti dan Pradipta.


"Pa, ini pengacara Pradipta. Mereka akan menandatangi pengalihan yang Papa minta. Mengenai Sultan nanti akan menyusul, dia belum pulang, mungkin masih ada urusan pekerjaan," ucap Mama.


"Mama tidak usah menutup-nutupi perangai anak itu. Aku tahu dia pasti ke tempat wanita murahan itu," ucap Papa sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Sudah Pa, jangan pikirkan yang tidak penting. Sekarang pikirkan kesembuhan Papa dan kedua anak kita yang lain. Raja dan kamu Muti, mendekatlah," pinta Mama.


Raja dan Mama menuruti permintaan sang Mama, lalu mama berkata lagi, "Lihat Pa, masih ada mereka yang akan meneruskan perjuangan Papa."


"Iya Ma."


"Pak Pradipta, silahkan di proses semuanya.


"Baiklah Pak!" jawab Pradipta sembari mengulurkan berkas-berkas yang di perlukan.


Raja membantu Papanya untuk duduk, lalu Papa Hendrawan menandatangi semua berkas yang membutuhkan tandatangannya. Kemudian disusul oleh Raja dan juga Muti.

__ADS_1


Sekarang semua harta milik Hendrawan, sudah sah menjadi hak milik Raja dan Muti, walau Sultan belum menandatanganinya.


"Terimakasih atas bantuannya Pak," ucap Papa Hendrawan.


"Semoga cepat sembuh ya Pak, jangan terlalu banyak dipikir, bukankah masih ada penerus Bapak yang lain. Dia juga pasti bisa mengikuti jejak Bapak menjadi pengusaha sukses," ucap Pradipta sembari menepuk bahu Raja.


"Terimakasih Pak, aku akan berusaha, walau belum berpengalaman seperti kak Sultan."


"Belajar dan terus berusaha, kamu pasti bisa lebih dari Kakakmu," ucap Pradipta, untuk memberikan semangat dan menyenangkan hati Kliennya.


"Saya permisi dulu ya Pak!" ucap Pradipta sembari mengulurkan tangan kepada papa Hendrawan lalu di susul ke yang lain.


Kini Papa dan mama lebih lega, mereka harus memberi pelajaran kepada Sultan agar matanya segera terbuka.


Kembali ke Sultan yang masih mengurus Clara yang manja. Dia harus menuruti semua permintaannya termasuk membelikan rujak yang tempat penjualannya lumayan jauh dari rumah Clara.


Setelah itu Clara minta agar Sultan memijat kakinya dan itu juga Sultan lakukan demi bayinya.


Clara tersenyum, dalam benaknya dia berpikir ternyata enak juga menjadi ibu hamil. Clara bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil banyak perhatian dari Sultan.


Sultan sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, menuruti saja semua yang diperintahkan oleh Clara.


Setelah meminta ini dan itu kepada Sultan, lalu sekarang gillirannya untuk menyenangkan Sultan agar pria itu semakin lengket kepadanya.


Sesuai janjinya, malam ini Clara memuaskan Sultan sebagai tugas pertamanya setelah menjadi istri.


Clara berhasil membuat Sultan terbuai dengan permainan panasnya, dia selalu tahu di mana titik kelemahan Sultan hingga membuat Sultan ketagihan.


Lagi dan lagi, penyatuan mereka lakukan, walau harus dengan berhati-hati agar tidak menyakiti bayi yang ada dalam kandungan Clara.


Keduanya tertidur dalam gulungan selimut setelah kegiatan panas pun selesai dan baru terbangun saat matahari sudah bersinar tinggi di atas kepala.


Itu karena permintaan ngidam Clara yang katanya ingin berlama-lama ada dalam dekapan suaminya.


Orangtua Clara pun membiarkan anak dan menantunya seharian di kamar, menurut mereka, itu hal yang biasa layaknya pengantin baru. Mereka hanya meminta pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar Clara setiap kali jam makan tiba.


Sehari lagi, Sultan bolos bekerja. Dia terbuai dengan pelayanan Clara hingga tidak mengindahkan lagi tugasnya sebagai pemimpin perusahaan.


Sekretarisnya, berulang kali menelepon tapi ponsel Sultan sudah di non aktifkan sejak kemaren dan bahkan disembunyikan oleh Clara karena dia tidak mau ada yang mengganggu baik urusan perusahaan maupun dari keluarga Sultan.

__ADS_1


__ADS_2