
Muti sudah tiba di dealer mobil, dia celingukan mencari Elena yang katanya sudah menunggu lama di sana.
"Mbak," panggil Elena.
"Kamu menunggu di mana El?" tanya Muti.
"Di sana Mbak! Aku sambil ngobrol dengan teman Ayah yang saat ini menjadi klien kami," jawab Elena sambil menunjuk kepada seorang laki-laki paruh baya yang baru saja naik ke dalam mobilnya.
"Ayo kita masuk, bukankah setelah ini kita masing-masing harus ngantor? Nanti kalau telat kita bisa di pecat!"
"Lah Mbak enak, siapa yang mau mecat di perusahaannya sendiri, kalau aku paling ditambahin tugas sama ayah," jawab Elena.
"Mbak mau ambil mobil apa?"
"Yang matic aja ya El dan merk Honda."
"Oke Mbak, kita temui bagian pemasaran dulu ya."
Mereka di sambut dengan ramah oleh karyawan bagian pemasaran, lalu karyawan tersebut memberikan brosur dan menerangkan secara detail tentang kelebihan dan harga masing-masing unit mobilnya.
Muti akhirnya memutuskan membeli mobil yang standard tidak terlalu mahal. Honda Jazz adalah pilihan Muti.
Setelah mengurus kelengkapan yang dibutuhkan, Muti pun mentransfer sejumlah uang senilai mobil tersebut dan memintanya mengantar ke perusahaan saat unitnya sudah ready.
Kuitansi bukti lunas pun sudah Muti terima dan kini saatnya mereka harus pergi ke kantor masing-masing untuk mulai bekerja. Elena pun mengantar Muti lebih dulu, barulah kembali ke kantornya.
Setibanya di kantor, Muti langsung di antar oleh security nmenuju ruangan yang memang sudah di siapkan untuknya.
Para karyawan yang meihat kehadiran Muti, saling berbisik, mereka memang sudah tahu bakal ada pemimpin baru, tapi mereka tidak menduga jika itu adalah istri Sultan. Hanya orang tertentu saja yang tahu siapa Muti.
"Selamat datang Bu! perkenalkan naman Saya Dina, Saya yang akan membantu pekerjaan Ibu di sini," sapa Dina sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
Dina adalah asisten pribadi Muti yang telah ditunjuk oleh Sultan.
Muti pun menyambut uluran tangan Dina, lalu berkata, "Aku Mutiara, salam kenal juga Din, aku mohon bimbingannya ya, Karena aku belum pernah bekerja di kantor sebelumnya."
"Nggak masalah Bu. Saya siap membantu karena membimbing Ibu adalah tugas Saya."
"Oh ya Bu, tadi Pak Sultan pesan, jika ibu sudah datang di minta keruangan beliau. Mari Saya antar kesana Bu," ucap Dina.
Muti pun mengangguk, lalu mengikuti Dina menuju ruangan Sultan. Sesampainya di sana, Dina mengetuk pintu dan setelah dipersilahkan masuk oleh Sultan, keduanya pun langsung menghadap.
"Selamat siang Pak, Saya mengantar Bu Muti kesini sesuai permintaan Bapak."
"Terimakasih, sekarang tolong tinggalkan kami dan minta OB untuk menyiapkan minum buat Bu Muti."
"Baik Pak! Saya permisi dulu," ucap Dina.
Setelah Dina keluar dan menutup pintu, Sultan mendekati Muti, "Selamat datang Bu Bos, selamat bekerja. Sekarang kamu sudah puas! Aku ada di bawah perintahmu. Tapi ingat Mut, di rumah tetap aku pemimpinmu."
"Sudahlah! nggak perlu kamu mengajariku, mereka membenci Clara karena mu! Kalau kau menolak perjodohan dulu, saat ini pastilah Clara yang akan resmi menjadi menantu di keluarga Hendrawan dan harta Papa akan tetap jadi milikku," ucap Sultan.
"Percuma juga kita berdebat masalah ini Kak, nasi sudah jadi bubur dan aku juga sudah menjadi istrimu. Aku punya penawaran untuk Kakak, jika kakak nanti setuju, kita akan buat perjanjian hitam diatas putih."
"Penawaran apa maksudmu? Jangan kau berusaha untuk menjebak ku Mut atau mau menyingkirkan aku dari sini, aku pastikan jika itu sampai terjadi, kau pasti akan menyesalinya seumur hidupmu!"
"Hahaha, begitu burukkah aku di mata Kak Sultan? padahal, andai Kak Sultan mau membuka mata hati Kakak sedikit saja, pasti Kakak akan menyesal. Tapi, andai sekarang pun menyesal percuma, hal itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk ku," ucap Mutiara dengan sangat tenang.
Kemudian Muti pun berkata lagi, "Sekarang, aku punya pilihan untuk Kakak, aku akan menyerahkan semua harta ini kepada Kak Sultan kembali, dengan dua syarat. Syarat pertama, tolong tandatangani gugatan ini dan syarat kedua, lakukan tes DNA atas bayi dalam kandungan Clara," ucap Muti sambil mengeluarkan selembar surat dari dalam tasnya.
"Gila kamu Muti! itu surat apa dan tidak mungkin aku meragukan bayiku sendiri! jangan coba-coba kamu pengaruhi aku dengan hal yang tidak masuk akal!" seru Sultan sambil menggebrak mejanya.
"Semua terserah Kakak, mau atau tidaknya Kak Sultan, tetap tidak ada untungnya bagiku, bahkan syaratku itu sangat menguntungkan bagi Kakak."
__ADS_1
"Aku bisa saja menuntut cerai dengan alasan Kakak tidak pernah memberiku nafkah batin dan telah menikah lagi tanpa izinku. Pasti pihak pengadilan akan segera mengabulkan tuntutan ku dan aku juga punya kuasa untuk menendang kalian dari rumah, juga dari perusahaan ini, toh semua ini sudah resmi menjadi milikku."
"Namun, aku masih punya hati Kak! Aku seorang anak, seorang menantu dan juga seorang istri walau tidak pernah kakak berikan hakku sebagai istri, maka dari itu aku ajukan syarat tadi."
"Pikirkanlah syaratku itu Kak, besok aku tunggu jawaban Kak Sultan, jika Kak Sultan setuju kita akan tandatangani surat perjanjian dan surat cerai di sini dengan disaksikan oleh pengacara Pradipta. Masalah orangtua, biar aku nanti yang akan menjelaskan semuanya kepada mereka."
Sultan terdiam mendengar perkataan Muti, dia masih kurang mengerti apa maksud dibalik permintaan istrinya itu.
Pemikirannya saat ini, mungkin permintaan cerai Muti karena sudah memiliki pria lain dalam hatinya.
Namun yang membuat Sultan tidak habis pikir, apakah begitu besar cinta Muti terhadap pria itu, hingga dia rela menyerahkan semua harta yang sudah menjadi miliknya hanya demi cinta seorang pria.
Dan yang membuat Sultan lebih bingung lagi, kenapa Muti memaksa agar dirinya mau melakukan tes DNA terhadap bayi yang masih ada dalam kandungan Clara.
Kepala Sultan sakit,
memikirkan semuanya, dia duduk sambil memijat-mijat kening tanpa memberikan jawaban apapun terhadap Mutu.
"Pandang aku Kak! Apakah Kak Sultan masih ragu dan berpikir, aku akan menipu atau memperalat Kakak?" tanya Muti.
Sultan pun menatap Muti, dia masih saja diam, tidak mau menjawab sepatah katapun dari pertanyaan Mutiara.
Kemudian Muti berkata lagi, "Rumah tangga kita tidak bisa selamanya begini terus Kak, mungkin inilah cara terbaik untuk menyelesaikan semuanya. Supaya kita, bisa hidup tenang, rukun dan saling memaafkan. Lagipula hasil tes nanti bisa menjadi bukti bagi Papa dan Mama, bahwa mereka harus ikhlas menerima apa yang sudah ditakdirkan, mendapatkan seorang penerus dari menantu lain."
Selesai mengatakan hal itu, Muti pun bangkit, dia meletakkan surat gugatan cerainya di atas meja. Lalu, Muti memegang pundak suaminya sembari berkata, "Pikirkanlah semua omongan ku tadi dengan tenang Kak, demi kebaikan kita bersama."
Kemudian Muti keluar dari ruang kerja Sultan, sekarang hatinya merasa lebih tenang setelah mengatakan semuanya, Muti hanya bisa berharap, Sultan akan segera memberinya keputusan.
Bersambung.....
Sambil menunggu aku Up lagi besok, mampir yuk sobat dalam karya temanku, dan jangan bosan ya dengan permintaan ku, dukung selalu karya kami dengan vote, like serta coment yang membangun, terimakasih ππ
__ADS_1