MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 139. PERMINTAAN MAAF CLARA


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu dan Clara sudah keluar dari rumah sakit. Dia mendatangi perusahaan Hendrawan Group untuk mencari Mutiara.


Saat dia tiba di parkiran, Elena dan Raja pun baru turun dari mobilnya, mereka baru saja pulang dari jamuan makan dengan para kolega.


"Sebentar ya Ja," ucap Elena yang buru-buru turun dari mobil."


"El, mau kemana! Awas kaki kamu belum pulih lho!"


"Menyamperin tuh si pengganggu!" jawab Elena, sembari menunjuk ke arah Clara yang sedang berjalan ke arah gedung kantor.


Raja bergegas untuk mengejar Elena, dia takut calon istrinya itu akan bertengkar. Raja masih belum paham siapa wanita yang Clara maksud.


"Hei...tunggu! Mau kemana kamu! Siapa lagi yang kau incar di sini! sudah cukup ya Mbak Muti dan Kak Sultan yang jadi korbanmu!"


Clara menoleh, dia tidak menanggapi ucapan Elena. Clara berusaha tenang, karena dia datang untuk meminta maaf, bukan ingin bertengkar.


Elena menarik baju Clara hingga wanita itu hampir terjatuh, karena dia tidak menyangka jika Elena akan segarang itu.


"Senang kamu kan bisa menghancurkan rumah tangga orang! Tapi syukur deh, berkat ulahmu itu Mbak Muti sekarang bahagia, bisa mendapatkan calon suami yang benar-benar sayang dan mencintai dia."


"Maksudmu, Muti akan menikah lagi?" tanya Elena sambil melepaskan cengkeraman Elena pada bajunya


"Ya iyalah! Mbak Muti berhak bahagia. Sudah cukup kesedihan dan kesengsaraan yang kau timbulkan untuknya.


Eh...kamu mau ngapain kesini? Jangan sampai buat ulah lagi ya! Aku orang pertama yang akan menghalangi mu," ucap Elena sembari menarik lengan Clara.


Clara mengaduh sambil memegangi perutnya, bekas operasinya terasa sakit dan Elena merasa heran, padahal dia belum berbuat sesuatu yang menyakitkan lawannya.


Raja yang sudah berdiri di hadapan keduanya segera meminta Elena untuk sabar.


"Sabar Sayang, lepaskan tangannya. Sebenarnya ada masalah apa nih dan siapa dia!"


"Pelakor yang menghancurkan rumahtangga Mbak Muti."


"Oh, dia ternyata orangnya."


"Sudah lepaskan dia Yang."


Clara bingung, kenapa tanggapan Raja seperti tidak pernah terjadi masalah apapun.


"Ada apa kamu kesini Mbak?"

__ADS_1


"Maaf, Saya hanya ingin bertemu Mutiara."


"Kamu jangan macam-macam!"


"Tenang Sayang, biar aku yang bicara."


"Ada apa kamu mencari Mbak Muti?"


"Sayang dia itu wanita ular, jadi nggak perlu kita ngomong baik-baik dengan dia. Suruh security saja mengusirnya! Aku sudah muak melihat tampangnya!"


"Kita nggak boleh gegabah Sayang, barangkali dia ada keperluan penting?"


"Iya Mas, aku ingin meminta maaf. Aku tahu, kesalahan ku terlalu besar dan mungkin sulit untuk dimaafkan."


"Oh..." jawab Raja.


"Sayang, kita jangan tertipu. Bisa saja dia ingin kembali menyakiti Mbak Muti."


"Tidak Mbak, aku hanya ingin meminta maaf sebelum pulang ke kampung. Dan aku juga ingin meminta maaf kepada Mbak karena kecelakaan yang Mbak alami tempo hari karena ulahku," ucap Clara sembari tertunduk.


"Apa! Kamu rupanya biang keroknya!" Elena hampir saja menampar Clara, tapi Raja menghalanginya.


"Dengarkan dia dulu Sayang, jangan pakai emosi. Seandainya dia ingin berbuat jahat, tidak mungkin dia mengakui kesalahannya sekarang."


"Begini saja Mbak, Mbak Muti sudah tidak bekerja lagi di sini. Tapi kalau Mbak memang ingin bertemu dengannya, nanti sore datang ke cafe "Sahabat" yang dekat alun-alun, kami ada janji bertemu di sana.


"Oh, kalau begitu terimakasih Mas. Kira-kira jam berapa ya, Mbak Muti nya sudah standby di sana?"


"Jam 5 Mbak, setelah pulang kantor."


"Kalau begitu nanti sore pasti Saya kesana. Terimakasih atas informasinya ya Mas. Saya pamit dulu dan sekali lagi Saya mohon maaf Mbak."


"Heemm..." jawab Elena yang masih juga belum percaya.


Clara berjalan meninggalkan tempat itu, lalu dia memesan ojek online untuk pulang ke rumah kontrakannya. Dia memperpanjang akad kontrak, satu bulan kedepan dengan uang yang telah diberikan oleh Ayahnya.


Ibunya pun menemani Clara di sana, sampai urusan Clara selesai dan sama-sama kembali ke kampung.


Sepeninggal Clara, Elena berkata kepada Raja, "Kenapa percaya begitu saja dengan dia Ja?"


"Aku yakin, dia memang ingin bertobat. Kita lihat saja nanti sore, apa benar dia datang untuk minta maaf atau tidak. Ayo kita masuk El, masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan."

__ADS_1


"Eh iya. Kenapa aku sampai lupa," ucap Elena menepuk keningnya.


Keduanya pun masuk dan menuju ruang kerja Raja. Kemudian mereka mengecek laporan yang dikirim oleh bagian pemasaran.


Muti juga sibuk hari ini, klien-klien baru juga sedang mengajukan penawaran. Dia bisa cepat membaur dengan para staf dan karyawan bawah. Karena dunia kerja baginya tidak asing lagi.


Para karyawannya juga senang, ternyata pilihan Adam untuk mengangkat Muti sebagai atasan mereka tidak salah.


Muti sudah menyelesaikan pekerjaannya, lalu dia bergegas merapikan meja dan menyambar tas. Dia akan pergi ke cafe tempat di mana Raja dan Elena mungkin saja sudah menunggunya.


Dengan di antar sopir kantor, Muti pun tiba di cafe tersebut. Dan dia sangat terkejut, saat melihat Clara berdiri di pintu masuk.


Agak sedikit ragu, Muti pun terus melangkah. Dia pura-pura tidak mengenal Clara karena dirinya tidak mau terlibat masalah lagi, dengan wanita yang telah menghancurkan rumahtangganya.


Saat Muti melewati Clara, dia tidak menyangka jika wanita itu akan memanggilnya.


"Mut, tunggu! Aku ingin bicara!"


Muti pun menghentikan langkahnya, lalu berkata, "Heemm...nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semua sudah selesai dan aku tidak ingin terlibat masalah apapun denganmu!" ucap Muti.


"Aku datang kesini bukan ingin mencari masalah Mut, tapi sengaja ingin meminta maaf. Aku diberitahu oleh adiknya Kak Sultan, jika kalian akan berkumpul di sini. Mungkin dia tidak mengenalku, tapi aku tahu, dari wajah dan penampilannya dia hampir mirip dengan Kak Sultan."


"Kamu bertemu Raja dimana? Jangan coba-coba membohongiku Clara! Sudah cukup kamu menghancurkan kehidupan rumah tanggaku dan sekarang aku tidak ingin tertipu lagi. Jika kamu ingin mencari Kak Sultan, carilah di tempat lain, karena aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya."


"Tidak, aku tidak ingin mengganggu atau merusak Kehidupan siapapun lagi. Aku hanya ingin memperbaiki diri. Jadi, sebelum meninggalkan kota ini, aku ingin meminta maaf kepada kalian, terutama kamu."


"Syukurlah jika kamu telah menyadari kesalahanmu itu. Aku tidak pernah dendam, meski perbuatanmu pernah membuat hatiku sakit. Jadi kumohon, jangan sakiti wanita manapun lagi."


"Iya Mut, apakah kamu mau memaafkan kesalahan ku Mut?" tanya Clara sambil mengulurkan tangannya.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi sebaiknya kamu mohon maaf kepada keluarga Papa Hendrawan. Karena kamu telah menghancurkan kehidupan putranya."


"Terimakasih Mut, karena kamu mau memaafkan aku. Aku tidak berani bertemu mereka, tapi aku sudah meminta maaf kepada Kak Sultan. Bahkan berkat bantuan Kak Sultan, aku masih diberi kesempatan hidup."


"Boleh aku peluk kamu Mut?"


Muti pun mengangguk, lalu dia mengulurkan tangan dan mereka berpelukan.


Clara menangis, dia akhirnya merasa lega. Dua orang yang pernah disakitinya, mau memaafkan.


Setelah itu Clara pamit, sore ini dia hendak pulang ke kampung bersama sang ibu.

__ADS_1


Elena dan Raja yang baru tiba dan melihat hal itu merasa lega. Ternyata Clara tidak berbohong.


Bersambung....


__ADS_2