
"Ayo Dok silahkan masuk!" ucap Clara. Lalu dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Tapi Nona..."
"Nggak apa-apa Dok, Saya memang tinggal sendirian. Suami tidak setiap hari pulang. Saya hanya ingin dokter memeriksa perut Saya, kenapa terasa sakit di bagian bawah. Saya takut Dok, terjadi hal buruk terhadap janin Saya," ucap Clara yang sudah terlentang di atas tempat tidur."
Dokter sedikit lega karena ternyata pasiennya sedang hamil, hanya dia bingung bagaimana mau memeriksa bagian perut, kalau pakaian yang digunakan Clara seperti itu.
"Nona, sebaiknya Anda menggunakan sarung atau penutup lain, tidak mungkin saya memeriksa Anda dengan pakaian seperti itu," ucap Pak Dokter.
"Eh, iya maaf Dokter. Saya sampai lupa," ucap Clara tanpa rasa malu.
Kemudian Clara bangkit, mencari kain yang bisa dia gunakan untuk menutupi bagian bawahnya saat baju yang dia kenakan harus di angkat setinggi di atas perut agar dokter bisa memeriksa bagian perutnya yang sakit.
Dokter pun mulai memeriksa dan beliau berkata, "Nona harus menjaga, ini kehamilan muda jadi rawan keguguran jika mendapat tekanan. Nona dan suami harus hati-hati jika mau yang begituan dan jangan terlalu sering."
Clara tersenyum sembari menjawab, "Bagaimana lagi Dok, nanti jika tak di beri, bisa mencari kepuasan kewanita lain, bisa gawat 'kan Dok? Dokter sendiri tahu bukan jika laki-laki sudah meminta," ucap Clara genit.
Dokter mendesah, dia tidak berani meladeni Clara, dia takut terpancing. Lalu Dokter berkata, "Ini saya beri vitamin dan jika nanti terjadi flek, tolong cepat periksa kembali. Baru saya akan beri obat penguat kandungan."
"Oh, syukurlah Dok jika keadaan janin saya tidak apa-apa. Terimakasih ya Dok, sebentar saya ambil uang dulu," ucap Clara sembari bangkit.
Kain penutup bagian bawah Clara pun terlepas dan kembali terlihat bentuk tubuhnya yang seksi dari balik pakaian tidurnya yang menerawang.
Dokter pura-pura menunduk dan sibuk menyiapkan obat untuk Clara daripada dia harus melihat pemandangan yang nyaris menggoda imannya.
Setelah Clara menyerahkan uang, dokter pun buru-buru pamit, sambil menarik nafas dan membuangnya kasar, pak Dokter pun pergi meninggalkan apartemen Clara.
Sementara Sultan sudah tiba di rumah, dia yang membawa kunci sendiri langsung membukanya. Sultan kaget, ternyata Muti sedang berada di rumah.
__ADS_1
Muti cuek saja saat melihat Sultan masuk, dia mengemas pakaian ganti yang akan dibawa ke rumah sakit. Muti memang pulang sebentar dengan menggunakan taksi untuk mengambil pakaian ganti, sedangkan Raja sudah mengambil pakaian Mama, Papa serta dirinya siang tadi di rumah keluarga Hendrawan.
"Kenapa kamu pulang? Bagaimana keadaan Papa?" tanya Sultan."
"Oh, masih ingat dengan Papa? Aku pikir wanita itu sudah membuat Kak Sultan lupa segalanya."
Sultan tidak membantah, lalu dia meletakkan tasnya dan menyambar handuk mandi. Namun, saat dia sampai di depan pintu kamar mandi, Sultan pun berkata, "Tunggu aku, kita berangkat sama ke rumah sakit."
Setelah mengatakan hal itu, Sultan pun melakukan ritual mandi lalu dia bersiap untuk menyusul Muti yang sudah menunggunya di mobil.
Sepanjang perjalanan, Muti tidak bersuara, dia menatap jalanan, memperhatikan kerlap-kerlip lampu dan sesekali memperhatikan ponselnya yang berdenting karena adanya pesan masuk.
Sultan juga bingung harus mengatakan apa, karena Muti pastinya sudah tahu jika dia pergi dengan Clara.
Namun kemudian Sultan memecah keheningan dengan berkata, "Kemana kamu pergi kemaren dan Siapa laki-laki yang bersamamu!"
"Hah...apa peduli Kakak, aku kemana dan pergi dengan siapa! Toh tidak ada pengaruhnya untuk Kakak," jawab Muti.
"Hahaha, istri? Benarkah Kakak masih menganggap ku Istri? Jika aku memang istrimu, sekarang aku bertanya, kemana, dimana dan bersama siapa Kak Sultan menginap tadi malam? Pasti dengan perempuan pelacur dan tentunya pelakor itu 'kan!" ucap Muti yang merasa sangat kesal.
"Apa kamu bilang!" bentak Sultan sembari mencengkeram rahang Mutiara.
Mobil sedikit oleng karena Sultan marah atas ucapan Muti, dia tidak terima Clara dikatakan pelacur, jadi Sultan akhirnya tidak fokus menyetir.
Jeritan Mutiara membuat Sultan mengerem mendadak, mobil Sultan hampir menabrak pengendara motor.
Sultan pun menghentikan mobilnya, lalu dia berkata, "Jangan sekali-kali kamu bilang dia pelacur, dia itu ibu dari calon anakku! bentak Sultan dengan masih mencengkeram rahang Muti. Sultan tidak terima, jika Clara di sebut sebagai pelacur.
Muti tidak takut sedikitpun, karena yang dia katakan adalah benar, Adam telah menceritakan bahwa Clara juga memiliki pria lain selain Sultan, jadi Muti tidak yakin jika itu anak Sultan, bisa jadi anak pria yang Adam ceritakan.
__ADS_1
"Kamu terlalu bodoh Kak! Apa kamu yakin itu bayimu? Kamu yakin pelakor itu hanya berhubungan denganmu saja?" tanya Muti sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan Sultan dari rahangnya.
Mendengar perkataan Muti, Sultan mulai melonggarkan cengkeramannya hingga Muti akhirnya bisa melepaskan cengkeraman tersebut dari dagunya.
"Kamu jangan asal ngomong! Clara adalah..." Sultan tidak jadi meneruskan ucapannya, dia hampir saja keceplosan.
"Dia apa Kak! kenapa tidak dilanjutkan ucapan Kakak!"
"Sudahlah! Aku tidak ingin bertengkar, kita harus ke rumah sakit, Mama pasti cemas menunggu kamu yang belum juga datang," ucap Sultan yang berusaha mengalihkan perhatian.
Akhirnya Muti pun diam, dia tahu bahwa mama pasti cemas menunggu dirinya yang belum juga kembali ke rumah sakit, padahal tadi pamitnya hanya pergi sebentar.
Benar ternyata, saat ini ponsel Muti berdering dan memang dari sang Mama.
Muti mengangkat panggilan, lalu dia mengatakan jika sedang dalam perjalanan dan saat ini bersama Sultan.
Mama merasa tenang tapi beliau tidak sedikitpun mempertanyakan putranya. Mama marah, dia sengaja mengabaikan keberadaan Sultan.
Setelah mengetahui bahwa Muti baik-baik saja, mama pun mematikan panggilannya, lalu beliau bicara kepada Raja, jika Sultan sedang dalam perjalanan bersama Muti. Mama meminta Raja agar mengabaikan saja, jika Sultan tiba nanti.
Mereka tiba di rumah sakit, seperti yang mama katakan tadi, Raja dan Mama mengabaikan kedatangan Sultan. Mereka menganggap jika Sultan sedang tidak ada di sana.
Mama dan Raja hanya ngobrol dengan Mutiara, mereka satu patah katapun tidak berbicara dengan Sultan.
Sultan tahu, keluarganya sedang marah, lalu dia hendak menemui Sang Papa, tapi tiba-tiba Sang Mama sudah menghadang di depan pintu.
"Mau ngapain kamu!"
"Aku ingin melihat keadaan Papa Ma!"
__ADS_1
Tidak perlu, apa kamu ingin membuat Papa terkena serangan jantung lagi? Jadi tolong, pergilah! Kami tidak memerlukan mu di sini!" ucap Mama.
Sultan terkejut melihat kemarahan sang mama, yang sekarang tega mengusir dirinya dan tidak menginginkan kehadirannya lagi di rumah sakit.