
Sultan terbangun jam 5 pagi, dia ingin balik ke hotel tempatnya menginap bersama Muti. Sesuai janjinya dengan Muti, hari ini mereka akan keliling Bali guna foto bersama di tempat-tempat yang indah di sana sebagai bukti kepada keluarga jika acara bulan madu mereka sukses dan berkesan.
Namun, saat Sultan beranjak hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Clara menarik Sultan hingga masuk ke dalam perangkap cintanya lagi.
"Jangan pergi sekarang Yang! bukankah masih terlalu pagi. Mari kita bersenang-senang dulu, untuk bekal kamu agar jangan menggoda si Marmut!" ucap Clara kembali beraksi.
"Jadi boleh nih, apa kamu tidak lelah, bukankah sudah beberapa ronde tadi malam," ucap Sultan sambil menyeringai.
"Boleh, tapi ada syaratnya."
"Apa itu?"
"Belikan aku rumah Kak, sambil menunggu pernikahan kita, aku ingin tinggal di rumah sendiri setelah pulang dari sini. Jadi kita bisa lebih leluasa ketimbang aku tinggal di rumah orangtuaku. Daripada Kakak harus terus menyewa hotel untukku, 'kan sayang uangnya. Keluarkan banyak uang tapi tidak menjadi hak milik," rayu Clara.
"Iya, kamu benar. Nanti, setelah kita pulang aku urus semuanya," janji Sultan.
"Aku maunya sekarang, Kakak tahan dulu dan transfer Dp nya. Ada temanku memberikan penawaran Kak, aku takut keduluan orang nantinya. Tempatnya sangat bagus, lagipula terlihat nyaman untuk kita tinggalin dan tentunya rumah itu sangat besar, jadi kedepannya anak-anak kita akan nyaman bermain di sana," ucap Clara lagi.
"Memangnya kamu sudah pernah lihat lokasinya?" tanya Sultan.
"Ini dikirim video oleh temanku itu Kak, setiap ruangan juga sudah diisi dengan barang-barang, sebagian besar barang terbuat dari Jepara," ucap Clara sambil menunjukkan video yang ada dalam ponselnya itu yang di kirim oleh Hardi.
"Bagus dan besar rumahnya ya?"
"Iya Kak, ini seperti yang selalu aku impikan. Coba lihat lagi deh Kak, video yang kedua, di sana ada kolam renangnya dan juga kolam ikan dan taman bunga, pasti anak-anak kita akan riang bermain di sana," rayu Clara lagi.
"Berapa harganya?"
"Murah kok Kak, hanya 2M. Transfer dulu Dp nya sebagai tanda jadi. Mengenai sisanya bisa Kak Sultan cicil selama 3 bulan."
"Oh gitu. Baiklah, aku akan transfer 500 juta dulu sebagai Dp. Mana nomor rekeningnya?" tanya Sultan.
__ADS_1
"Sebentar ya Kak!" ucap Clara sambil mencari nomor rekening yang di berikan oleh Hardi.
Setelah selesai mentransfer uang tersebut, Sultan langsung mengirim bukti transferannya ke WhatsApp Clara. Clara langsung memeluk Sultan dan menciuminya.
Sultan yang mendapatkan perlakuan manis dari Clara tidak membuang kesempatan, dia membalasnya hingga mereka kembali melakukan perbuatan-perbuatan terlarang itu.
Clara senang bisa mengulur waktu Sultan untuk secepatnya kembali ke hotel di mana Muti menunggu.
Sultan dan Clara kembali tertidur dan terbangun ketika di kejutkan oleh suara ketukan pintu dari pelayan pengantar makanan.
Sultan melompat dari tempat tidur, dia melihat jam lalu menyambar handuk dan pakaian mandinya.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.15 saat Sultan selesai mandi, diapun bersiap hendak kembali bersama Mutia.
Namun ketika Sultan hendak mengenakan jaketnya, Clara menggelayut manja di lengannya, lalu berkata, "Temani aku makan dulu dong Kak, aku malas sarapan sendirian, please Kak!" ucap Clara dengan manja dan memasang muka memelas.
"Tapi Yang! Aku sudah telat. Muti dan Elena pasti sudah menungguku," ucap Sultan.
"Baiklah, ayo kita sarapan," ucap Sultan sembari menanggalkan jaketnya.
Mereka pun sarapan, Sultan sedikit gelisah, dia bolak balik melihat jam yang tergantung di dinding kamar Clara.
Selesai makan Sultan mengambil ponselnya, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 08.50. Batas waktu yang Muti berikan sudah hampir habis.
Muti di hotel sudah bersiap dan sedang gelisah menunggu kepulangan Sultan, dia tidak berani menghubunginya karena jam belum menunjukkan pukul 09.00 seperti perjanjian mereka.
Melihat teleponnya berdering dan ternyata dari Sultan, Muti langsung mengangkat dan bertanya,
"Bagaimana Kak, Kak Sultan jadi ikut? Kenapa belum sampai? Elena sudah menunggu kita di parkiran," tanya Mutiara.
"Begini Mut, kalian berangkatlah duluan, aku akan menyusul, tapi share lokasinya ya, pasti aku datang," ucap Sultan.
__ADS_1
"Baiklah Kak, kalau begitu aku dan Elena berangkat dulu," ucap Muti.
Muti buru-buru mengambil tas dan sepatu sampai dia lupa mematikan ponselnya dan ternyata Sultan juga belum mematikan panggilannya karena Clara sudah menggelayut manja di leher Sultan.
Sambil mencium Sultan, Clara pun berkata, "Janji ya Kak! Jangan kemalaman lagi datangnya, kalau Kakak sampai telat, aku tidak akan beri kakak jatah nanti malam," ucap Clara sengaja, karena dia melihat ponsel Sultan masih hidup. Clara berharap Muti mendengar perkataannya.
Muti kaget saat mendengar suara manja dari seorang wanita di dalam ponselnya, lalu dia menatap ponsel tersebut dan ternyata, panggilan Sultan belum terputus.
Dia shok mendengar perkataan Clara yang tidak akan memberi jatah nanti malam. 'Berarti benar, Sultan memiliki wanita lain di luar sana," batin Muti.
Muti buru-buru mematikan ponselnya. Dia tidak sanggup, jika harus mendengar lagi suara manja tersebut. Hati muti sakit, jadi ini alasan Sultan tadi malam tidak meneruskan tugasnya dan kenapa selama ini tidak pernah memperlakukan Muti, layaknya seorang istri.
Muti menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan menangis, dia meluapkan perasaan kecewanya dengan menjerit di balik bantal yang menutupi wajahnya.
Elena yang sudah menunggu lama merasa heran, lalu dia putuskan untuk naik menjemput Muti juga Sultan.
Saat Elena mengetuk pintu dan memanggil namaya, Muti buru-buru bangkit, mengelap air mata dan berkata, "Masuk saja El, pintunya nggak di kunci," ucap Muti sambil menepuk-nepuk area bawah matanya dengan spons bedak untuk menyamarkan sembab karena habis menangis.
"Mbak muti habis nangis? Kenapa Mbak? Mbak Muti sakit?" tanya Elena.
"Nggak apa-apa El, tadi habis kelilipan," jawab Mutiara.
Elena tahu Muti berbohong, tapi dia tidak mungkin bertanya lagi, jika Mutiara sendiri tidak ingin menjelaskannya.
"Kita berangkat sekarang Mbak?" tanya Elena.
"Iya, ayo El." jawab Muti sembari mengambil tas dan sepatu yang tadi belum sempat dia pakai.
Saat Muti hampir selesai memakai sepatunya, Elenapun bertanya, "Tuan Sultannya mana Mbak? bukankah Tuan berjanji akan ikut?"
"Nanti Kak Sultan nyusul kok El, ayo kita berangkat," ajak Mutia.
__ADS_1
Muti mengunci pintu, lalu menuruni anak tangga. Karena pikirannya masih kacau, diapun terpeleset dan hampir terjatuh. Untung saja Elena sempat menarik lengannya. Jika tidak, pasti Muti cidera karena menggelinding ke bawah mengikuti uliran anak tangga.